Lembayung angin senja menerpa lembut wajah Aqueena seraya menerbangkan rambutnya hingga beberapa kali menutupi wajahnya—sehingga beberapa kali gadis itu harus menyelipkan rambut di telinganya. Hangatnya cahaya matahari merasuk ke bagian epidermis kulit. Kehangatan itu seakan memudar kala sang raja siang mulai tenggelam di ufuk barat—menciptakan gradasi abu-abu bercampur semburat oranye.
Aqueena duduk di sebuah kursi kayu berwarna cokelat, di seberangnya duduklah seorang lelaki bertubuh kekar nan tinggi. Sekarang, mereka berada di sebuah rumah pohon yang terletak di atas pohon oak yang sangat tinggi. Awalnya, Aqueena sempat ingin menolak tawaran lelaki itu yang memintanya ikut bersama lelaki itu. Akan tetapi, Aqueena tidak punya pilihan lain kecuali jika dia ingin kejadian yang sama terulang lagi—diserang iblis atau diserang binatang buas.
Kesan pertama Aqueena saat pertama kali menginjakkan kaki di sebuah pohon adalah bingung. Setelah dia mengikuti lelaki itu naik ke atas pohon dengan tangga tali, langsung saja mulutnya menggumamkan, “Wow!!”
Rumah itu terbuat dari kayu jati dengan atap yang terbuat dari aluminium yang telah berubah warna menjadi kecoklatan—menandakan usia rumah pohon itu yang terbilang tua. Pemandangan di rumah pohon itu sangat menyejukkan mata sehingga membuat siapapun yang melihatnya terpukau dengan alamiahnya. Terletak pada ketinggian sekitar 1200 mdpl membuat Aqueena dapat melihat pemandangan hutan yang menghijau. Terlihat juga gunung berapi yang menjulang tinggi—yang mengeluarkan gumpalan asap tebal dari puncaknya. Bukan hanya itu, Aqueena juga dapat melihat perbukitan yang mengelilingi kawasan itu, sungai yang mengalir, serta pemukiman warga yang menghasilkan asap menggepul sebagai tanda adanya aktivitas manusia.
“Akhh!!” Ringis lelaki itu yang sedang membalut lukanya.
Sementara Aqueena hanya dapat terdiam menundukkan kepala. Dia tak berani mendongak, karena tidak mengenal lelaki itu. Sampai detik ini saja Aqueena belum mengetahui nama lelaki yang menyelamatkannya dari serangan harimau.
Timbul rasa bersalah dalam diri Aqueena. Ingin sekali rasanya mengobati luka cakaran harimau yang cukup panjang di lengan lelaki itu. Akan tetapi, Aqueena tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada kotak P3K yang menyediakan berbagai keperluan pertolongan pertama.
Tunggu! Aqueena merasakan sesuatu di saku seragamnya. Sesuatu yang terasa bulat dan memanjang yang pada ujungnya terdapat garis-garis memanjang. Aqueena dengan segera mengeluarkan benda itu dari dalam kantungnya. Beruntung, itu adalah obat luka.
Aqueena masih ingat saat jam pelajaran tadi dia sempat meminta obat luka dari UKS untuk mengobati luka salah satu teman sekelasnya yang terkena lemparan bola dari luar kelas—yang menyebabkan kaca kelas pecah sehingga pecahan kaca itu melukai teman sekelasnya. Karena Aqueena adalah anggota PMR, dia diizinkan mengambil obat jika dibutuhkan.
“Per-permisi!” Aqueena ragu-ragu. Lelaki itu menoleh ke arah Aqueena dengan ekspresi datar yang menyeramkan. Berbeda dengan ekspresi dingin Arthur yang tenang, ekspresi lelaki ini begitu bengis “Bolehkah aku mengobati lukamu? Aku punya obat luka.”
“Tidak usah!” ketus lelaki itu. Aqueena gemetar saat mendengar suara beratnya yang terdengar kasar. “Bisa jadi itu racun atau semacamnya.”
What the hell? Mana mungkin Aqueena memberikan racun pada orang yang telah menyelamatkannya dari binatang buas. Sangat berdosa jika anggota PMR memberikan racun bagi seseorang yang membutuhkan pertolongan. Dan tunggu! Apa lelaki itu sama sekali tidak mengenal obat luka yang biasa dipakai untuk membersihkan luka? Tidak mungkin di zaman modern sekarang ini masih ada yang tidak mengenal obat luka yang ikhlannya sering muncul di televisi.
Lelaki aneh, pikir Aqueena.
“Ini memang obat luka, kamu nggak lihat tulisannya? Rabun? Pakai kacamata biar bisa lihat,” ketus Aqueena merasa kesal.
Lelaki itu menatap tajam Aqueena. Lagi-lagi Aqueena melihat kebengisan di wajahnya. “Pertama, aku tidak melihat tulisan ‘obat luka’, aku hanya melihat tulisan ‘Betadine’. Kedua, penglihatanku sangat teramat jelas. Bahkan burung yang terbang di luar jendela...” tunjuknya pada rombongan burung yang terbang dari kejauhan tanpa melihat langsung ke luar jendela. “.. sangat teramat jelas di mataku!”
Aqueena bergidik ngeri. Ternyata, selain Arthur yang mengaku Harry Potter dan memiliki penglihatan 360 derajat , ada juga orang lain yang lebih menyeramkan.
“Ketiga, aku tidak pernah mau memakai kacamata. Dan keempat jika kau memberi secara cuma-cuma, siapa pun pasti akan curiga. Aku bukan orang bodoh yang dengan mudahnya percaya dengan orang asing,” ucapnya. Suaranya dingin, nada bicaranya sombong, dan perkataannya begitu menusuk.
Memang manusia purba. Bukankah Betadine sama saja dengan obat luka?
Memang benar apa yang dikatakan lelaki itu, Aqueena baru menyadarinya. Siapapun pasti akan curiga jika memberi secara cuma-cuma. Lelaki itu adalah tipe manusia sombong, harus dengan bukti untuk bisa membuatnya malu. Akan tetapi, disini Aqueena merasa terhina dengan kata-kata tajam itu, mulut lelaki itu seperti mercon level akut, benar-benar pedas.
Jika dia tidak percaya orang asing, ngapain dia bawa aku ke sini? Dasar labil, manusia purba songong! batin Aqueena yang lagi-lagi merasa kesal.
Terbersit ide gila di kepala Aqueena, dia ingin mencoba sesuatu yang extrem agar lelaki itu tidak menganggapnya ingin memberikan racun, karena obat luka itu memang bukan racun. Aqueena melirik sebuah pedang yang tergeletak di atas meja kayu di depannya. Pedang itu masih bersimbah darah yang mulai mengering. Aqueena dengan sengaja menggoreskan sedikit jari telunjuknya pada ujung pedang runcing itu, karena ujungnya lebih dekat dengan posisi Aqueena.
Aqueena menelan susah salivanya saat merasakan sakit, darah mulai keluar dari ujung jarinya. Untuk hal ini, Aqueena benar-benar menyesal melakukannya, karena ujung pedang itu tidak hanya menggores ujung telunjuknya, tetapi seluruh telunjuknya sehingga menciptakan rasa sakit yang melampaui dugaaannya.
“Apa yang kau lakukan?! Kaupikir pedangku ini pedang biasa, hah!! Dasar perempuan bodoh!!”
Lelaki itu terkejut dengan apa yang dilakukan Aqueena. Aksi extrem Aqueena berhasil memancing perhatian lelaki itu. Tetapi di sini Aqueena lagi-lagi harus bersabar. Dikatai perempuan bodoh adalah hal tabu yang seharusnya tak diucapkan di depan Aqueena. Biasanya gadis itu akan mengamuk jika dikatai seperti itu, namun hari ini Aqueena terpaksa meredam emosi dengan meremas roknya.
Aqueena meneteskan cairan berwarna kecoklatan yang berasal dari sebuah botol kecil berwarna kuning pada lukanya. Perih dirasakan Aqueena, tetapi dia bisa menahannya demi mengembalikan imagenya sebagai anggota PMR yang tidak pernah lalai menjalankan tugas.
“Apa kamu masih menganggap ini racun?” tanya Aqueena dengan cengiran khas di wajahnya. Kali ini Aqueena yang membuat lelaki itu kesal.
Lelaki itu menggeram melihat tingkah Aqueena yang terbilang aneh. Dia melirik luka Aqueena yang telah ditetesi obat, lalu detik berikutnya dia berkata, “Obati lukaku,” dengan nada bicara yang masih sama; cuek, kejam, sombong dan angkuh. Sepertinya, dia adalah salah satu dari sekian orang yang sulit menerima kesalahan yang diperbuat meskipun kebenaran ada di depan mata.
Aqueena berpindah posisi ke samping lelaki itu agar bisa lebih dekat dan lebih mudah mengobati lelaki itu. Dia juga menyadari bahwa di dalam sakunya juga terdapat sedikit kapas yang menggumpal, sehingga dia lebih mudah membersihkan luka lelaki itu.
“Aww!” Ringis lelaki itu untuk kedua kalinya. “Kau bisa mengobatiku atau tidak, hah?!” Bentaknya yang membuat nyali Aqueena menciut. Benar-benar manusia kasar.
“Ma-maaf,” kata Aqueena terbata-bata. Sebelumnya gadis itu tidak pernah mendapat perlakuan kasar seperti sekarang.
“Tidak usah minta maaf!”
Aku juga nggak mau, batin Aqueena berkomentar.
Kalau bukan karena lelaki itu yang menyelamatkannya dari binatang berloreng yang mengamuk, sepanjang sejarah Aqueena tidak akan pernah mengobati lelaki sombong macam ini. Pertama, dia telah merusak nama baik Aqueena sebagai anggota PMR teladan. Kedua, dia malah membentak Aqueena saat gadis itu berniat baik ingin mengobati lukanya.
Tidak ingin memikirkan sesuatu yang buruk, Aqueena memilih fokus membersihkan luka di lengan lelaki itu. Berkat kemampuannya yang selama ini mengikuti pelatihan anggota PMR membuatnya cukup ahli dalam membersihkan luka. Apalagi teman sesama anggota PMR selalu menyuruhnya membersihkan luka kala siswa lain mendapatkan luka. Hal itu membuatnya semakin ahli dan semakin terbiasa dalam mengobati luka.
“Yang tadi..” Aqueena ragu untuk mengatakannya, tetapi mulutnya malah berterus terang secara refleks. “Terima kasih telah menyelamatkanku.”
Setelah sekian lama, kata ajaib itu keluar dari mulut Aqueena. Sejujurnya, Aqueena adalah tipikal orang yang susah mengucapkan kata ‘terima kasih’ saat dirinya mendapat bantuan dari orang lain. Nyatanya, gadis itu tidak pernah meminta bantuan, karena dia bisa melakukan sendiri.
“Tidak perlu berterima kasih,” lagi-lagi lelaki itu berkata ketus.
Demi lesung pipi Maxime Bouttier, Aqueena sangat sangat sangat kesal dengan lelaki itu. Apa sebenarnya kesalahan Aqueena disini? Dia hanya ingin membalas jasa, apakah itu salah? Kenapa lelaki itu terus saja berkata seakan Aqueena adalah tawanan? Yang terjadi padanya murni bukan kesalahan Aqueena, melainkan keinginannya sendiri untuk menolong Aqueena dari Harimau, meskipun Aqueena bersyukur lelaki itu datang tepat waktu.
Bukan Aqueena namanya jika dia tidak bisa membalas rasa kesalnya terhadap orang lain. Benar saja, Aqueena adalah tipikal orang yang tidak ingin mengalah dengan keadaan, dia memegang prinsip bahwa ‘aku akan membalas apa yang kalian lakukan padaku’. Karena prinsip itulah, sampai detik ini hanya Bella-lah yang berani berurusan dengan Aqueena.
“Apa-apaan kau ini!!!” Lelaki itu menarik lengannya setelah merasakan usapan kasar pada luka di bagian lengannya yang sedang diobati Aqueena.
Ya! Memang benar, Aqueena melakukan itu. Dia sengaja mengusap kasar luka lelaki itu sehingga menimbulkan rasa perih. Belum lagi obat luka yang diteteskan Aqueena pada luka lelaki itu, bisa bayangkan bagaimana rasa sakitnya.
“Kau bisa mengobati apa tidak, hah!! Dasar perempuan!!” ucapnya ketus, rahangnya mengeras disertai tatapannya yang sangat tajam.
“Memang kenapa? Ada apa dengan perempuan, hah?” Aqueena menantang. Gadis itu naik pitam mendengar lelaki itu seakan meremehkan perempuan. Sejak tadi menahan emosi membuat Aqueena ingin melepaskannya. “Apa kamu tidak suka sama perempuan? Dasar laki-laki labil.” Ingat, ya, kalian para lelaki tidak akan bisa hidup tanpa perempuan!!” kesal Aqueena. Matanya membalas tatapan tajam lelaki itu.
“Apa semua perempuan di dunia ini sepertimu? Jika memang begitu maka aku selamanya tidak ingin mengenal perempuan.”
“Kalau gitu nikah aja sama laki-laki,” ketus Aqueena lagi-lagi melakukan perlawanan. “Dasar homoseksual.”
“Dasar jalang!”
Untuk ucapan tersebut, Aqueena tidak lagi menyahut. Gadis itu terdiam menundukkan kepalanya, detik berikutnya, dia pergi meninggalkan lelaki itu dengan menuruni tangga tali. Aqueena berlari sembarang arah agar menjauh dari rumah pohon itu. Jujur saja, sebagai perempuan Aqueena merasa sakit mendengar kata ‘jalang’.
Jika Aqueena memang perempuan penggoda, dia tidak akan sakit hati. Tetapi dia hanyalah gadis SMA yang baru menginjak usia 17 tahun. Dia bahkan belum pernah pacaran, apalagi menjadi jalang seperti PSK. Tentu saja dia sangat tersinggung mendengar k********r itu.
Dan lagi-lagi, Aqueena tersesat di hutan. Dia tidak peduli, terserah jika dirinya harus menjadi korban keganasan binatang buas, atau korban para santan, terserah! Yang jelas Aqueena tidak ingin bertemu lagi dengan lelaki itu.
Aqueena menghentikan larinya setelah melihat sebuah pohon rindang yang dapat dijadikan tempat berteduh. Hari sudah mulai gelap, dia masih berada di sana. Gadis itu memeluk lututnya dengan kepala yang menuduk, dia menangis. Kali ini Aqueena tidak tahu entah apa yang ditangisinya, apakah ucapan kasar lelaki itu? atau kerena takut? Entahlah, mungkin keduanya.
Hingga suara langkah kaki disetai suara gelak tawa mengusik telinganya. Aqueena mendengar langkah kaki mendekatinya disertai suara canda beberapa orang. Dari kejauhan, dia dapat melihat pakaian serba hitam—jubah hitam yang tudungnya menutupi kepala—membawa sebuah tongkat yang lebih mirip dengan trisula.
Tubuh Aqueena gemetar. Dia ketakutan, kakinya kelu untuk melangkah. Dia masih ingat dengan jubah hitam, mereka adalah iblis.
Oh Tuhan! Kali ini Aqueena akan tamat.
Tiba-tiba, Aqueena merasakan sebuah lengan melingkar di lehernya, telapak tangan yang besar sukses membungkam mulutnya, lalu menariknya ke belakang secara perlahan. Aqueena terkejut bukan main, dia meronta, tetapi terhenti saat suara bisikan terdengar di telinganya.
“Pppsstttt!! Diam kalau ingin selamat! Ini aku.”
Aqueena merasa bersyukur sekaligus kesal. Bersyukur karena dia bisa selamat, kesal karena lagi-lagi lelaki menyebalkan yang telah menggeser posisi Bella yang sekarang berpindah ke nomor 3 (posisi 1 Arthur) itu menyelamatkan dirinya.
ψψψ
Aqueena dan lelaki itu kembali duduk di sebuah kursi kayu secara besebelahan. Kali ini, Aqueena benar-benar mengobati luka lelaki itu karena darahnya yang terus mengalir keluar. Takut jika luka lelaki itu infeksi lalu lengannya dipotong, Aqueena mengobatinya dengan sangat hati-hati karena bisa saja dirinya yang disalahkan jika memang lengan lelaki itu harus dipotong. Karena itu, mau tidak mau dia harus mengobatinya. Sementara lelaki itu mengikhlaskan lengannya untuk diobati oleh Aqueena.
“Aku minta maaf,” kata lelaki itu memulai percakapan memecahkan keheningan.
Aqueena diam tak menggubris, dia menyibukkan diri dengan obat luka beserta kapas. Kali ini Aqueena merasa harus pura-pura tuli agar tak mendengar k********r dari lelaki itu.
“Yang tadi... aku sungguh minta maaf.”
Kali ini Aqueena mendongak, dia menghentikan gerakan tangannya. “Seharusnya kamu jangan bilang seperti itu pada perempuan. Perempuan manapun pasti akan sakit hati. Kamu harus ingat jika ibumu adalah perempuan.”
“Aku... menyesal mengatakan itu. Aku minta maaf sekali lagi.”
“Baiklah! Aku akan memaafkanmu, tetapi kamu jangan ngomong seperti itu lagi.”
Lelaki itu mengangguk. Ternyata, lelaki itu berpotensi untuk patuh pada Aqueena.
“Siapa namamu?” tanya lelaki itu.
“Apa?” tanya Aqueena sedikit kurang jelas karena sedaritadi dia sibuk sendiri. Luka lelaki itu cukup panjang dan cukup dalam hingga butuh waktu lama bagi Aqueena untuk mengobatinya.
“Siapa namamu?” tanyanya lagi.
“Ohh..” Aqueena menjeda seraya tangannya masih memegang kapas mengusap luka lelaki itu. Matanya menatap lelaki itu. “Namaku Aqueena, kamu bisa panggil aku dengan nama itu.
“Namaku Fischer. Senang berkenalan denganmu,” kata lelaki itu.
Aku tidak tanya dan tidak senang berkenalan denganmu, batin Aqueena yang masih kesal.
Setelah mengucapkan nama, Aqueena kembali pada kegiatannya mengobati luka lelaki yang bernama Fischer itu. Akan tetapi, sebuah cahaya putih yang teramat terang mendadak muncul di lengan lelaki itu. Bukan, lebih tepatnya di tangan Aqueena yang masih memegang kapas mengoleskan obat luka di lengan lelaki itu.
Baik Aqueena maupun lelaki yang bernama Fischer itu terkejut bukan main. Aqueena menarik tangannya menjauh, cahaya itu masih utuh di tangannya yang perlahan meredup. Sementara lelaki itu, luka di lengannya akibat cakaran harimau perlahan menutup dengan sendirinya. Tidak ada lagi luka di lengan lelaki itu, bersih tanpa ada bekas luka, seakan tidak pernah ada luka di sana.
Keduanya saling bertatapan untuk sejenak. Lalu detik berikutnya, lelaki itu mengambil pedang yang berada di atas meja, lalu mengacungkannya pada Aqueena dengan tujuan mengancam.
“Siapa kau sebenarnya?! Jujur atau kau mati!!” kata Fischer mengancam Aqueena. Seluruh tubuh Aqueena bergetar ketakutan melihat pedang yang masih berlumuran darah. Aqueena tahu pasti pedang itu sangat menyakitkan jika menggores kulit, seakan menyimpan racun di sana.
Aqueena sempat berpikir jika Fischer akan membunuhnya. Tetapi pikiran itu dia urung, karena yakin Fischer tidak bermaksud demikian. Lelaki itu hanya terkejut, sama seperti Aqueena.
“A-aku hanya manusia bi-biasa,” jawab Aqueena terbata. Suaranya terasa berat.
“Jangan bohong!! Tidak ada manusia biasa yang mampu mengeluarkan cahaya dari jarinya!!”
Aqueena memberanikan diri menatap Fischer, meskipun ekspresi Fischer menunjukkan kebengisan. Aqueena berusaha setenang mungkin karena dia tidak bersalah. Dia juga terkejut melihat cahaya yang keluar dari tangannya.
“Aku benar-benar manusia biasa,” katanya dengan suara tenang yang terkesan tajam. “Seharusnya aku yang bertanya sama kamu. Kamu sebenarnya makhluk apa?!! Kenapa lukamu menutup dengan cepat, hah?!!” Bentak Aqueena.
“Jangan mengalihkan pembicaraan!! Bukankah kau mengeluarkan kekuatan untuk menyembuhkan lukaku?!!” lelaki itu membalas dengan suara yang meninggi. Pedangnya semakin mendekati leher Aqueena. Kali ini nyali Aqueena benar-benar menciut.
“Apa maksudnya?!! Kekuatan?!! Emang Jagoan Neon yang punya kekuatan!!” balas Aqueena yang juga membentak. “Jelas-jelas aku manusia biasa, emang kamu, luka bisa sembuh sendiri. Dasar iblis!”
“Aku bukan iblis. Aku penyihir biasa!!”
“Lagi-lagi ada yang ngaku diri Harry Potter. Kamu nggak usah bohong. Kamu orang kedua yang ngaku-ngaku penyihir!!”
“Tapi aku benar-benar penyihir!”
“Terserah deh! Ngomong sama orang keras kepala emang susah.”
Fischer memutar bola matanya menghindari kontak mata dengan Aqueena. Lelaki itu menurunkan pedangnya dan memunggungi Aqueena. Aqueena mendengar gumaman lelaki itu yang sangat pelan meskipun kurang jelas apa yang diucapkannya.
“Malam ini kau tidur di sini saja,” gumam Fischer.
“Yaiyalah! Mau dimana lagi? Emang aku tahu jalan pulang?” kesal Aqueena.
“Ternyata kau benar-benar gadis unik,” kata Fischer tersenyum tipis. Baru kali ini ada yang berani melawan ketika Fischer telah mengeluarkan pedang Red Combat
“Unik! Unik! Emang aku barang antik.”
“Kau tidur di dalam saja. Biar aku di luar saja.”
“Yaiyalah! Emang aku mau tidur sama kamu? Aku bukan PSK.”
“Apa itu?”
“Pekerja Standar Kecil,” jawab Aqueena enteng.
“Oh!!”
Fischer ber-oh-ria, sementara Aqueena geleng-geleng kepala. Hari gini masih ada yang nggak tahu arti PSK? Benar-benar manusia purba, batin Aqueena.
“Eh! kamu, siapa tadi namamu? Fish..Fis..”
“Fischer!!” potong Fischer cepat.
“Ah! Iya, Fischer!” Aqueena tersenyum seakan memelas sambil memegang perutnya. “Boleh aku minta makanan? Aku belum makan dari tadi siang.”
Fischer menghela napas berat. “Baiklah, kau tunggu di sini, Aqua!”
Setelahnya, Fischer berlalu pergi meninggalkan Aqueena dalam kesendirian. Aqueena mematung di tempat melihat Fischer dengan entengnya melompat dari ketinggian. Aqueena amat terkejut, lalu detik berikutnya dia mendekati teras rumah pohon itu seraya kepalanya melihat ke bawah mengikuti arah Fischer melompat.
“Woi!! Nama aku Aqueena, bukan Aqua. Emang aku merk air mineral?”
>> To be continued <<