Bab 131 : Pecah Ketuban

1539 Kata

Beberapa bulan kemudian. Pagi itu apartemen tenang, udara sejuk dari AC merayap pelan. Zeya dan Kenzo saling memeluk, tertawa kecil, lalu berakhir pada momen yang hangat dan penuh bisik. Kenzo sempat berucap bahwa menjelang waktu persalinan, keintiman bisa membantu tubuh lebih siap. Zeya mengangguk, menyambar lehernya, lalu dunia mereka mengecil pada napas dan detak yang saling mengejar. Selesai mandi air hangat, Zeya berdiri di depan cermin sambil mengikat rambut setengah. Kenzo keluar dari kamar dengan kemeja yang belum sempurna terkancing. Zeya hendak menggoda soal kancing itu, tetapi tubuhnya mendadak kaku. Ada rasa “pop” kecil dari dalam, kemudian hangat mengalir di sepanjang paha. “Kenzo,” ucap Zeya lirih, mata membesar. “Aku kayaknya pecah ketuban.” Kenzo menoleh, beku seperseki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN