Kenzo berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangannya setelah menyelesaikan visit terakhir. Jas putihnya sudah sedikit kusut, keringat dingin mulai terasa di pelipis. Tapi bukan karena lelah. Sejak tadi pikirannya tak bisa lepas dari momen pagi tadi, saat ia berpapasan dengan dokter Sivia di lorong. Langkah mereka sempat terhenti, dan benda kecil dalam genggaman Sivia terjatuh. Sebuah blister transparan, tak seperti obat biasa yang sering ia lihat digunakan di rumah sakit. Saat ia membungkuk dan hendak membantu, Sivia buru-buru mengambilnya lebih dulu. Tapi ia sempat menangkap label kecil di permukaannya. Misoprostol. Nama itu cukup untuk membangkitkan naluri medisnya. Itu bukan obat sembarangan. Misoprostol sering digunakan sebagai penggugur kandungan, apalagi dalam dosis terte

