Zeya mengedip satu mata. “Kepikiran banget malah. Aku bahkan sampai sekarang masih agak lemes. Kamu tuh enggak main-main, ya.” Kenzo duduk di hadapan Zeya, menyeruput tehnya. “Kamu juga enggak main-main tadi malam. Sumpah, kamu bikin aku hampir kehilangan kendali sejak detik pertama kamu remas bagian bawah aku pagi tadi.” Zeya menutup mulutnya sambil tertawa ngakak. “Ya ampun, itu cuma usil! Tapi mukamu waktu itu priceless banget.” “Ngakunya usil,” Kenzo melotot kecil, “tapi efeknya sampai aku lupa kalau itu pagi hari dan belum sarapan. Terus kamu malah ngajak... ya kamu tahu.” Zeya menyengir. “Tapi kamu nurut juga.” “Karena kamu ngelunjak pakai gaya centil kamu itu. Mana godain pakai suara manja kayak tadi malam.” Kenzo menyandarkan punggung ke kursi. “Aku sampai nyesel kenapa nggak

