Malam itu, Aluna diam di kamarnya. Sunyi, sepi, tak ada suara selain detak jam dinding yang terasa memecah kesunyian. Aku kapan sembuh, ya? batin Aluna pilu. Aku nggak mau jadi beban dan nggak berguna kayak gini. Gelombang pertanyaan menyergapnya. Apa aku punya keluarga? Apa aku punya teman? Kenapa mereka tak ada yang peduli padaku? Lalu, pertanyaan yang paling menyakitkan muncul. Kenapa aku dan Baskara tidak satu ranjang? Kenapa dia pisah kamar? Apa pernikahan kami sungguhan? Ia menutup matanya, berusaha mengusir sejuta pertanyaan yang membebani benaknya, dan tertidur dalam keheningan yang menyesakkan. Keesokan harinya, Aluna terbangun pagi hari. Ia sudah rapi dan tampak cantik berkat bantuan Santi. "Mas Baskara ke mana, ya? Kok nggak ada dari semalam?" tanya Aluna, menyadari k

