Chapter 10

2191 Kata
Scent of The Devil Chapter 10     “Tidak!”   Mazen menolak dengan tegas, apakah itu bisa dikatakan menolak padahal Maara sama sekali tidak meminta sesuatu. Maara hanya mengatakan dia akan melindungi Mazen, hanya saja kalimat setelahnya yang mendorong Mazen untuk mengucapkan penolakan dengan tegas. Maara mengedipkan matanya terkesiap, tidak menyangka jika Mazen yang selalu bicara dengan lembut padanya bisa berbicara dengan volume yang keras.   “Kau mengejutkanku.” Maara mendengus kesal sembari membuka pintu mobil. Keduanya baru saja sampai di rumah Mazen yang super besar dan mewah itu. Bisa dikatakan itu merupakan sebuah mansion.   “Apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh Lokra padamu?”   “Jika kau peduli, kau tidak akan menolakku dengan keras begitu.” Maara terus berjalan dengan menghentakkan kakinya, tak peduli dengan Mazen yang berjalan dengan langkah lebar untuk menyusulnya.   Habis sudah sabar Mazen, dia tidak bisa membiarkan Lokra mempengaruhi isi kepala Maara dan membuatnya berpikir untuk melindunginya dengan pergi ke Dunia Bawah seperti yang dikatakannya sebelumnya. Mazen berdiri tepat di depan Maara, menghadang langkah gadis itu agar tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. Tangan besar Mazen merengkuh bahu kecil Maara, memaksa gadis itu untuk menatapnya.   “Aku harus tahu apa yang dikatakan oleh Lokra, beberapa hari ini kau diam dan saat bicara kau membicarakan sesuatu yang tidak masuk akal.”   Maara menyeringai, sebuah seringaian yang terlihat sedih. “Hidupku saja sudah tidak masuk akal, memangnya apa lagi yang dia harapkan?”   Melihat sorot mata Maara yang terluka itu perlahan-lahan Mazen melepaskan tangannya dari bahu Maara. Hatinya seperti ikut terluka melihat Maara, seolah-olah bisa luka yang dialami oleh Maara tersalur langsung padanya dan dia bisa merasakannya. “Aku tidak memiliki siapapun lagi. Terakhir kali aku memiliki seseorang, aku tidak bisa melindunginya. Apakah kau tidak bisa mengizinkanku untuk melindungi seseorang yang berharga untukku?”   Mata Mazen melebar, bahkan dalam mimpinya dia tidak akan pernah membayangkan seseorang mengatakan hal sentimentil seperti ini padanya. Apalagi dianggap berharga. Satu-satunya orang yang menganggapnya berharga hanyalah sang ibu yang mulai pudar bayangannya dalam benak Mazen. Tanpa sadar, Mazen menyentuh bagian tubuhnya yang seharusnya menjadi tempat jantungnya berada, seolah-olah dirinya sedang merasakan sebuah debaran yang tak biasa di sana.   “Tuan … Lokra hanya menunjukkan sebuah kebenaran padaku.” Maara menyadari kekhawatiran Mazen. Mengingat hubungan kakak adik itu tidak baik, rasanya sangat wajar jika Mazen sangat ingin tahu apa yang sudah dilakukan oleh Lokra, apa yang ditunjukkan Lokra. “Awal kelahiranmu dan bagaimana kau hidup, dan siapa dirimu sebenarnya … kau … kau bukan sepenuhnya Iblis.”   Pranggg   Sebuah nampan besi terjatuh mengejutkan Maara dan Mazen, keduanya sontak menoleh pada Hogaz yang berdiri mematung tak jauh dari mereka.Sementara itu nampan yang tadi terjatuh masih bergerak-gerak untuk sesaat hingga akhirnya benar-benar berhenti.   “Abaikan saja aku, kalian berdua lanjutkan pertengkaran kekasih itu. Aku enggan terlibat.”   “DIA BUKAN KEKASIHKU!” Maara dan Mazen berteriak secara bersamaan. Membuat tubuh Hogaz yang menunduk untuk mengambil nampan di lantai pun kembali mematung. Pria paruh baya itu menghela nafasnya, menyesali diri karena tidak sengaja harus melewati ruang tamu. Siapa yang menyangka jika Mazen dan Maara akan berdebat di ruang tamu, terlebih lagi Hogaz tanpa sengaja mendengar jika Maara mengetahui jati diri Mazen yang sejati.   “Baiklah … aku pergi, silakan lanjutkan.” Diam-diam Hogaz berjalan pergi, meninggalkan dua insan yang saling memunggungi seperti anak kecil yang sedang bertengkar.   Hening ….   Tidak ada satu pun di antara Mazen atau pun Maara yang bersuara, hanya deru nafas mereka saling bersahut-sahutan. Sementara pikiran mereka berkutat dengan emosi masing-masing. Maara bersikeras untuk melindungi Mazen dengan masuk ke Dunia Bawah, di sisi lain Mazen masih bingung bagaimana dirinya harus mencerna informasi yang dia dapatkan dari Maara. Pria itu berusaha menggabungkan kepingan-kepingan puzzle dari apa yang terjadi dan dari apa yang dikatakan oleh Maara.   Kepingan-kepingan itu coba disatukan oleh Mazen, pertama Lokra membawa Maara ke Dunia Bawah, lalu gadis itu kembali dalam keadaan tidak sadar karena tubuh manusianya tidak bisa beradaptasi dengan keadaan di Dunia Bawah. Kedua, Maara mendadak terdiam selama beberapa hari, saat akhirnya gadis itu membuka mulutnya hanya hal tidak masuk akal yang didengar oleh Mazen. Hanya saja ada yang aneh, jika Lokra menunjukkan kebenaran hingga membawa Maara sampai ke Dunia Bawah, seharusnya Maara mengetahui jika Mazen adalah Iblis yang meminjamkan jantung padanya, tapi kenapa Maara terlihat seperti seseorang yang tidak mengetahuinya?   “Tunggu ….” Mazen mulai memahami apa yang terjadi di Dunia Bawah. Lokra tidak membawa Maara pergi ke Sungai Ingatan, ia hanya menunjukkan apa yang ingin ditunjukkan pada Maara. “Sialan!”   “Maara.” Mazen memanggil gadis itu seraya membalikkan tubuhnya. Sesaat kemudian Maara pun membalikkan punggungnya dan melihat Mazen dengan seksama. “Maafkan aku, tidak seharusnya aku bersikap keras padamu,” ungkap Mazen. “Namun, aku tidak suka jika kau berurusan dengan Lokra.”   Kepala Maara mengangguk patuh.   “Aku ingin tahu … keseluruhan yang Lokra beritahu padamu.”   Maara terdiam untuk sesaat, lalu dia pun menangguk dan mulai bercerita pada Mazen apa yang telah dia saksikan saat berada di Dunia Bawah. Awal ceritanya memang mirip dengan jalan hidup Mazen yang lahir dari rahim seorang wanita, kemudian kehidupan awalnya sebagai manusia hingga berusia sekitar enam tahun dirinya dibawa ke Dunia Bawah oleh ayahnya. Kehidupannya di Dunia Bawah tidak jauh lebih baik, dia banyak dihina oleh kaum incubus lainnya, lalu bagaimana ibunya meninggal di tangan Iblis tepat di depan matanya dan Mazen tidak bisa melindunginya. Selanjutnya Maara menceritakan bagaimana Mazen tidak sengaja mengetahui perjanjian Iblis dengan ibu Maara, karena Mazen yang merasa iba dengan Maara dia pun berusaha menjaga Maara dari para Iblis dan Iblis pemilik jantung Maara selama Maara hidup. Lokra kemudian menunjukkan pada Maara, demi untuk melindunginya Mazen harus merelakan jantungnya diambil oleh Iblis, hal itu membuatnya tidak bisa hidup lebih lama dan kekuatannya akan semakin lemah.   Mazen tak bisa menahan ekspresinya untuk tidak terkejut setelah mendengar penuturan Maara. Tidak menyangka jika Lokra bisa memanipulasi jejak ingatan waktu dan membuat cerita yang sangat hebat sampai-sampai Mazen meneteskan air matanya.   “Aku ingin pergi menemui Iblis itu supaya dia mengembalikan jantung itu padamu.”   Mazen menatap Maara lekat-lekat, gadis di depannya itu begitu naif. Pantas saja dunia begitu kejam padanya sejak dirinya dilahirkan. Tangan Mazen terulur menyentuh puncak kepala gadis itu dengan lembut.   “Rupanya kau sudah dewasa … apa kau sangat mengkhawatirkanku?”   Maara mengangguk lemah dengan wajah yang tersipu. “Selama ini kau sudah melakukan banyak hal untukku, biarkan aku melakukan sesuatu untukmu.”   Sebuah helaan nafas keluar dari hidung Mazen, kemudian dia tersenyum manis. “Jika kau ingin melakukan sesuatu, bagaimana jika dengan hasil ujian yang baik?”   “Ta-tapi?”   “Maara … aku ini setengah Iblis, memang benar kekuatanku akan melemah. Tapi aku tidak akan mati. Tidak perlu mencemaskanku, kau … tugasmu belajar dengan rajin dan lulus dengan nilai yang baik. Kalau kau ingin melihat Dunia Bawah, aku bisa mengajakmu.”   Tampaknya percuma saja mendebat Mazen lebih jauh lagi, Maara memilih untuk tidak membahas tentang jantung lagi. Mazen pasti tahu apa yang dia perbuat.   “Aku tidak perlu mencemaskan nilaiku.”   “Benarkah?”   Maara mengangguk dengan cepat. “Tentu saja! Aku masuk dengan beasiswa,” gadis itu berujar sombong dan senyum yang merekah lebar.   “Kurasa kau melupakan jika aku adalah pemilik sekolah itu.”   “Tunggu … jangan katakan, oh tidak! Jadi, kau, kau, maksudku aku sekolah di tempat itu bukan kebetulan karena beasiswa? Tapi ….”   Mazen mengangguk dengan senyum penuh kebanggaan karena bisa memamerkan kekuasannya di dunia manusia. “Dasar kau gadis kecil yang bodohh!” Mazen menyentil kening Maara dengan lembut.   “Lantas mengapa aku sempat dikeluarkan oleh Madam Vogh jika kau yang mengatur semuanya?” ada nada kecewa dalam suara Maara.   “Oh … itu, bukankah karena kau memiliki catatan kenakalan?”   “Ca-catatan kenakalan? Hah! Itu pasti akal-akalan Madam Vogh saja.”   “Ohhh, bukan karena kau sering tertidur di kelas?” Mazen menggoda Maara dengan seringaian menahan tawa melihat raut bingung Maara.   “Tidak! Tunggu … kau menguntitku ya?”   Mazen berjalan menjauh dari Maara. “Biasanya kau suka memukul wajah anak-anak orang kaya itu juga.”   “Hey! Kau menguntitku ya, Pak Tua?!” Maara baru saja menyadari jika Mazen telah berjalan menjauh untuk menghindarinya. Dia pun bergegas untuk mengejarnya. “Pak Tua! Apa kau menguntitku selama ini?!”   Terdengar gelak tawa dari tempat Mazen berada, sementara di tempatnya wajah Maara merah padam menahan rasa malu. “Saat aku tidur apakah ada liur yang keluar, pasti tidak … aku tidur dengan rapi.” Maara bergumam dalam hatinya meratapi nasibnya karena Mazen mengetahui kebiasaannya. “Tapi aku tidak memukul mereka tanpa alasan!” Maara berjalan dengan cepat, tapi dia tidak bisa mengejar Mazen yang terlampau cepat.   “Tidak, maksudku … jika selama ini dia selalu menguntitku pasti dia tahu alasan yang sebenarnya. Mengapa dia biarkan aku menderita?”   “Itu karena manusia-manusia itu bukan ancaman yang besar,” bisik Mazen tepat di telinga Maara. Sesaat kemudian pria itu kembali berdiri tepat di depan Maara, menjulang cukup tinggi hingga Maara terpaksa mendongakkan kepalanya. Mendadak sebuah tangan besar melingkar di pinggang Maara dan menariknya lebih dekat—menempel—pada tubuh Mazen.   Hawa dingin dari hembusan nafas Mazen menyapu wajah rupawan Maara, sama seperti Incubus sejati Mazen pun harus menahan godaan akibat aroma tubuh Maara yang sangat menggiurkan, bayangannya menjadi liar saat Maara berada begitu dekat dengannya. Mazen ingin menghirup semua aroma itu untuk dirinya, menghirup tiap senti tubuh Maara dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa menyisakannya. Ingin merasakan bagaimana ujung jarinya menyentuh kulit mulus Maara, bagaimana bibirnya merasakan tiap jengkal keindahan tubuh murni Maara yang sama sekali belum terjamah.   Bibir itu kini berada setengah senti jaraknya di depan bibir Maara, menuntut ingin segera meraup semua madunya.   Suara debaran jantung begitu kencang membuat Mazen tiba-tiba memundurkan kepalanya dan membebaskan pinggang Maara dari lengannya yang kokoh. Nafas pria itu pun tak beraturan seperti debaran jantung Maara, matanya berkabut penuh gairah yang membara.   “Maaf.” Buru-buru Mazen memalingkan wajahnya, menjauhkan indra penciumannya dari aroma memabukkan tubuh Maara.   Gadis itu menatap bingung, tubuhnya mematung karena debaran jantungnya yang tidak karu-karuan itu tak juga mereda hingga rasanya menyakitkan. Ingatannya kembali saat pertama kali dia dibawa oleh Tahvi dan tiba-tiba saja Tahvi mengendus-endus lehernya. Lalu perlakuan Gideon yang hampir serupa, kini Mazen tiba-tiba berdiri begitu dekat, sangat dekat, hingga jika dia bergerak sedikit saja maka bibir itu akan menyentuh salah satu bagian wajahnya.   “Apakah manusia begitu menggoda untuk kalian?” tanya Maara yang masih berjuang untuk menata debaran jantungnya. Seketika itu Mazen menoleh, rasanya percuma dia berpaling untuk menjauhkan hidungnya dari aroma yang memabukkan ini, aroma tubuh Maara telah mengisi seluruh ruangan di rumah ini. ke mana pun pergi, dia akan selalu menemukan aroma tubuh Maara.   “Tidak seperti dirimu.” Mazen begitu jujur. “Kau adalah satu-satunya manusia yang memiliki aroma memikat seperti ini.”   “Apakah karena jantung ini?” Maara menyentuh tubuh bagian depannya, masih merasakan jantungnya yang berdegup dengan kencang.   “Tidak tahu, apakah jantung itu penyebabnya atau hal lain. Yang pasti, aroma tubuhmu dapat menarik Iblis untuk mendekat.”   “Pasti sangat berat bagi kalian untuk hidup bersamaku,” ujarnya dengan pelan. Maara mengatakannya karena selain dengan Mazen, Tahvi, dan Hogaz, dia hampir tidak lagi berinteraksi dengan tiga iblis yang lainnya, yaitu Crenoa, Oiryz, dan juga Gideon. Kini Maara tahu penyebabnya mengapa. “Iblis sialan itu bahkan membuatku menjadi seseorang yang dapat memikat Iblis hanya dengan aroma tubuh.”   Mazen menelan ludahnya susah payah. “Ya, dia memang Iblis sialan.”   “Ah, aku tidak ingin memikirkannya lagi. Di sini aku aman bersamamu.”   Mazen mematung, tatapannya mengunci wajah Maara yang dihiasi oleh senyuman paling menawan yang pernah dilihat olehnya. “Tidak. Kau salah, Maara. Di sini, di sisiku adalah tempat paling berbahaya.”   Tiba-tiba saja sebuah ciuman lembut mendarat di pipi Mazen, membuat pria itu terkesiap dan melihat Maara baru saja mengecup pipinya sekilas hingga membuat Mazen lupa untuk bernafas. “A-apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Mazen sembari menyentuh bekas ciuma di pipinya itu.   Wajah Maara merona merah. “Kudengar dari Lokra, Iblis seperti kalian membutuhkan manusia untuk mengisi energi, jadi ….” Mendadak Maara berlari dengan wajah tersipu. “Aku memberimu sedikit!” serunya sambil berlari.   Mazen tersenyum dengan tangan yang masih berada di pipinya, bibir hangat Maara masih terasa di sana. “Gadis itu … mengapa dia sangat bodoh sekali.”   “Ya, benar sekali. Ciuman seperti itu sama sekali tidak akan mengisi energi kita.” Suara Hogaz mengejutkan Mazen yang sedang memperhatikan Maara berlari darinya.   “Sejak kapan kau di sini?!” pekik Mazen.   “Sejak kau akan mencumbunya di ruang terbuka ini, Tuan.”   Mazen menoleh dengan mata menatap Hogaz dengan tajam. “Apa sekarang kau menjadi tukang intip?”   Hogaz sedikit menjauh kemudian berbisik, “Bukankah itu pekerjaan kita, Tuan?” setelahnya dia menghilang dari hadapan Mazen.   “Tua Bangka tidak tahu diri,” gumam Mazen dengan bibir tersungging. Pria itu hendak berjalan menuju ke kamarnya, tapi indera penciumannya menghirup aroma busuk yang aneh. Seketika itu juga dia menoleh, melihat siapakah gerangan yang datang ke rumahnya tanpa diundang ini.   “Aku menunggu ucapan terima kasih darimu, Adik.”   “Lokra,” . . . . . —Next to chapter 11—      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN