[Dia sedang datang bulan]
Reza mengirimkan pesan sebelum melajukan mobilnya. Setelah pesan itu terkirim, disimpannya ponsel itu lalu menancap gas dan melajukan mobilnya. Baru saja keluar dari gerbang rumah, ponsel itu terus berdering. Sepertinya pesan yang dia kirim langsung diterima dan dibaca oleh si penerima. Namun, Reza membiarkannya. Menjawab telepon di waktu yang tidak tepat bisa membuatnya celaka, karena ia tahu seseorang yang menelpon itu akan memarahinya.
Mobil melenggang membelah jalanan. Hanya butuh sepuluh menit mobil sampai di parkiran kantor perusahaan Adhyaksa, ini karena Reza menggunakan jalur pribadi yang sengaja dibangun oleh Adhyaksa dulu untuk menghindari kemacetan. Tepat pukul tujuh ia keluar dari mobilnya dan segera memasuki kantor menuju ruangannya.
Ponsel Reza terus berdering tak henti-hentinya dari sejak tadi, beberapa pesan juga masuk. Ia pun menjawab panggilan masuk setelah sebelumnya mendudukkan diri ke atas kursi.
"Bodoh!" Umpatan itu yang terdengar di telinganya begitu ikon telepon genggam berwarna hijau digulir.
"Seharusnya kamu cari tahu sebelum menikahi dia! Bisa-bisanya tidak tahu kapan dia datang bulan!" sambung seseorang seberang telepon.
"Aku laki-laki mana tau yang seperti itu! Seharusnya kamu ingatkan aku!" Rahang Reza mengeras tak menerima akan umpatan wanita yang terus mendesaknya.
"Ah, sekarang kamu berani melawanku?" tantang wanita itu dari seberang telepon.
"T-tidak, bukan gitu. Maafkan aku. Sekarang aku harus gimana?" tanya Reza kebingungan.
"Cari wanita lain!" Titah itu keluar dengan mudahnya.
"Apa?! Yang benar saja!" Reza dibuat kesal, memangnya dengan mencari wanita lain semua akan berjalan seperti yang diinginkan?
"Kenapa?!" Tak kalah kesal, wanita yang menelpon Reza itu terus membentak.
"Dengar, Sayang. Bersabarlah sedikit, aku baru menikah dengan Arumi satu minggu. Apa kata orang jika aku menikah lagi?"
"Suruh siapa nikah mewah-mewahan! Ya sudah, aku akan menunggu usaha kalian. Dua bulan lagi aku pulang!"
"Iya, kamu tenang aja. Sebaiknya nikmati saja liburanmu!"
Panggilan ditutup secara sepihak. Pagi ini suasana hati Reza sudah berantakan padahal banyak jadwal meeting yang harus dihadiri karena cuti kemarin. Namun, tentu saja Reza tak boleh menyerah hanya karena dia. Ia harus ekstra sabar, menata hati kembali demi sebuah tujuan.
Huft, aku harus sabar. Demi semua tujuan dan keinginan!
Seseorang mengetuk pintu dan Langsung masuk. Tak lain ia adalah Doni yang merupakan sekertaris Reza. Dengan penuh rasa hormat Doni menundukkan kepalanya di hadapan tuannya.
"Bagaimana sudah kamu susun jadwal untuk hari ini?" tanya Reza tanpa basa-basi.
"Sudah, Pak."
"Berapa banyak lagi waktu untuk meeting pertama?"
"Lima belas menit, Pak."
"Bagaimana persiapannya?"
"Semua sudah siap, Pak."
"Kembali lima menit sebelum meeting!"
"Baik, Pak."
"Sebelumnya, tolong buatkan saya kopi!"
Doni segera menuju pantry dan membuatkan kopi kesukaan tuannya. Ia sudah hafal betul apa yang disukai tuannya ini sehingga tak perlu lagi bertanya. Kemudian ia kembali dengan nampan berisi secangkir kopi hitam dengan sedikit gula kesukaan Reza.
Setelah sepuluh menit berlalu Doni kembali seperti apa yang diminta Reza tadi. Tangannya membawa beberapa berkas serta keperluan untuk rapat nanti. Setelah semua siap keduanya segera menuju ruang meeting untuk meeting pertama.
Reza mempercepat rapatnya, untuk sementara ia hanya menyampaikan poin-poin penting kemudian segera mengakhirinya. Kemudian mereka melanjutkan meeting kedua yang akan diadakan di luar kantor. Doni mengambil alih kemudi, selama urusan kantor Reza akan memberikan kunci mobilnya pada sekretarisnya sehingga ia hanya perlu duduk menunggu sampai tujuan.
Seperti sebelumnya, rapat kedua pun dilakukan dengan singkat. Juga semua Reza selesaikan akan tetapi berlangsung dengan secepat-cepatnya. Pikirannya sedang cukup kacau, sehingga Reza tidak bisa mengikuti rapat seperti biasanya.
***
Sudah banyak pesan yang terkirim, beberapa panggilan pun ia lakukan tapi tak ada jawaban. Arumi semakin gelisah saat melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Reza tak kunjung pulang. Seharusnya ia datang sejak sore tadi, tapi mungkin pria itu sibuk atau marah padanya.
Arumi kembali ke meja makan. Diambilnya semua makanan untuk kembali dihangatkan. Sore tadi setelah asisten rumah tangganya pulang ia segera memasakkan makanan untuk Reza. Inah bilang, Reza biasa pulang jam lima sore. Makanan sudah siap, bahkan ia sendiri sudah mandi dan sedikit bersolek tapi Reza masih belum pulang.
Arumi kembali menata makanannya dengan piring baru agar terlihat bersih. Ia kembali menyajikan di atas meja. Setelah semua siap, Arumi mencuci piring bekas makanan sebelum dihangatkan. Banyak hal yang Arumi lakukan agar tidak bosan diam menunggu saja, tapi tampaknya tak kunjung ada tanda-tanda kedatangan suaminya itu.
Ia kembali duduk setelah semua disiapkan. Kini jam di dinding menunjukkan pukul delapan, tapi masih saja tak ada tanda-tanda Reza datang. Rumah besar itu terasa sepi, amat sangat sepi karena hanya ada ia sendiri. Terlebih lagi karena kejadian tadi, hati Arumi turut sepi sebab Reza mungkin masih belum memaafkan.
Jika sebab marahnya itu karena hal lain mungkin Arumi akan lebih benar-benar menyalahkan diri. Namun ini, karena sesuatu hal yang dirinya sendiri tak tahu harus bagaimana dan berbuat apa, karena semua itu di luar kuasnya.
Bayangannya kembali melayang pada kejadian tadi pagi saat ia melihat betapa marahnya Reza. Padahal maaf sudah ia lakukan, tapi sepertinya suaminya itu benar-benar kecewa. Arumi tahu betul bagaimana marahnya Reza saat kecewa. Jadi, tak heran jika Reza malam ini tak pulang. Akan tetapi, tetap saja apa hal itu harus dilakukan di minggu pertama pernikahannya?
Benar bukan? Tak ada yang bisa mempercepat kehamilan sekalipun seorang dokter kandungan. Semua hanya dilakukan dengan sebuah usaha yang mana hasilnya ditunggu dengan doa yang semoga segera dikabulkan. Bahkan banyak di luar sana bertahun-tahun tak diberi momongan.
Arumi menarik napas perlahan. Selagi menunggu, wanita itu mencari informasi dengan membaca-baca artikel melalui laman web. Tentang promil, dan kapan kehamilan bisa terjadi. Ia juga mencari tips-tips agar cepat hamil. Makanan apa yang menyuburkan serta semua hal yang berkaitan dengan kehamilan juga program hamil.
Sesekali Arumi kembali mengecek pesan, mana tahu ada pesan masuk dari suaminya memberi kabar. Atau hanya sekedar mengatakan akan pulang malam tak apa, karena menunggu rasanya menyesakkan. Ya, paling tidak jika memang Reza sibuk seharusnya ia mengabari sedang apa dan di mana. Jika begini, Arumi merasa suaminya itu mungkin masih marah padanya.
Rass lelah menghampiri, membuat Arumi sedikit mengantuk. Namun, Arumi tak ingin jika harus pergi tidur sebelum suaminya datang. Ia pun merentangkan tangan kanannya di atas meja, lalu ia menidurkan kepala di atasnya. Matanya terpejam, tanpa sadar ia pun terlelap.