Siapa Dia?

891 Kata
Siang itu, Aluna tertidur di sofa. Dalam mimpinya, seorang laki-laki berbicara dengan suara lembut namun asing. “Aku akan nunggu kamu…” Aluna tersentak bangun. Jantungnya berdetak cepat. Suara siapa itu? Bukan Mas Baskara… pikirnya dalam kebingungan. “Kenapa?” suara Baskara menyusul, tenang namun penuh selidik. Rupanya sejak tadi ia duduk di sofa, memperhatikan wajah Aluna yang tertidur. Ya Tuhan… dia sudah pulang. Aku nggak mau mandi sama dia, Aluna memeluk dirinya dalam hati. “Nggak apa-apa, aku hanya—” Ucapannya terputus saat Baskara menyentuh dahinya. “Kenapa berkeringat begini? AC-nya kan nyala,” bisiknya, suaranya merayu namun membuat Aluna justru makin gelisah. “Aku… aku mimpi tadi,” ujar Aluna. “Mimpi apa? Mimpi bertemu denganku?” tanya Baskara, terdengar seperti sedang menguji. “A-aku nggak tahu wajah Mas seperti apa. Aku bahkan nggak tahu nama Mas siapa…” “Baskara Mahendra. Itu namaku,” jawab Baskara sambil menatap Aluna lembut. “Bagus namanya,” gumam Aluna sambil tersenyum kecil. “Kamu suka?” Aluna mengangguk pelan. “Sudah sore. Mau mandi?” tanya Baskara. “S… sama Santi saja, Mas.” “Kenapa? Biar aku saja.” “Aku… nggak nyaman.” Baskara mendecak pelan. “Aku suami kamu, Aluna. Berapa kali aku harus bilang?” Nada suaranya naik. Aluna tersentak, bahunya turun, ketakutan merayapi tubuhnya. Apa benar dia suamiku? Kenapa aku merasa asing sekali…? “Ayo, sayang,” ucap Baskara, nada kembali lembut, seperti menutupi ledakan sebelumnya. “T… tapi…” “Kenapa?” Nada kesal kembali terasa. “Aku nggak tau… tapi aku… aku nggak nyaman di area… kewanitaan. Aku nggak tau namanya apa…” Aluna gelisah, bingung dengan tubuhnya sendiri. Baskara menarik napas panjang. “Nggak apa-apa. Aku yang gantikan.” “Tapi aku nggak nyaman, Mas… Masa Mas yang lakukan? Biar Santi saja, ya…” Tatapan Baskara langsung berubah dingin. Menyengat. “Ya sudah.” Ia pergi begitu saja, langkahnya berat dan kesal. Aluna akhirnya bisa bernapas lega setelah suara pintu tertutup. Tak lama kemudian, Santi masuk untuk memandikan Aluna. “Barusan Tuan marah, Bu… Dia kenapa?” tanya Santi sambil menggosok sabun ke tubuh Aluna dengan hati-hati. “Aku nggak mau dimandikan sama dia. Tapi dia maksa. Aku bilang aku lagi ada… sesuatu. Ini apa namanya sih?” “Ibu lagi haid,” jawab Santi pelan. “Oh… iya.” Aluna mengangguk, baru mengerti. Setelah mandi, Aluna mengenakan dress santai. “Ini bajunya nggak ada lengannya?” tanya Aluna heran. “Iya, Bu.” “Dingin. Nggak ada yang lain?” “Semua baju Ibu seksi… nggak ada yang tertutup,” ucap Santi jujur. “Kalau kaos suami saya? Ada?” “Baju-baju Tuan… di kamar beliau.” “Kamar… nya? Kenapa?” Aluna mengerutkan kening. Santi langsung menepuk jidat. Aduh, keceplosan… “Kenapa, Santi?” tanya Aluna. “Baju Ibu penuh, jadi baju Tuan di kamar sebelah,” jawabnya gugup. “Kita… nggak sekamar dulu?” Santi menggigit bibir, makin salah tingkah. Apa pun penjelasannya, terputus karena— “Ada apa ini?” suara Baskara muncul tiba-tiba. Ia masuk, menatap Santi hingga Santi langsung minggat. “Aku nggak suka baju ini,” ucap Aluna. “Loh, ini kan bajumu,” kata Baskara. “Ini nggak ada lengannya, Mas. Cuma tali gini. Aku mau daster aja… nggak enak.” Baskara mendesah, tapi ia membuka lemari Aluna dan mengambil cardigan. “Nih. Sudah hangat, kan?” ujarnya sambil memakaikan cardigan itu dengan lembut. Aluna mengangguk. Baskara menyuruh Aluna duduk. Ia mengambil sisir, merapikan rambut Aluna perlahan, lalu mengepangnya. “Udah… cantik sekali istri aku,” ucapnya sambil mengecup tangan Aluna. Aluna tersenyum kecil. Ia meraba wajah Baskara yang jongkok di hadapannya. “Wajah kamu halus, ya, Mas? Hidung kamu mancung… terus ada kumisnya dikit…” Baskara tersenyum dan mencium tangan Aluna lagi. “Kita ke taman, yuk,” ajaknya. Aluna mengangguk. Mereka berjalan ke taman kecil di belakang rumah. Ada kolam ikan dan kolam renang. Suara pancuran air membuat hati Aluna sedikit tenang. Baskara kembali menyuapinya dengan sabar. “Tadi ngapain aja di rumah?” tanya Baskara. “Aku dengerin film.” Baskara menunduk. Ada sesuatu yang menusuk dadanya—Aluna begitu mencintai film, tapi kini ia hanya bisa mendengar. “Kok diem, Mas?” tanya Aluna polos. “Nggak apa-apa. Ini makan lagi.” “Mas pulang cepat tadi?” “Iya, agak santai hari ini.” “Kamu kerja semangat ya, Mas…” ucap Aluna manis. Baskara terdiam cukup lama. Tatapannya berubah lembut, tapi kosong—seolah memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Apa benar ini Aluna yang dulu? Kenapa rasanya beda sekali…? “Kok nggak jawab? Aku semangatin, loh…” Aluna tertawa tipis. “Aku tuh lagi mandangin kamu. Cantik sekali, sayang.” “Eh kok ke sana? Aku lagi semangatin Mas… Oh iya, Mas, kita beda berapa tahun?” “Aku 30. Kamu 23.” “Wah jauh ya… Kok kita bisa ketemu? Gimana ceritanya?” Mata Baskara langsung berubah datar. “Makanannya habis. Aku ambil buah,” ucapnya dingin. Ia pergi meninggalkan Aluna yang kebingungan. Ia kembali membawa air minum dan buah, lalu menyuapi Aluna tanpa bicara sepatah kata pun. Hening, tapi terasa berat. Menjelang malam, mereka masuk dan menonton TV bersama. Semuanya tampak normal… tapi Aluna merasa ada yang tidak sejalan dengan hatinya. Seperti hidup bersama seseorang yang mengaku mencintainya, tapi tidak ia kenali sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN