Riyan duduk di teras kost Nayla—lantai keramiknya dingin, udara pagi menjelang siang pelan-pelan turun, membawa rasa tenang yang lembut. Ia menunggu sambil memainkan kunci motor di jari, sesekali menghela napas seperti menata hati setelah perjalanan jauh. Pintu kost terbuka. Nayla keluar sambil membawa dua cangkir kopi panas dan satu piring jajanan yang ia beli di Jakarta. Aromanya langsung memenuhi teras—manis, lembut, dan hangat. Ia menunduk sedikit saat meletakkan semuanya di dekat Riyan. “Minum kopi dulu, Yan,” ucapnya pelan, tapi penuh perhatian. Riyan tersenyum. “Iya, Nay.” Nayla duduk di sampingnya—dekat sekali. Kedekatan yang membuat lengan mereka hampir bersentuhan. Riyan baru mau mengambil cangkir ketika ponselnya bergetar. BRRRT—BRRRT. Nama yang muncul di layar: Puput. Ri

