CHAPTER 03

2245 Kata
Scent  Of  The  Devil CHAPTER 03     “Apa mereka tidak punya pakaian yang lebih layak?!”   Tangan Maara berusaha untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos walau rasanya hanya sia-sia. Oiryz memberikan Maara sebuah gaun yang hanya menutup bagian depan tubuhnya, selebihnya bagian punggung terlihat jelas sampai tepat di atas tulang ekornya. Maara tak memiliki pilihan lain, pakaian yang dia gunakan saat Tahvi membawanya itu telah raib entah ke mana.   “Kau sudah siap?” Suara Tahvi sungguh mengejutkan Maara, dia berbalik seketika berusaha untuk menutupi punggung telanjangnya. Meski sebenarnya Tahvi pun sudah melihat sejak tadi.   Pemuda itu sudah berdiri di ambang pintu kamar Maara sekitar lima menit yang lalu, saat dia akan masuk tak sengaja matanya melihat bagaimana Maara sedang menatap tubuhnya di depan cermin. Selain itu, Tahvi sungguh menikmati pemandangan tubuh ranum Maara. Kaum mereka akan menyebut tubuh Maara itu dengan ‘tubuh murni’, tubuh yang belum pernah dijamah oleh siapapun. Apalagi dengan aroma harum yang semerbak, jika Tahvi menuruti nafsunya dia sudah menerjang Maara dan membuat gadis itu mendesah sepanjang malam.   “Bo-bolehkah aku memakai pakaian yang lain?” Maara sungguh gugup di bawah tatapan Tahvi yang berkabut penuh gairah tertahan itu.   “Aku tidak yakin jika Oiryz atau pun Crenoa memiliki pakaian yang lebih layak dari ini, kau sudah melihat bagaimana mereka.”   Maara tak akan pernah melupakannya, pertama kali dia membuka mata yang dia lihat adalah tiga makhluk dengan pakaian serba terbuka yang tak bisa menutupi beberapa bagian tubuh paling sensitif .  Mereka berpakaian tapi jelas-jelas telanjang karena pakaian itu seolah-olah hanya tergantung di badan mereka begitu saja.   “Dan kau selalu menyukainya, Tuan Tahvi.” Entah dari mana Crenoa si rambut pirang itu muncul. Tangan lentiknya menyentuh tubuh Tahvi, lebih tepatnya menggerayanginya, Crenoa mendekatkan kepalanya di ceruk leher Tahvi dan menjilatnya.   “Ewh! Menjijikkan!” batin Maara seraya menutup matanya. “Bisakah kalian melakukannya di tempat lain?”   “Oh, Sayang ….” Secepat angin berhembus, Crenoa sudah berada di dekat Maara. Berdiri di belakang Maara dengan kepala yang begitu dekat. “Nanti kau pun akan terbiasa,” bisiknya di telinga Maara.   “Sudah-sudah, ayo Maara sudah saatnya kau bertemu dengan Tuan Mazen.” Tahvi menggulung nafsunya, dia harus menahannya atau hidupnya tak akan pernah selamat.   Merasa diselamatkan dari wanita berambut pirang yang selalu terlihat penuh gairah itu, Maara berjalan cepat ke arah Tahvi. Sesekali dia menoleh ke arah Crenoa yang tersenyum centil ke arahnya.   “Bagaimana dia bisa seharum itu?” gumam Crenoa, dan sesaat kemudian pria berkulit zaitun, Gideon, muncul di belakangnya sambil menciumi belakang lehernya berkali-kali.   “Kau juga sangat harum, apa yang kau gunakan kali ini?” tanya Gideon tak melepaskan bibirnya dari leher Crenoa.   Crenoa cukup menikmati sentuhan Gideon padanya, ia memejamkan matanya dan sebuah desahan perlahan keluar dari bibirnya yang terbuka. Namun, sesaat kemudian dia menjauh dari Gideon.   “Kita tidak bisa membuang waktu di sini, aku ingin lihat Tuan Mazen mengambil jantungnya.”   Gideon menghela nafasnya kecewa, gairahnya sudah memuncak tapi Crenoa lebih memilih untuk melihat bagaimana tuan mereka akan mengambil kembali jantungnya. Namun, Gideon pun tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Crenoa dan mereka pergi ke ruang makan untuk mengintip bagaimana pengambilan jantung itu dilakukan.   Sementara itu, di samping Tahvi yang berjalan cukup cepat itu, Maara masih berusaha untuk menutupi bagian belakang tubuhnya dengan tangan. Hawa dingin sudah menusuk kulitnya, dan dia sangat membenci bagaimana tubuhnya bereaksi dengan suhu udara yang cukup dingin. Maara juga merasa aneh, rumah yang megah ini mengapa rasanya begitu dingin. Apakah karena pakaiannya, atau memang suhu udara di rumah ini sangat dingin. Seolah-olah tak ada penghangat di rumah ini.   “Apa yang kau lakukan dengan membawanya ke mari, Tahvi?” suara berat ini mengusik Maara. Tubuhnya membatu seketika, bahkan keberaniannya pun ciut seketika, seolah-olah pemilik suara ini lebih menakutkan daripada malaikat maut yang sering ditantang oleh Maara.   “Tuan … Maara belum mengisi perutnya dengan makanan sejak dia sadar. Biarkan dia makan bersama dengan anda.”   Tangan Mazen terkepal di atas meja, dia baru saja akan memulai ritual makan malamnya, akan tetapi Tahvi tahu cara merusak suasana. Di sisi lain, Tahvi memiliki rencana yang lain di benaknya dan berharap apapun rencananya akan berjalan sesuai harapannya.   “Hogaz bisa membawa makanan ke kamarnya,” geram Mazen sambil berdiri, berjalan perlahan ke arah Tahvi dan Maara.   Di tempatnya, Maara benar-benar membatu bagaikan sebuah manekin yang rupawan. Dalam benaknya dia menghitung langkah Mazen, setiap kali lebih dekat maka jantungnya akan berdebar lebih cepat dari biasanya. Sampai, Maara bisa melihat sepasang sepatu di depan kakinya yang dia yakini adalah milik Mazen. Aneh sekali, berada di dekat Mazen membawa kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Seolah-olah, Mazen adalah sahabat lamanya, padahal melihat wajahnya saja belum.   “Setidaknya, jangan buat dia mati kedinginan, Tahvi.” Mazen memberikan mantelnya pada Maara lalu menatap Tahvi dengan tajam.   “Saya memang ceroboh, saya akan berikan dia pakaian yang lebih layak.” Tahvi mengerti ucapan Mazen. Mengekspos tubuh Maara sama halnya dengan membiarkan aroma wanginya itu menguar tanpa penghalang. Mungkin, semua iblis yang ada di sini masih bisa menahannya karena mereka adalah bawahan Mazen. Tapi bagaimana iblis yang ada di luar sana?   “Duduklah,” kata Mazen pada Maara. Namun, gadis itu sama sekali bergeming. Matanya hanya tertuju pada sepatu yang digunakan oleh Mazen sementara jantungnya berpacu luar biasa kencang.   Di sisi lain, Tahvi sangat heran melihat cara Mazen berbicara pada Maara. Suaranya begitu lembut, seolah-olah Mazen takut jika suaranya yang tegas mungkin akan menakuti Maara. Selama ratusan tahun, Mazen tak pernah menunjukkan sisi lembutnya kecuali pada mendiang ibunya dulu.   “Kenapa kau tidak bergerak, apa kau takut padaku?”   Tahvi lebih heran lagi sekarang, Mazen benar-benar tak ingin menakuti gadis ini. sungguh perubahan perilaku yang sangat aneh. Tak hanya Tahvi, tiga iblis lain yang sedang mengintip makan malam itu pun merasa heran. Mazen tak pernah menggunakan nada selembut itu untuk bicara pada seseorang apalagi memberikan pakaiannya pada orang lain.   “Maara ….” Mazen memanggil Maara dengan suara yang begitu merdu.   Perlahan-lahan Maara pun mendongakkan kepalanya, ada keraguan ketika matanya mulai mencari rupa dari sosok yang ada di hadapannya ini. Mata Maara pun terpaku pada keindahan mata Mazen yang serupa dengan emas itu, dan sedetik kemudian Maara menyadari sesuatu. Mazen sangat tak asing baginya, ingatan yang muncul tiba-tiba setelah dia tersadar itu termasuk sosok Mazen.   “Kau ….” Tanpa sadar Maara mundur ke belakang satu langkah, seolah-olah dia sedang mengantisipasi reaksi Mazen. “Aku mengingatmu!”   Mazen mengerutkan keningnya, begitu pula dengan Tahvi. Semua orang merasa bingung dengan ucapan Maara dan reaksinya setelah melihat wajah Mazen. Ada ketakutan tapi ada rasa ingin tahu yang sangat besar terpancar dari Mata Maara.   “Bagaimana ini mungkin? Aku melihatmu dalam ingatanku, kau datang saat usiaku tiga tahun, dan setiap tiga tahun setelahnya kau selalu datang, seolah kau menyelamatkanku dari bahaya.” Maara menjelaskannya dengan tubuh bergetar.   “Siapa kau? Apa … apa sebenarnya kau? Aku ….” Maara mulai meracau, ingatan demi ingatan berkelebat di dalam kepalanya. “Seharusnya aku sudah mati ‘kan? aku melompat dari mobil dan mati, tapi bagaimana bisa?”   Bug!   Tahvi memukul bagian belakang leher Maara hingga gadis itu tak sadarkan diri di pelukannya. Mazen segera mengambil alih tubuh Maara dari Tahvi, dia tahu jika Tahvi sedang berusaha keras untuk menahan hasratnya, dan Mazen tak ingin mengambil resiko.   “Panggil Hogaz ke kamarku!” suruh Mazen. * Gelisah, Mazen berjalan mondar-mandir di samping ranjang tempat Maara berbaring tak sadarkan diri. Di sisinya ada Hogaz yang berusaha untuk memeriksa keadaan Maara. Sesekali, Mazen berhenti sambil menatap ke arah Maara, mengapa pemeriksaannya begitu lama dan bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Maara mengingat semua kenangan dari masa lalunya, Mazen sangat yakin jika dia sudah menghapus ingatan buruk Maara di setiap tiga tahun sekali kedatangannya itu.   “Kenapa lama sekali, Hogaz?” Mazen akhirnya berhenti dan berjalan mendekati ranjangnya. Menatap Maara yang wajahnya cukup pucat walau sedang tak sakit, seperti orang yang kekurangan gizi saja. “Kau sudah tahu penyebabnya atau belum?” Mazen tak sabar lagi. semua pertanyaan yang menggelayuti pikirannya telah mendesak sebuah jawaban.   “Mengapa sihirku tak bekerja? Apakah karena kemampuanku pun mulai tidak berguna karena aku tak memiliki jantung?”   “Ssssshhh!” Hogaz meletakkan ujung jari telunjuknya ke bibir Mazen, memaksa tuannya untuk tak lagi membuka mulut dan mengganggu pekerjaannya. Hogaz menyentuh leher Maara dengan ujung telunjuknya yang lain, lalu jari itu pun berpindah ke kening Maara. Mata Hogaz kemudian terpejam, dan melihat sesuatu di dalam benaknya.   Hogaz memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan masa depan, bukan sesuatu yang pasti namun sebuah kemungkinan dari kejadian yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Selain itu, dia memiliki kemampuan pengobatan yang cukup hebat. Memang tak sering diperlukan, kaum iblis jarang sekali terluka karena mereka immortal, itu sebabnya tak banyak dari kaum mereka yang memiliki kemampuan pengobatan yang hebat seperti Hogaz.   Mata Hogaz terbuka secara tiba-tiba, ada selaput putih yang menutupi iris matanya yang berwarna merah. Hanya beberapa detik, matanya kembali normal dan dia menatap Mazen dengan seksama. Jelas sekali, Mazen menahan kesabarannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.   “Jantung milik anda sudah berhenti berdetak pada gadis ini setelah dia melompat dari mobil, anda membangkitkannya kembali, entah bagaimana itu membuat sihir yang anda gunakan untuk menghapus ingatannya pun rusak.”   Mazen menatap Hogaz sambil mendengarkan penjelasannya dengan berhati-hati sekali. “Jadi, itu karena sihir yang aku gunakan untuk membuatnya hidup lagi?”   Hogaz mengangguk pelan.   “Apakah aku bisa membuatnya tak mengingat apapun lagi? Jika dia mengingat semuanya, ini akan sangat merepotkan.” Mazen cukup panik dengan keadaan ini, selain dia tak ingin Maara mengingat dirinya karena kemungkinan itu akan memunculkan emosi di antara mereka, dia juga tak ingin ketahuan melanggar peraturan kaumnya.   “Dengan kondisi anda saat ini?” Hogaz memandangi Mazen. Pemuda yang tampan dan gagah itu begitu pucat, dari ujung kepala hingga kaki tampak seolah dia tak memiliki darah yang mengaliri tubuhnya. Menggunakan kemampuan mereka di saat seperti ini hanya akan membuat nyawanya terancam. “Jika anda ingin segera menuju ke neraka Lucifer, silahkan saja.”   Mazen menelan ludahnya dengan susah payah, neraka Lucifer merupakan sebuah mimpi buruk. Tidak. Neraka dari tujuh pangeran neraka adalah mimpi yang sangat buruk. Walau hanya sedetik, Mazen tidak akan pernah kesana. Memangnya siapa yang sudi?   “Baiklah, aku mengerti maksudmu.” Mazen menghela nafas, dia kehabisan akalnya.   “Mengapa anda tidak mengambil jantung anda kembali?’ Entah berapa juta kalinya Hogaz menanyakan pertanyaan ini sejak lima belas tahun yang lalu. Namun, Mazen sama sekali tak memberikannya jawaban yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya.   “Terimakasih, Hogaz. Kau boleh pergi.”   Seperti dugaannya, Mazen akan menghindari pertanyaan itu lagi seperti biasanya. Hogaz tak ingin mendebatnya lagi, dia pun beranjak pergi dari kamar ini sesuai dengan arahan dari Mazen.   Seperginya Hogaz dari kamar itu, tatapan mata Mazen tak pernah lepas dari sosok Maara. Sebuah senyuman terukir di wajah Mazen, tangannya terulur untuk menyentuh wajah pucat Maara. Sekian tahun dia berada di sisi Maara, menyaksikan bagaimana gadis itu tumbuh, melihat betapa kehidupan gadis cilik itu penuh tawa. Dan tawa itu entah bagaimana sedikit mengusik Mazen, dia merasa terhibur setiap kali mengawasi Maara dari jauh karena tawa itu. Mazen hanya tak ingin kehilangan hiburannya.   “Erghh,” Maara mengerang pelan. Matanya berkedip beberapa kali, ketika mulai melihat dengan jelas dia pun terbelalak. “KAU!” pekiknya.   “Ya, ini aku, kenapa kau begitu takut melihatku.”   “Apa dia serius menanyakan itu? apa dia sudah gila?” Maara membatin, matanya memicing tajam ke arah Mazen, seperti sedang memperingati Mazen agar tak menyentuhnya.   “Apa yang kau ingat tentang aku sebenarnya?” tanya Mazen berpura-pura bodoh.   “Semuanya,”   “Katakan …,” ujar Mazen, “Tidak, ceritakan saja detailnya.”   Maara masih menatap Mazen horor, bagaimana tidak, pria ini sejak dia bisa mengingat semua kenangannya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda penuaan. Tidak ada rambut yang memutih, tak ada kerutan di kening atau di sekitar matanya, wajahnya masih seperti pria berusia tiga puluh tahunan, dan tampan.   “Apa yang aku pikirkan sebenarnya! Tunggu … tampan?” Maara mengingat sesuatu, dia menabrak pria ini di lorong sekolahnya saat akan bertemu dengan Madam Vogh.   “Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu.”   “Semua orang mengatakan hal serupa, tapi nyatanya mereka yang menyiksa!”   “Dengar Maara, aku perlu tahu sampai di mana ingatanmu tentangku.”   “Dengan satu syarat.” Maara mencoba memanfaatkan situasinya saat ini, karena kelihatannya pria yang ada di depannya ini akan melakukan apapun asal Maara mau bercerita.   “Baiklah, apapun itu.”   Bingo! Ini dia, Maara tahu Mazen akan menyetujuinya dengan mudah sekali.   “Siapa sebenarnya kau?”   Mazen terkejut, dia menatap Maara dengan mata yang membulat dengan lebar. Mazen menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan Maara. Menimbang lagi apakah benar jika dia memberi tahu Maara kebenaranya. Atau mungkin saja Maara tak akan percaya dengan pengakuannya.   Bukankah manusia seringkali hanya mempercayai apa yang mereka ingin percayai saja? Mungkin Maara tak akan ada bedanya dengan manusia yang lain.   “Jika aku memberitahumu jati diriku yang sesungguhnya, apa kau akan mempercayainya?”   Alis Maara terangkat, “Kita lihat saja, apakah kau berbohong atau tidak.”   “Baiklah,”   “Jadi ….” Detik demi detik begitu sabar dilalui oleh Maara hanya karena rasa ingin tahunya yang begitu besar. mata emeraldnya membulat, menatap, menunggu Mazen untuk membuka bibir tipisnya yang kemerahan itu.   Mazen menghela nafasnya, membalas tatapan Maara dengan sungguh-sungguh. Berusaha meyakinkan gadis berwajah pucat penuh harap di depannya ini.   “Aku adalah Iblis.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN