Haruskah Aku Merasa Senang?

2287 Kata
Hidup adalah tentang pilihan. Kau diberikan pilihan dan semua keputusan ada di tanganmu, namun salah memilih bisa membuat hidup dan hatimu hancur berantakan. Akan tetapi, hidup adalah tentang mengambil resiko. Apabila kau terus memaksa berada di zona nyaman, maka sampai kapanpun kau tak ‘kan tahu apa yang akan menunggumu di luar zona nyaman yang membuatmu takut untuk menentukan pilihan. “Kamu hanya memesan nasi goreng?” tanya pria itu memecahkan keheningan di antara mereka. Amanda mengangguk tanpa ingin bersusah payah mengadahkan wajah hanya untuk sekadar mencari tahu ekspresi wajah pria di hadapannya. Entah mengapa, Amanda selalu merasa tak nyaman bila ada seorang pria yang mendekatinya dan berusaha menjadi akrab. Ia tak pernah merasa aman, bila ada lawan jenis yang mendekatinya karena merasa tertarik padanya. Mungkin sebab ini pula yang membuatnya nekad dan menerima tawaran Rai karena pria itu tak ‘kan mungkin tertarik padanya. “Ya, aku nggak punya cukup uang untuk memesan makanan yang lebih dari ini,” Amanda berusaha jujur. Ia pun tak ingin pria itu malah semakin mengajaknya berbicara bila ia memberikan alasan lainnya. Amanda sadar, tak seharusnya ia duduk lebih lama bersama Jansen. “Tampaknya, aku harus segera kembali. Selamat menikmati makananmu,” ucap Amanda yang hendak beranjak berdiri, namun Jansen mencegahnya dengan mencengkram pergelangan tangan wanita itu. Amanda menatap pria itu dengan tatapan tak suka dan mendengkus kesal. “Apa lagi yang kamu inginkan? Aku harus segera kembali ke kamarku,” lanjut Amanda dengan wajah datar. Ingin rasanya ia memberitahukan hal yang sebenarnya, namun lidahnya terasa kelu, ia tak mempunyai hak untuk mengungkapkan kebenaran pada seorang kenalan Rai. “Ayolah … jika kamu nggak ada uang lebih untuk memesan makanan lain, kamu bisa berbagi makanan denganku. Lagipula, aku sengaja memesan makanan lebih untuk disantap berdua denganmu. Jika kamu pergi, maka semua makanan yang kupesan akan terbuang secara sia-sia. Aku merasa nggak tega membuang makanan, tetapi nggak bisa memaksakan perut.” Pria itu menatap Amanda dengan tatapan memelas, sedang Amanda menjadi serba salah. Sebagai orang yang kerap menahan lapar dan kesusahan mencari uang hanya untuk mengisi perut, membuang makanan adalah hal yang palimg dibencinya. Dirinya sering mengutuk orang-orang yang dengan mudah menyisakan makanan mereka di piring, lalu berlalu begitu saja. Tak merasa sedikitpun bersalah dengan makanan yang dibuang. Apa mereka tak pernah berpikir, jika makanan yang tersisa itu bisa sangat berarti bagi sebagian manusia di luar sana? “Itu urusanmu. Kamu yang memesan, jadi kamu yang harus mencari cara bagaimana cara menghabiskannya. Aku nggak bisa membantumu dalam hal ini.” Amanda berusaha tetap pada pendiriannya. Jika berlama-lama terjebak di sana, maka semuanya akan menjadi kacau. “Aku pikir, kamu bukanlah orang yang tega membuang makanan,” pria itu tersenyum manis pada Amanda, “Aku bisa menebak dengan bagaimana caramu menghabiskan makanan di piring hingga bersih dan tak bersisa,” lanjut pria itu penuh percaya diri. Amanda tersenyum miring, merasa tak suka bagaimana mudah dirinya ditebak oleh seorang asing seperti Jansen. “Duduklah dulu. Aku akan mentraktir makananmu dan kamu harus membantuku juga menghabiskan makanan yang kupesan,” ucap pria itu dengan nada memohon, “Anggap saja, semua ini sebagai ucapan terima kasihku karena membiarkanku duduk bergabung bersamamu.” Amanda menatap pria di hadapannya dengan tatapan meneliti. Ia tak ingin terhutang budi kepada seorang asing yang harus dihindarinya seperti Jansen. Akan tetapi, dirinya juga takut bila kepergiannya dari sana justru membuat Jansen merasa jika ia tengah memainkan trik Tarik ulur dan membuat pria itu semakin ingin mengejarnya. Bagaimana bila pria itu melihatnya bersama Rai? Amanda bukannya besar kepala atau merasa dirinya sangat cantik hingga layak dikejar, akan tetapi ia memiliki banyak pengalaman tentang kaum adam yang ditolaknya. Keuntungan dari hidup mengasingkan diri dari dunia adalah kau memiliki banyak waktu untuk menganalisa berbagai macam manusia yang berada di sekitarmu. Begitupun dengan para kaum adam yang selalu gencar bila ditolak mentah-mentah oleh Amanda. Ada yang marah, ada yang semakin menggila, dan sebagian lagi membenci Amanda dengan sepenuh hatinya. Amanda bisa menebak, jika bukan karena wajah cantik yang membuat banyak orang tertarik padanya, namun karena sikap dinginnya, hingga membuat para lelaki itu penasaran pada dirinya. “Meski aku bilang uangku nggak cukup untuk membeli makanan lain selain nasi goreng, bukan berarti aku nggak mempunyai uang untuk membayar apa yang sudah kupesan.” Jansen mendadak khawatir mendengarkan ucapan Amanda yang terdengar tersingung oleh perkataannya. Ia mencengkram kedua lengan Amanda. “Maaf kalau kamu tersinggung dengan perkataanku. Aku nggak bermaksud seperti itu,” Jansen menatap ke dalam manik Amanda dan berusaha meyakinkan wanita itu akan niat baiknya. “Aku hanya ingin bersikap baik dan nggak berhutang budi pada seseorang. Oleh karena itu, aku ingin mentraktirmu makan sebagai ucapan terima kasih,” pria itu kembali menjelaskan, sedang Amanda dapat melihat kesungguhan dalam manik mata Jansen. Amanda tak menyangka jika dirinya sama dengan pria itu. Mereka adalah golongan orang yang tak suka berhutang budi. Bolehkah dengan alasan ini, Amanda kembali duduk dan ikut membantu pria itu menyantap beberapa makanan yang dipesannya? “Percayalah. Aku hanya ingin makan berasamamu. Sebenarnya, selain membalas budi, aku nggak suka makan sendiri,” lanjut Jansen seraya menunjukkan wajah sedih pada Amanda. Wanita itu menyerah, ia tak mungkin bisa terus bersikap menolak dan membiarkan pria itu semakin memelas. Meski Amanda ingin bersikap dingin dan kejam, akan tetapi ia tak bisa membunuh sisi kemanusiaannya. Biarlah kali ini ia mengalah dan bisa kembali pada Rai. “Baiklah, dengan satu syarat,” ucap Amanda dengan nada mengancam. Pria itu menatukan kedua alisnya. “Katakan apa syaratnya dan aku akan mencoba memenuhi permintaanmu,” Jansen memasang wajah serius. “Jangan bertanya masalah pribadi. Jangan berusaha mengorek informasi tentang diriku dan jangan sok akrab denganku,” ucap Amanda dingin, sedang Jansen terpaku sesaatu melihat perkataan dan sikap Amanda. Tawa pria itu membuat Amanda menaikkan sebelah alisnya dan menatap Jansen dengan tatapan penuh tanya. Sadar bila tawanya membuat Amanda tak suka, Jansen segera menghentikan tawanya dan menggerak-gerakkan tangannya di udara, memberi tanda agar Amanda tak salah paham dengan sikapnya barusan. “Maaf, perkataan dan sikapmu membuatku teringat akan seseorang. Aku nggak bermaksud mengejekmu,” pria itu berdehem, “Aku akan menuruti permintaanmu dan yang kuinginkan hanyalah teman makan saja. Aku janji, nggak akan bersikap menyebalkan lagi. Lagipula, aku sudah mengatakan kalau aku akan mengetahui tentangmu bila kita kembali dipertemukan oleh takdir, jadi sekarang kita hanyalah seorang asing yang makan bersama.” Amanda segera duduk begitu melihat kesungguhan di dalam manik mata Jansen. Ia akan menuruti permintaan pria itu agar bisa segera pergi dari sana. Jansen mendorong makanan yang dipesannya mendekat pada Amanda, sedang Amanda segera menyantapnya tanpa suara. Dalam diam, Jansen memperhatikan Amanda yang sebenarnya sangat cantik. Wanita itu tak seperti seorang gadis desa yang polos atau miskin. Kulitnya yang putih, alis yang teratur, hidung mancung, bibir merah alami, dan juga mata bulat bak boneka. Jansen sendiri tak mampu menghindar dari pesona Amanda di pertemuan pertama mereka. Kecantikan wanita itu seakan mengalihkan pandangannya. Saat berbicara dengan Rai pun, sesekali Jansen mencuri pandang ke arah Amanda yang tak bergeming dan terlihat tenggelam dalam novel yang dibacanya. Sejujurnya, Jansen hanya menggunakan Rai agar memiliki alasan lebih lama untuk memperhatikan wajah wanita yang menarik perhatiannya di pertemuan pertama mereka. “Kamu suka membaca novel misteri?” Jansen membuka pembicaraan. Amanda mengadahkan wajah dan menatap Jansen tajam, sedang yang ditatap merasa paham jika Amanda tak suka bila dirinya mencoba melanggar persyaratan yang Amanda ajukan. Jansen tak boleh mengetahui hal pribadi ataupun sesuatu tentang diri Amanda. “Aku nggak berusaha mencari tahu tentangmu. Hanya saja, novel yang kamu baca adalah dari penulis kegemaranku juga. Aku sudah membaca novel yang kamu baca di bandara,” Jansen berusaha menjelaskan. Ia tak ingin kembali merusak suasana. Ia lebih suka mereka saling berdiam diri, asalkan Amanda mau duduk bersamanya dan menyantap makanan dalam hening. “Aku menyukai karyanya dan kalau kamu sudah membaca novel yang k****a, jangan spoiler. Sebagai pecintai novel misteri, kamu pasti tahu kalau spoiler tentang akhir cerita bisa membuat suasana hatimu sangat buruk dan merusak keinginanmu melanjutkan bacaanmu.” Amanda memperingati sembari menatap Jansen dengan tatapan penuh pengancaman, sedang yang diperingati malah tergelak pelan. Pria itu menggerak-gerakkan tangannya di udara. Sungguh, Amanda adalah seorang yang tak bisa ditebak dan diluluhkan dengan mudah. Sebagian diri Jansen semakin tertarik dengan sikap Amanda. Dalam hati, ia memutuskan untuk mengejar Amanda bila takdir kembali mempertemukan mereka. Tidak, kali ini Jansen tak ‘kan mempertaruhkan pertemuan dan nasib percintaannya pada Sang takdir. Diam-diam, Jansen akan menyelidiki tentang Amanda. Ia tak mungkin bisa tidur tenang bila saat ini benaknya terus diganggu dengan sosok Amanda yang tak mau pergi. “Tenang saja, aku nggak akan memberikan spoiler apa pun tentang akhir ceritanya,” Jansen tersenyum manis, “Setidaknya, kini aku tahu kalau kita punya kesamaan,” lanjut pria itu seraya tersenyum lebar, membuat Amanda mendengkus kesal. Jansen berusaha mencairkan suasana dengan menceritakan beberapa kisah novel misteri dan ternyata cara itu ampuh untuk membuat Amanda mau berbicara dengannya. Meski, topic yang menjadi bahan obrolan mereka hanya seputaran kisah novel yang keduanya pernah baca, namun Jansen menyukai perubahan suasana di antara mereka. Ternyata, bukan hanya cantik. Amanda yang dingin dan terlihat tak tersentuh itu adalah seorang wanita yang cerdas dengan beberapa bahan bacaan berat yang tak disangka Jansen akan disukai oleh seorang wanita. Beberapa menit kemudian, tawa pun telah menghiasi kebersamaan mereka, membuat Jansen ingin memperpanjang waktu atau sekadar menghentikan waktu agar bisa lebih lama duduk berdua bersama Amanda dan berbagi cerita. Beberapa menit kemudian, makanan di hadapan mereka sudah mulai habis, membuat kesedihan merasuki sanubari Jansen. Ia tak lagi memiliki alasan untuk membuat Amanda tinggal lebih lama bersamanya dan bercerita. Apalagi wanita itu sudah kembali menunjukkan wajah ingin segera pergi dan tak nyaman yang sempat wanita itu tunjukkan padanya. “Ini pesanan Anda,” seorang pramusaji menghentikan pembicaraan keduanya. Jansen tersenyum lirih begitu melihat makanan pesanan yang dibungkus Amanda sudah diletakkan di meja mereka. Semula, Jansen ingin bertanya untuk siapa makanan itu, namun diurungkannya. “Terima kasih untuk semuanya,” ucap Amanda seraya berdiri, diikuti dengan Jansen. Ingin rasanya ia mencegah Amanda pergi, namun dirinya tak berdaya. Akan tetapi, entah kegilaan ataupun keberanian dari mana yang membuat Jansen kembali menarik pergelangan tangan Amanda yang hendak membalik tubuh. Ia hanya diam dan menatap wajah Amanda lekat-lekat seakan ingin mematri setiap bagian terindah dari wanita di hadapannya ke dalam hati. “Ada apa?” pertanyaan Amanda membuyarkan lamunan Jansen, namun ia tak memiliki kata-kata yang bisa diucapkannya untuk mejelaskan alasan perbuatannya. Kini, keduanya hanya diam dan saling bersitatap. Jansen tak tahu, bila ada kata yang begitu sulit diucapkan. “Kamu di sini,” suara seorang lelaki membuyarkan fokus keduanya. Amanda segera mengarahkan pandangannya ke samping, begitupun dengan Jansen. Wajah keduanya menunjukkan keterkejutan yang sama, sedang yang ditatap hanya memasang wajah datar. Ketakutan mulai merasuki sanubari Amanda ketika pria di sampingnya mengarahkan pandangannya pada tangan Jansen yang mencengkram pergelangan tangannya. Amanda yang sadar bila pria itu pasti tak suka bila Amanda berkawan dengan temannya pun segera melepaskan cengkraman tangan Jansen dengan kasar, membuat pria itu kembali menoleh padanya. Amanda tahu, bila dirinya harus kembali bersikap asing dan berlalu pergi dari sana. Ia bisa menggunakan kesempatan yang ada dan menyerahkan kelanjutan cerita karangannya pada pria yang tak lain adalah Rai. Amanda mencengkram erat plastik yang dibawanya dan hendak beranjak pergi, namun kali ini yang menghentikannya bukan Jansen, melainkan Rai yang mencengkram pergelangan tangannya dan menatap Amanda dengan tatapan tajam. Amanda menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha mencernak maksud dari perbuatan pria itu. Apa yang pria itu ingin ia lakukan dan mengapa pria itu malah menghentikan langkahnya dengan cara seperti ini? Apakah pria itu tak akan mendapatkan masalah bila Jansen bertanya-tanya maksud dari perbuatan Rai? Apa yang akan pria itu jelaskan pada Jansen bila temannya itu mulai bersikap ingin tahu dan menanyakan hubungan keduanya? “Hei, Rai. Aku nggak tahu kalau kamu pun menginap di hotel ini,” ucap Jansen yang berusaha mencairkan ketegangan yang tak dimengertinya. Pria itu menepuk pelan lengan Rai. Perbuatan Jansen tak mampu membuat Rai bergeming ataupun merespon sahabatnya itu. Rai masih betah bersitatap dengan Amanda dalam diam, seolah menunggu penjelasan dari wanita itu. Amanda semakin tak mengerti apa yang harus diperbuatnya dan memilih diam. “Aku mencarimu ke mana-mana dan ternyata kamu di sini,” ucap Rai lagi yang membuat Jansen dan Amanda kaget di saat yang bersamaan. Apa yang pria itu lakukan? Benak Amanda terus mengulang pertanyaan yang sama. “Apa kamu mengenal wanita itu Rai?” Jansen tak lagi bisa menahan rasa penasarannya, “Siapa dia dan apa hubunganmu dengannya?” lanjut Jansen yang mulai merasa sesak di dadanya. Rai tersenyum tanpa menoleh ke arah Jansen, sedang Amanda meneliti sepasang mata Rai. Jantungnya berdegub kencang tanpa bisa dihentikannnya. Amanda tak sabar menunggu jawaban yang akan diberikan pria itu pada sahabatnya. Rai menggenggam tangan Amanda, lalu membalik tubuhnya ke arah Jansen. Pria itu tersenyum pada sahabatnya dan berkata. “Dia adalah seseorang yang ku kenal dan kami ingin segera pergi dari sini.” Rai mengeratkan genggaman tangannya pada Amanda dan memberikan senyum tipis pada Jansen yang semakin kebingungan dengan jawaban Rai. Tanpa ingin menunggu rentetan pertanyaan yang akan diberikan Jansen padanya, Rai segera menarik tangan Amanda dan mengajak wanita itu untuk pergi meninggalkan Jansen yang hanya bisa menatap punggung keduanya dengan tatapan penuh tanya. Rai tak lagi menoleh pada Amanda, sedang wanita itu sesekali menatap Rai dan hatinya tak bisa tenang. Rasa penasaran merasuki sanubarinya, menempati setiap relung hatinya. Akan tetapi, ada perasaan aneh yang menyelinap masuk ke dalam hati Amanda. Meski, Rai tak mengatakan status sebenar di antara mereka berdua, namun Amanda tak bisa mencegah kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Jantungnya bahkan berdegub begitu liar. Sampai-sampai Amanda takut bila pria itu mampu mendengarkan suara jantungnya yang berdetak tak normal. Kehangatan genggaman mereka, seakan menjalar ke penjuru hati Amanda. Haruskah Amanda senang dengan perasaan ini? Nyatanya, Amanda gembira karena pria itu tak berlagak asing lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN