Sarka membuka kaca helm motornya, kemudian ia menepuk pundak Edo sebanyak dua kali, cukup keras. Disusul bibirnya yang terbuka, menyuarakan sesuatu. "Do, entar turun di rumah lo aja ya? Lo nggak usah nganterin gue sampai rumah," ujarnya dengan suara yang sengaja ia naikkan beberapa oktaf, berharap agar Edo bisa mendengarnya. "Lah ... Kenapa emangnya? Gue bisa anterin lo sampai depan rumah kok kayak biasa," balas Edo. Tapi Sarka menolaknya, ia menggeleng pelan. "Nggak, gue turun di rumah lo aja," ujar Sarka lagi. "Lagian jarak dari rumah lo ke rumah gue cuma terpaut tiga rumah. Jalan kaki nggak bakal bikin gue matii kecapean," lanjutnya. Edo tidak membantahnya lagi. Ia menganggukkan kepalanya, mengikuti apa yang sahabatnya itu mau. "Oke deh, terserah lo aja." "Nah gitu dong!" Sarka k

