Hubungan Apakah Ini?

2190 Kata
Siap atau tidak, kau harus terus berlari agar tak tertinggal sebab roda kehidupan yang terus berputar tak mungkin berhenti sesaat hanya untuk menunggumu menyeimbangi langkah. Tak banyak yang bisa kau lakukan selain mengikuti arus dan menerima jalan yang takdir persiapkan. Bukan pasrah dengan takdir, kau hanya tak ingin menentang hal yang semestinya terjadi. Selepas mengemaskan semua barang keperluan mereka. Keduanya dijemput oleh Jaya, asisten kepercayaan Rai. Pria itu mengantarkan keduanya ke bandar udara. Keduanya tak seperti sepasang pengantin baru pada umumnya yang terlihat mesra dan tak bisa lepas. Mereka terlihat seperti dua orang teman yang hendak menghabiskan liburan bersama. Keduanya menarik koper mereka begitu tiba di banda udara dan menunggu di ruang tunggu. Amanda membaca novel yang diberinya beberapa hari lalu, sedang Rai sibuk memainkan tangannya di ponsel. Keduanya tak terlihat seperti sepasang anak manusia yang saling mengenal, hanya kebetulan duduk bersebelahan. “Rai ...” suara seorang pria terdengar, membuat Rai megadahkan wajah dan menatap ke sumber suara, sementara Amanda berpura-pura menulikan telinga. Ia hanya tak ingin mencampuri urusan pribadi Rai dan membuat pria itu murka. “Jansen,” ucap Rai seraya berdiri. Pria itu mengulurkan tangannya pada pria yang dipanggilnya Jansen dan segera disambut dengan Si pria, “Bagaimana kabarmu?” tanya Rai pada Jansen yang tersenyum senang. “Baik. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita nggak bertemu. Kau sudah menetap di Jakarta?” pria itu duduk di sebelah kanan tempat duduk yang semula Rai tempati. Rai duduk kembali ke tempatnya, sedang Amanda sesekali mencuri pandang. Walau mereka adalah sepasang suami istri, namun ia tahu jika dirinya tak seharusnya memperkenalkan dirinya pada kenalan Rai dan pria itu pun seakan menganggapnya angin lalu, membuat Amanda mengira jika sikap tak acuhnya sudah benar. Mereka harus pura-pura tak kenal dan ia harus memberikan ruang bagi Rai dan kenalannya itu untuk mengobrol. “Ya, aku sudah lama tinggal di Jakarta. Nggak ada yang menjaga nenek dan aku harus mengambil alih perusahaan,” jelas Rai, “Bagaimana denganmu. Menetap di Jakarta atau kembali lagi ke London? Terakhir kali, kita bertemu selepas lulus kuliah.” Pria bermata sipit itu mengangguk. “Sudah lama sekali,” ucapnya seraya menatap ke depan dengan tatapan menerawang, “Aku juga akan menetap di Jakarta. Walau bagaimanapun kita orang Indonesia, nggak peduli ke mana kita pergi, tempat pulang tetaplah Indonesia.” Rai tertawa pelan seraya mengangguk. Benar, tak peduli kemanapun kau pergi dan menuntut ilmu. Pada akhirnya, kau akan kembali ke Negara asalmu. “Membangun bisnis atau bekerja di mana?” tanya Rai pada karibnya. “Orang seperti kita nggak jauh-jauh dari melanjutkan bisnis keluarga,” pria itu tergelak pelan, sedang Rai mengangguk-angguk mengerti. Orang-orang seperti mereka memang tak banyak pilihan. Semua sudah disiapkan untuk mereka. Pendidikan dan juga masa depan. Bila melihat dari kacamata luar, banyak orang yang iri melihat kehidupan orang-orang seperti Rai, namun tak selalu terasa indah bagi mereka yang menjalaninya. Kau tak pernah diberikan pilihan, harus menjalani apa yang telah disiapkan untukmu dan menekan hasratmu sendiri. “Ya, tampaknya, kita memang nggak pernah di berikan pilihan,” ucap Rai pelan seakan menujukan perkataan itu untuk dirinya sendiri. Jansen mengarahkan pandangannya pada Rai. “Berlibur atau perjalanan bisnis?” tanya pria itu seraya menunjuk koper kecil yang berada di hadapan kaki Rai. Pertanyaan karibnya itu membuat Rai tercengang sesaat dan menoleh ke samping. Ia sempat melupakan kehadiran Amanda karena pertemuan dengan teman lamanya. Rai tersenyum tipis saat menoleh ke arah Amanda yang bersikap seolah mereka adalah dua orang asing dengan asyik membaca novel di hadapannya. Memang mungkin ini jauh lebih baik daripada harus memperkenalkan Amanda sebagai istrinya pada karibnya. Ketidaktahuan adalah yang membuat mereka nyaman. Sahabatnya itu pasti terkejut bila tahu Rai sudah menikah. Lagipula, Rai tak suka membagi tentang kehidupannya pada siapapun, termasuk pada karibnya. “Belibur,” jawab Rai seraya menoleh kembali ke arah karibnya. Jansen tertawa kecil. “Aku pikir, seorang Rai Samudera nggak akan pernah punya waktu untuk berlibur,” pria itu menghentikan tawanya, “Oh ya, aku lupa. Pasti Amelia yang membuatmu bisa lebih bersantai. Bagaimana kabarnya? Apa kalian akan segera menikah?” Pertanyaan Jansen membuat Rai tercengang sesaat, sedang Amanda yang berada di samping Rai tak bisa mencengah dirinya untuk mencari tahu obrolan kedua pria itu. Ia bahkan tak lagi beminat pada novel yang tengah berada di genggamannya. Ia melirik ke arah Rai sekilas dan mampu menemukan kehampaan pada wajah pria itu. Mungkinkah Amelia adalah nama dari wanita yang dilihatnya pada ponsel Rai? Pria itu memiliki seorang kekasih? Mengapa pria itu tak menikahi kekasihnya dan malah memilih menjadikannya seorang istri bohongan? “Berhenti membicarakan tentangku,” Rai berusaha mengalihkan pembicaraan. Amanda mampu melihat jika nama wanita yang disebutkan sahabat dari suaminya mampu membuat Rai merasa tak nyaman. Walau tanpa bertanya, Amanda bisa menebak jika pria itu tak suka ada yang mengangkat topik tentang wanita bernama Amelia. “Kamu berlibur atau melakukan perjalanan bisnis?” tanya Rai pada karibnya. Pria bernama Jansen itu tergelak mendengarkan pertanyaan Rai. “Ternyata, kamu nggak pernah berubah. Masih nggak suka membicarakan tentang wanitamu itu pada orang lain,” Jansen menggeleng-geleng, “Masih b***k cinta yang sama. Takut sekali ada yang merebut kekasihmu yang tercinta,” lanjut pria itu yang membuat Rai semakin merasa tak nyaman. “Terkadang, waktu nggak bisa mengubah watak seseorang. Seperti kamu yang nggak pernah berubah dan masih suka mencari tahu tentang kehidupan orang lain,” ucap Rai sarkastis. Jansen kembali tertawa kecil dan menggerak-gerakkan tangannya di udara, memberi tanda bila dirinya menyerah menghadapi kesinisan Rai. “Aku nggak akan bertanya masalah pribadimu lagi. Aku tahu kalau kau paling nggak suka orang-orang tahu kehidupan pribadimu. Padahal, dulu dengan bangga kamu mengenalkan kekasihmu pada kami semua, hingga kamu tahu betapa bucinnya kamu pada Amelia. Tapi tiba-tiba saja, kamu menyimpan semua tentangnya untuk dirimu sendiri. Kamu pasti sangat mencintainya,” ucap Jansen yang membuat Rai terdiam. Terlihat semakin tak nyaman dengan pembicaraan mereka tentang masa lalu. “Aku nggak mau lagi membuatmu nggak nyaman. Hanya saja, jangan lupa mengundang kami jika kalian sudah menikah,” Jansen menepuk pelan lengan Rai, “Aku ada urusan bisnis. Kau hanya berlibur sendiri ke Bali?” pria itu melirik Rai dan melirik Amanda. Ia menebak-nebak apakah mereka datang bersama? Akan tetapi, rasanya tak mungkin Rai bisa bersama dengan wanita lain. Mengingat betapa b***k cintanya Rai pada Amelia. Lagipula, keduanya terlihat tak saling mengenal. Jansen menggeleng, mencoba menepis pikirannya barusan. “Apa salah untuk berlibur sendiri?” Rai bertanya datar. Jansen lagi-lagi tertawa. “Ya Tuhan, Rai. Seharusnya, kamu bisa sedikit manusiawi. Kenapa hanya Amelia yang bisa membuatmu seperti itu,” pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, “Berikan nomer ponselmu dan kita harus sering bertemu. Mungkin saja, kita bisa berbisnis bersama,” lanjut Jansen yang tak ingin membuat Rai semakin murka dengan semua pertanyaannya tentang Amelia dan kehidupan pribadi karibnya itu. Percakapan keduanya membuat Amanda tersenyum lirih. Ia bisa menebak jika Amelia adalah satu-satunya wanita yang dicintai Rai. Jika pria itu telah mencintai seorang wanita begitu dalam, mengapa membawa Amanda ke dalam kehidupannya? Amanda tak mampu mencegah rasa penasaran yang mengganggu sanubarinya. Ia pun sadar, jika dirinya tak punya hak untuk bertanya. Lihatlah, keadaan mereka saat ini. Walau secara hukum mereka memiliki hubungan sebagai suami istri, namun status itu tak berarti apa pun. Lihatlah mereka yang berlagak sama-sama asing walau hubungan keduanya tak lagi bisa disebut sebagai sepasang asing. Amanda tak tahu harus dinamakan apakah hubungan di antara mereka? Rai menyebutkan nomer ponselnya. “Penerbanganku sebentar lagi. Aku akan menghubungimu saat di Bali nanti. Mungkin saja nanti kita bisa bersantai bersama dan menceritakan banyak hal. Banyak yang harus kita bicarakan,” ucap Jansen seraya berdiri. Rai ikut berdiri dan mengulurkan tangannya pada Jansen yang langsung disambut oleh Jansen. “Hubungi aku kalau memang kau ada waktu. Mungkin kita bisa bersantai. Hati-hati di perjalanan,” ucap Rai pada karibnya yang langsung direspon dengan anggukan antusias. “Baiklah. Kamu juga hati-hati juga di perjalanan,” ucap Jansen seraya berlalu pergi. Sepeninggalan Jansen, Rai menoleh pada Amanda dan memperhatikan wanita itu dalam diam. Inilah yang disukainya dari Amanda. Wanita itu selalu tak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya, tak menuntut, dan tak menunjukkan emosi apa pun. Amanda masih sibuk dengan novelnya dan berusaha tak menyadari tatapan Rai padanya. Ia bingung harus bersikap seperti apa dengan pria itu. Berbasa-basi menanyakan tentang sahabatnya barusan seperti seorang istri pada umumnya atau pura-pura tak mengetahui apa pun. “Kamu tahu apa yang membuatku begitu suka saat bersamamu?” pertanyaan pria itu membuat Amanda menyingkirkan novel yang dibaca dari hadapan wajahnya dan menoleh ke arah Rai. Wanita itu mengeryitkan dahi, penasaran dengan alasan Rai menyukainya. Rai yang paham bila wanita itu tengah menantikan jawaban darinya segera berkata. “Kamu selalu seperti ini. Terlihat nggak peduli dengan semua yang ada di sekitarmu. Nggak juga peduli dengan urusan pribadi orang. Kamu nggak menanyakan hal yang akan membuatku nggak nyaman. Kamu seakan begitu mengenalku walau kita baru saja berkenalan.” Amanda tersenyum tipis. Secara tidak langsung, perkataan Rai seakan mengatakan jika dirinya adalah boneka tak bernyawa. Tak memiliki perasaan. Namun Amanda menyetujui pendapat pria itu tentang dirinya. Terbiasa menjalani kehidupan tanpa seorangpun yang peduli, membuatnya berubah menjadi sosok yang ikut tak mempedulikan apa yang ada di sekitarnya. “Seperti yang pernah kubilang sebelumnya. Terkadang, nggak mengetahui banyak hal tentang seseorang justru membuat kita merasa nyaman. Hal yang bisa membuat kita bisa bersama tanpa rasa yang menghancurkan. Semua ini lebih baik dan aku harap, selamanya akan seperti ini,” Amanda tersenyum tipis, senyum wanita itu menular pada Rai. Dalam hati Rai turut menyetujui perkataan Amanda. Tak perlu peduli pada seseorang agar tak ada celahh bagi dirimu untuk terluka. Ia beruntung karena memiliki Amanda yang tak memunutnya melakukan hal yang tak disukainya. Wanita itu memberikannya kenyamanan. Hal yang lebih dari cukup untuk membuat hubungan mereka berjalan lancar dan baik. “Aku pikir, hanya aku orang di dunia ini yang terlihat seperti robot yang nggak memiliki perasaan, namun aku salah. Kamu jauh lebih hampa dariku,” Rai tersenyum manis. Amanda tak tahu harus menjadikan ucapan pria itu sebagai pujian atau sebaliknya, namun dirinya merasa nyaman dan tak merasakan sakit saat mendengarkan kebenaran yang keluar dari bibir pria itu. Orang-orang selalu menganggapnya mengerikan karena tak berperasaan, namun Rai terlihat tak peduli karena memang perasaan bukanlah hal yang harus ada di antara mereka. “Sayangnya, semakin kamu bersikap seperti ini, aku semakin penasaran denganmu,” Rai menunjukkan ketertarikannya pada Amanda, “Mungkin suatu saat nanti, kamu akan membagi sedikit kisahmu denganku dan mengurangi sedikit rasa penasaranku.” Amanda tersenyum dan mengangguk. “Ya, mungkin,” jawabnya singkat. Sesungguhnya, bukan hanya pria itu yang penasaran dengan dirinya. Amanda pun merasakan hal yang sama. Apalagi saat mendengarkan pembicaraan pria itu dengan karibnya tadi. Sayangnya, Amanda hanyalah seorang wanita bayaran yang tak butuh menerima penjelasan apa pun dari Rai. “Mungkin, untuk saat ini, kita bisa memulai hubungan ini dengan pertemanan,” ucap Rai antusias, “Bagaimana menurutmu, apakah kamu mau menjadi temanku?” pria itu mengulurkan tangannya pada Amanda, sedang Amanda menatap kosong uluran tangan pria itu. Berteman, apakah artinya dirinya kini bisa menamai hubungan aneh di antara mereka dengan sebutan pertemanan? Apakah bila suatu saat nanti, secara tak sengaja pria itu bertemu kenalannya, ia tak harus bersikap asing dan boleh diperkenalkan sebagai teman Rai? Apakah itu artinya, mereka bisa berbagi sedikit rahasia? Apakah Rai sungguh ingin menjadi temannya? “Kenapa? Nggak mau menjadi temanku?” tanya Rai lagi sembari menggerak-gerakkan tangannya di udara karena tak kunjung mendapatkan sambutan dari Amanda. Sementara wanita itu tersenyum dan menggeleng. Dengan cepat, Amanda menerima uluran tangan Rai. “Tentu saja aku mau. Kalau begitu, hubungan di antara kita adalah pertemanan,” ucap Amanda memastikan, membuat Rai tergelak karena rasa ganjal yang tiba-tiba saja merasuki sanubarinya. Ada rasa senang yang meliputi hatinya. Ia yakin, Amanda akan menjadi temannya yang baik. Wanita itu yang mampu membuatnya menjadi dirinya sendiri. Ia tak perlu berpura-pura di hadapan Amanda, begitupun dengan wanita itu. Mungkin, suatu saat nanti mereka bisa saling berbagi rahasia dan membuat pertemanan di antara mereka tak lagi terasa ganjal. “Karena kita sudah berteman, kamu harus menceritakan tentangmu denganku.” Amanda tergelak, “Apa artinya, aku juga bisa bertanya sedikit kisah tentangmu?” Pertanyaan Amanda membuat Rai terpaku sesaat. “Kupikir, kamu nggak mau mengetahui apa pun tentangku. Sejak kapan, kamu berminat mengetahui kisah tentangku? Apa yang tiba-tiba membuatmu merasa tertarik?” pria itu menatap Amanda dengan tatapan meneliti. Amanda mengendikkan kedua bahunya dengan tak acuh. “Entahlah, mungkin karena kamu terus ingin mengetahui tentangku, jadi aku pun mau melakukan hal yang sama.” Rai tergelak. “Baiklah, mungkin suatu saat nanti.” Amanda mengangguk dan menganggap perkataan Rai sebagai janji. Suatu saat nanti, mereka mungkin akan merasa nyaman untuk berbagi rahasia di antara mereka. Mungkin akan ada hari di mana mereka bisa merasa nyaman seperti sepasang teman pada umumnya yang mampu berbagi banyak hal dengan mudahnya. Ya, hari itu pasti akan tiba. Keterbiasaan yang mulai membuat mereka nyaman berbicara, lalu naik tingkat sebagai pertemanan, dan tidak mustahil bila suatu saat nanti mereka akan kembali menaikkan tingkat pertemanan yang mampu membuat keduanya hidup berdampingan dengan bahagia. Impian Amanda cukup sederhana. Ia hanya ingin bahagia. Sebagai wanita yang dibeli ataupun teman, ia tak peduli. Selama dirinya mampu menemukan arti kebahagiaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN