Tidak Punya Hati

1309 Kata
Irene datang ke kelas Anna dengan langkah terburu-buru. Kali ini ia datang sendiri, tidak bersama kedua temannya. Ia membuka pintu dengan sedikit hentakan hingga membuat semua orang terkejut terutama Anna dan David. Tatapan tajam Irene mengarah pada Anna, dengan langkah pasti ia masuk dan berhenti tepat di depan Anna. Irene menatap Anna dari ujung rambut hingga ujung kakinya, ia tersenyum simpul seperti meremehkan. Tangan Irene terulur, ia menarik tangan Anna dengan kencang dan menariknya keluar dari kelas. Semua mata hanya tertuju pada Anna dan Irene. David berusaha menghentikan Irene tapi ia tidak bisa, Anna tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia bingung mengapa hal ini sampai terjadi, Anna merasa ia tidak pernah melakukan suatu kesalahan. Irene menarik tangan Anna dan membawanya menuju koridor dimana semua orang tengah berkumpul. Irene mendorong Anna hingga ia terjatuh di lantai. Anna meringis kesakitan ketika lututnya bertubrukan dengan lantai koridor yang kasar itu. Semua orang berkumpul untuk menyaksikan apa yang terjadi. Anna bahkan tidak tau dimana letak kesalahannya hingga tiba-tiba Irene berbuat seperti ini padanya. David datang dan langsung membantu Anna untuk berdiri. Ia berniat untuk membawa Anna keluar dari orang-orang yang menatapnya penuh rasa kasihan itu tapi Irene menghentikannya. "Pergi dari sini!" Irene menatap David dengan tatapan tajam. David tidak bergeming, ia tetap memegang tangan Anna dan enggan untuk melepaskannya. "Cepat pergi dari sini!!" teriak Irene. Anna menoleh menatap David, ia tersenyum. "Tak apa. Kau tidak usah mengkhawatirkan aku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Pergilah, jangan sampai kau terlibat masalah hanya karena ingin menyelamatkan aku," ucap Anna pada David. David menurut, ia perlahan mundur dan meninggalkan Anna yang hanya bisa diam berdiri diantara orang-orang yang menatapnya dengan tatapan kasihan dan penuh amarah. "Lihat, lihat gadis ini. Dia adalah gadis penggoda!! Kalian tidak lihat apa yang tadi pagi terjadi?? Setelah menggoda Vincent kini kau beralih menggoda Leo?" Irene menatap Anna dengan tatapan jijik. Anna bingung dengan apa yang Irene katakan. Mengapa tiba-tiba ia mempermalukannya di depan umum seperti ini? Apakah ia telah melakukan kesalahan? Tapi kesalahan apa yang telah ia lakukan? "Apa maksudmu?" Anna memberanikan diri untuk membuka suara, ia balik menatap Irene. Irene tersenyum sinis, "Kau tidak perlu berlagak seperti gadis baik-baik!! Aku tau siapa dirimu, kau adalah w*************a!!" "Jaga mulutmu!" balas Anna. Irene mendekat kearah Anna, "Kau tidak perlu bertingkah seperti orang yang baik dan terpelajar. Semua anak-anak black catcher bahkan anak-anak kampus tau bahwa kau adalah gadis buruk. Kau tidak usah mengelak, aku tau kau datang ke markas black catcher untuk memenuhi hasrat semua pria yang ada disana bukan?" Plak// Satu tamparan sukses mendarat di pipi tirus Irene dan tentu pelakunya adalah Anna. Semua terkejut dengan keberanian Anna sampai berani melayangkan sebuah tamparan, bahkan David juga tidak menyangka dengan apa yang Anna lakukan. Irene menoleh, ia menatap Anna. Ia tidak percaya dengan apa yang Anna lakukan padanya. "Jangan pikir aku diam karena takut padamu. Aku menunggu waktu yang tepat untuk memberi mu tamparan yang akan kau ingat selamanya. Jangan pikir karena statusmu di kampus ini jadi kau bisa berbuat seenakmu pada siapapun. Aku bahkan tidak pernah mengusikmu tapi kenapa kau tiba-tiba datang lalu mengusik diriku?" ujar Anna. Irene terdiam, ini pertama kalinya ia dipermalukan oleh seorang mahasiswa baru. "Berani sekali kau menyentuh pipiku dengan tanganmu itu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!!" Irene berniat maju untuk membalas Anna tapi Leo dan Vincent datang dan menghentikan Irene. Leo menarik Irene lalu Vincent berdiri tepat di depan Anna agar Irene tidak berani maju untuk melukai Anna. "Apa yang kau lakukan?? Apa kau sudah kehilangan akal?" Leo menatap Irene dengan tatapan tajam. Ia tidak menduga bahwa Irene akan berbuat sejauh ini. "Lepaskan aku!!!" Irene berusaha untuk melepaskan tangan Leo darinya. "Dia telah berani mempermalukan aku didepan semua orang! Kau pikir aku akan tinggal diam?" Emosi Irene benar-benar sudah ada di ubun-ubun. Ia tidak bisa menahannya lagi. "Lalu, apa kau kira apa yang telah kau lakukan padanya itu tidak mempermalukan dirinya di depan umum?" Leo balas membentak Irene. "Dia yang telah memancing emosiku! Dia berusaha mendekatimu, Leo!!" "Bukan dia yang berusaha mendekatiku tapi aku yang berusaha mendekatinya!" ujar Leo. Irene bungkam, ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang Leo katakan. Itu berarti Leo telah menyukai Anna. Irene mundur secara perlahan, ia melirik Anna sekilas lalu berlari menjauhi kerumunan. Ia tidak menerima apa yang telah Leo katakan. Vincent berbalik, ia menatap Anna yang hanya diam menunduk. Semua orang berbisik-bisik memaki dan menghina Anna. Tangan Vinceny terulur, ia menyentuh bahu Anna tapi Anna dengan sigap mundur. Anna menoleh kearah David, David sepertinya mengerti. Ia berjalan mendekati Anna lalu merangkulnya dan membawanya pergi. David membawa Anna menuju sudut koridor. Ia membantu Anna untuk duduk. Satu bulir bening jatuh membasahi pipi mulus Anna. Ia menunduk untuk menutupi tangisnya itu. Anna benar-benar sangat malu. Ia tidak menduga Irene memperlakukannya seperti itu. David berjongkok di depan Anna yang masih menunduk menahan tangis. Ia menggenggam kedua tangan Anna untuk memberinya kekuatan. "Tak apa, menangislah," ujar David dengan tenang. Anna mengangkat kepalanya lalu menatap David, "Aku benar-benar merasa sangat malu, Vid. Irene telah mempermalukan aku. Apa kau tidak mendengarnya? Semua orang berbisik-bisik lalu menghina diriku." Anna benar-benar tidak bisa membendung tangisnya. "Kesalahan apa yang telah aku lakukan, Vid. Ayo katakan!!" "Tenanglah, cobalah untuk tetap tenang. Ini bukan kesalahanmu, kau tidak salah dalam hal ini. Jangan pedulikan apa kata mereka, jangan dengarkan. Mereka berbicara tanpa berpikir." "Aku merasa sangat buruk," ujar Anna. Ia menghapus air matanya dari kedua pipinya yang mulus itu. "Cobalah untuk tidak mempedulikannya." "Aku benar-benar menyesal telah mengenal mereka berdua. Aku tentu tidak akan merasakan hal ini jika tidak mengenalnya." "Tidak ada yang bisa disesali. Biarkan semuanya berjalan sesuai arus air. Kau hanya perlu bersabar saja, mengerti?" Anna tersenyum simpul, David selalu mempunyai cara untuk membuatnya merasa jauh lebih baik. "Terimakasih," David menatap Anna dengan bingung, "Terimakasih untuk apa?" "Kau selalu ada untukku, bahkan pada saat semua orang mengejek diriku hanya kau yang ada disisiku." David tersenyum, ia menarik Anna dalam pelukannya untuk sekedar memberi kekuatan. "Kau adalah temanku, kau juga melakukan hal yang sama ketika semua orang mengejek diriku." Tidak ada yang Anna butuhkan selain teman. Dengan adanya David, ia bisa merasakan adanya kakak sekaligus sahabat. Hanya David yang bisa membuat Anna merasa jauh lebih tenang. *** Leo mencari Irene ke setiap ruangan kelas. Kali ini Leo tidak akan membiarkan Irene. "Dimana gadis itu?" batin Leo. "Kau mencariku?" Irene muncul dari balik pintu. Ia berjalan mendekati Leo. "Untuk apa? Untuk mempermalukan aku sama seperti yang dilakukan putri James itu?" "Kau pikir apa yang telah kau lakukan itu benar?" Leo menatap Irene dengan tatapan tidak percaya. Baru kali ini ia merasa sangat kesal dengan tingkah Irene. "Iya, apa yang ku lakukan itu benar! Kenapa? kau tidak menerimanya? Silakan!!" balas Irene dengan setengah berteriak. "Ku rasa kau telah kehingan akal!" "Iya!! Aku telah kehilangan akal karena mencintaimu!!" Irene terisak. "Kau tidak mengerti seperti apa perasaanku padamu Leo! Kau sama sekali tidak mengerti!! Aku mencintaimu, dan itu telah berlangsung lama, tapi kau tidak pernah membalas cintaku!!" "Aku tidak pernah punya perasaan apapun padamu! Aku hanya menganggap dirimu sebagai temanku, hanya sebagai rekan." "Tapi aku mencintaimu!! Aku sangat mencintaimu! Mengapa kau tidak membuka hatimu untukku?" Leo diam, ia sama sekali tidak bisa menjawabnya. Leo tidak pernah bisa merasakan cinta. Leo tidak mengerti apa itu cinta dan ia tidak peduli. "Bagaimana bisa aku membuka hati untukmu sedangkan aku sama sekali tidak mempunyai hati. Lupakan cintamu itu, karena kau tidak akan pernah mendapatkan apapun dari rasa itu!" Leo berbalik, ia melangkah keluar meninggalkan Irene yang masih terisak. "Dan satu hal lagi." Leo berhenti diambang pintu, ia menoleh. "Jangan libatkan Anna, gadis itu adalah gadis payah. Dia tidak tau apapun," sambungnya. "Rasanya sangat menyakitkan!" Irene menepuk dadanya, rasanya sangat perih. Rasa kecewa yang ia rasakan benar-benar sangat menyakitkan. Ia tidak menduga Leo akan mengatakan itu. Bagaimana bisa ia menerima semuanya? Bagaimana bisa ia mencoba untuk ikhlas? Irene terduduk lemas, ia masih terisak meratapi cintanya yang tak terbalas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN