Langkah Sivia cepat. Tumit sepatunya menghantam trotoar dengan ritme tak beraturan, seirama dengan degup jantung dan amarah yang menggelegak dalam d**a. Ia sudah cukup sabar. Sudah cukup memberi waktu. Tapi ternyata sia-sia. “Vivi!” suara Yudha menyusul dari belakang. “Sivia, tunggu. Kita belum selesai ngomong.” Sivia tak menoleh. Ia justru mempercepat langkah, berusaha menjauh. Tapi langkah Yudha lebih panjang. Dalam beberapa detik, ia sudah berhasil menyusul dan berdiri di depan Sivia, menghalangi jalannya. Sivia mendongak, matanya membakar. “Minggir.” “Kita belum selesai!” suara Yudha sedikit meninggi. “Kamu enggak bisa gitu aja pergi setelah bilang hal segila itu.” Sivia mencengkeram tali tasnya. “Aku udah cukup, Yudha. Harusnya aku enggak kasih kamu kesempatan ngomong. Nggak ada

