BAB 07 the First Strike

1688 Kata
~ Reminder: Chapter ini mungkin triggering buat sebagian pembaca, mohon kebijaksanaannya. ~ ---o0o--- Suara bising musik DJ seperti langsung hilang saat Hades dan Selena memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, gelap, serta dilengkapi dengan peredam suara. Namun keterkejutan Selena tak pernah bisa berkurang karena pemandangan yang ada diluar ternyata juga sampai ada ditempat ini. Bahkan lebih gila menurutnya. Ini adalah pesta yang minim biaya pakaian dan hanya bermodalkan naluri alamiah berkembang biak dari para manusia yang dibekali otak dan pikiran yang seharusnya sehat. Selena langsung beringsut ke belakang Hades dan bersembunyi di balik punggung lebar pria itu. Ia tidak sanggup menyaksikan pemandangan yang menjijikkan dihadapan matanya. Jika sebelumnya Selena sempat berpikir bahwa perlakuan Hades padanya sudah diluar nalar, kini ia justru merasa aman dibalik punggung Hades meskipun ia juga takut dan membenci pria itu. “Tak bisakah aku menunggu di luar saja? Aku janji tidak akan kabur,” pinta Selena dengan nada memohon dari balik punggung Hades. “Menurutlah Selena,” geram Hades. Pemandangan didepannya benar-benar memancing kebutuhan dasarnya yang sudah tertahan beberapa hari. “Ini menjijikkan, Hades!” “Sekali lagi kau bicara, aku akan membuatmu bergabung dengan mereka!” Hades membawa Selena ke sofa panjang di samping pria yang tengah dikerubuti para perempuan yang sedang menikmati tubuhnya. Ia duduk tenang disana, begitu juga Selena yang langsung mendorong punggung Hades supaya tidak bersandar di sandaran sofa yang ia manfaatkan untuk bersembunyi. “Kau terlihat nyaman, Marco,” sapa Hades dengan bahasa Rusia. Pria yang dipanggil Marco itu menghentikan cumbuannya saat mendengar suara Hades, “Apa yang kau lakukan dengan kain-kain itu? Kalau datang ke pestaku, kau tidak diizinkan menggunakan pakaian!” “Kupikir kau akan membahas bisnis denganku,” balas Hades tenang. “Nanti saja! Kau mengganggu kesenanganku,” dengus pria itu. "Hey, jangan menyembunyikan mainanmu! Sepertinya dia cantik dan masih malu-malu, aku ingin mencobanya.” “Oh, dia hanya milikku Marco.” “Semua wanita bisa dimiliki oleh siapapun,” balas Marco percaya diri. “Berikan padaku!” “Kau mau bermain dengannya?” Tanya Hades pada Selena yang masih bersembunyi dibelakangnya. Gadis itu menggeleng cepat. “Tidak mau!” “Dia tidak mau,” jelas Hades pada temannya. Marco terlihat kesal. Ia menyingkirkan semua perempuan yang mengelilinginya dan mendekat kearah Hades dan Selena. “Jika aku tak bersedia memberikannya, kesepakatan kita batal,” ancam Marco. “Mana bisa begitu?” Protes Hades kesal. “Dia hanya mainan, buat apa mendengarkan keinginan perempuan? Berikan dia padaku dan aku akan langsung menandatangani kontrak itu.” Hades terlihat sedang mempertimbangkan penawaran itu. Namun, dalam hatinya ia tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi miliknya dengan orang lain. “Tidak. Kalau aku memberikannya padamu, artinya aku harus membuangnya karena aku tidak suka berbagi. Sementara aku masih belum bosan dengannya,” tolak Hades keras. Marco mengepalkan tangannya dengan keras dan ia terlihat begitu marah. Pria itu kemudian menghela nafasnya kasar sebelum kembali membuat penawaran pada Hades. “Oke! Aku hanya akan bermain dengan bagian atasnya, aku menginginkan bibirnya disini,” tunjuk Marco pada benda pusakanya yang berdiri tegak dan membuat Hades mengumpat kesal. Sayangnya, pria itu kesulitan menolak, mengingat Marco saat ini memiliki posisi yang lebih tinggi dalam kesepakatan ini daripada dirinya. Belum selesai Hades membuat keputusan, Marco sudah menjambak rambut Selena dan membuat gadis itu mendongak menatapnya yang berdiri dalam keadaan polos dihadapannya. “Aaakkk!” Teriak Selena kesakitan. Ia menolehkan kepalanya kearah Hades dan memandang pria itu memelas meminta pertolongan. “Kau terlalu lama berpikir,” cemooh Marco. Hades menghela nafasnya dan mulai bersandar di sandaran sofa yang sebelumnya tak bisa ia lakukan karena Selena ada di belakangnya. “Dia ingin bibirmu,” ujar Hades memberikan penjelasan. Selena membelalakkan matanya tak percaya. Gadis itupun menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. “Tidak, Hades. Kumohon jangan lakukan ini padaku! Aku ‘kan sudah mengikuti semua perintahmu!” “Kalau kau menolaknya, aku bisa kehilangan kontrak bisnisku.” “Kk-kau menjualku?” Tanya Selena tak percaya. “Kalian belum selesai bicara?” Marco sudah tidak sabar. Ia semakin mengeratkan jambakannya pada rambut Selena dan rintihan kesakitan meluncur dari bibir gadis itu. “Ingat, hanya bagian atas, Marco,” Hades memperingatkan tanpa menatap mata Selena yang terus memohon. Marco yang terlalu senang telah diberikan izin itu langsung memaksa Selena untuk membuka mulutnya. Tanpa ragu ia menyumpal mulut Selena dengan pusakanya hingga lelehan air mata semakin membanjiri pipi wanita itu. Sayangnya, Marco justru semakin menyukainya. Hades tidak ingin melihat hal itu, ia memilih untuk meladeni perempuan-perempuan pesanan Marco yang kini berganti mengincarnya. Dari sudut matanya, Hades melihat beberapa pria lain yang mendekati Selena atas perintah Marco dan mereka mulai ikut bermain bersama sang pemilik pesta. Hades yang juga sedang menikmati hidangannya ternyata tidak sedikit pun lengah mengawasi Marco dan teman-temannya, berjaga-jaga jika mereka melewati batas yang telah disepakati. Meskipun demikian, Selena sudah kembali sangat hancur. Rasanya seperti saat pertama kali Hades mengambil kehormatannya sebulan yang lalu. Pada titik ini, ia lebih memilih mati daripada menjadi pemuas pria-pria amoral yang seharusnya tidak berhak menghirup oksigen di muka bumi. ---o0o--- Waktu sudah menunjukkan pukul lima dini hari saat Hades dan Selena kembali sampai di penthouse. Sejak kejadian pemaksaan Marco tadi, Selena tak berhenti menangis hingga membuatnya kelelahan dan tertidur selama perjalanan. Entah dimana untungnya, tapi Marco dan teman-temannya menepati janjinya pada Hades untuk tidak meniduri Selena. Namun sekali lagi, dimana untungnya jika dengan hal itu saja sudah membuat Selena kembali hancur. Sekitar dua jam kemudian Selena terbangun. Perasaan hancur, kecewa, marah, dan benci itu sama sekali belum hilang dari dirinya. Ia bahkan kembali menangis dengan posisi duduk meringkuknya. Selena merasa lebih dari kotor setelah tubuhnya dijamah banyak pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Tok tok Pintu kamarnya diketuk dari luar dan tak lama kemudian Rosalie muncul dari baliknya. Rosalie selalu mengetuk pintu kamar Selena meskipun ia yang menguncinya dari luar. Ia bermaksud untuk memperingatkan penghuni didalamnya bahwa aka nada orang yang memasuki kamar itu. Rosalie membawakan nampan sarapan yang berupa sandwich bacon dan s**u coklat. Saat meletakkannya diatas nakas, netranya fokus pada Selena yang tengah membenamkan kepala diantara lututnya dan terus menangis. Penampilan gadis itu bahkan sangat acak-acakan. Namun Rosalie tidak berani bertanya apapun karena ia memang dilarang untuk berkomunikasi dengan Selena. “Silahkan menikmati sarapan anda, nona!” Selalu hanya kalimat itu yang diucapkan oleh Rosalie. Jika biasanya Selena akan berterima kasih, namun kali ini gadis itu sama sekali tak membalasnya. Menatapnya saja tidak. Akhirnya Rosalie kembali keluar dan mengunci pintu kamar Selena. Hingga siang tiba, Selena masih belum bergerak dari posisinya. Bahkan saat Rosalie kembali mengantarkan makan siangnya pun, ia masih tak merespon dan terus terisak. Nampan sarapannya pun masih utuh tak tersentuh sama sekali. Rosalie ingin menanyakan keadaan gadis itu, tapi ia terlalu takut pada Hades. Hingga akhirnya ia hanya mengambil nampan sarapan itu dan menggantinya dengan menu makan siang Selena. Kejadian yang serupa terus berlanjut hingga malam hari. Sehingga satu hari ini tak ada makanan ataupun setetes airpun yang masuk ke perut Selena. Gadis itu memang sengaja melakukan mogok makan sebagai bentuk protesnya atas perlakuan Hades semalam. Ia bahkan berharap untuk bisa mati kelaparan karena Selena yakin, kejadian semalam pasti akan terjadi lagi di masa depan. Dan sekali lagi, Selena merasa lebih baik mati daripada benar-benar menjadi p*****r. ---o0o--- Hades yang setiap malam selalu mengunjungi Selena pun kembali melihat keadaan gadis itu. Ia juga mendapatkan laporan dari Rosalie mengenai Selena yang sama sekali tak memakan makanannya, sehingga ia kembali membawa nampan berisi makan malam Selena untuk memaksa gadis itu makan. “Makan, Selena! Seharian perutmu kosong memangnya tidak lapar?” Tanya Hades yang sudah meletakkan nampan makanan Selena diatas kasur. Selena tidak bergeming. Ia masih menyembunyikan kepalanya diantara lutut. “Makan sendiri atau aku yang akan memaksamu makan?” Tanya Hades dengan nada tinggi yang masih tak digubris Selena. Hades yang mulai kehilangan kesabaran pun menarik rambut gadis itu hingga ia mengangkat kepalanya sambil meringis kesakitan. Terlihat jelas bekas air mata yang sudah mongering dipipinya yang sama sekali tidak membuat Hades merasa kasihan. “Makan!” Perintah Hades lagi. Namun Selena masih menutup rapat mulutnya. Dengan jengah Hades mengambil sendok yang berisi makanan dan mencoba menjejalkannya ke mulut Selena. Sayangnya, tangan gadis itu menampik sendok didepannya hingga membuat makanan berhanburan di kasurnya. PLAKK Hades menampar Selena dengan keras. Ia marah dengan sifat keras kepala gadis itu yang kembali tak menuruti perintahnya. Meskipun tamparan itu begitu keras, namun Selena sama sekali tak mengeluarkan suaranya dan hanya menyentuh pipinya yang memerah. Netranya menatap Hades nyalang meskipun dengan berkaca-kaca. “Kau tahu tangismu bagaikan musik ditelingaku, Selena.” Ujar Hades datar. Tangan kiri Hades menyingkirkan tangan Selena dari pipinya dan mulai mencengkeram rahang gadis itu dengan keras hingga membuatnya membuka mulutnya. Kesempatan ini Hades gunakan untuk kembali menjejalkan makanan ke mulut Selena yang sayangnya langsung disemburkan kembali dan mengenai wajah Hades. PLAKK PLAKK Kini Hades menampar kedua pipi Selena bolak balik. Ia kemudian mengambil tissue dari atas nakas dan membersihkan sisa makanan dari wajahnya. “Maumu apa sebenarnya? Disuruh makan saja susah!” Sungut Hades. “Fuckk off!” Seru Selena nyalang. Pria itu menampakkan senyum menyeringainya dengan tatapan membunuh. Lalu ia kembali mencengkeram rahang Selena yang sayangnya terus tertutup rapat. Tak kehabisan akal, kini Hades menjepit hidung Selena dan membuat gadis itu tak bisa bernafas. Mau tidak mau ia harus membuka mulutnya untuk bisa bernafas. Dan hal itu dimanfaatkan oleh Hades untuk mengguyurkan s**u ke tenggorokan Selena hingga ia terbatu-batuk karena tersedak. Hades tersenyum puas dan ia mengacak rambut Selena yang berantakan. Dengan tanpa membersihkan sisa-sisa makanan yang dibuang oleh Selena, Hades segera melangkah pergi. Namun ia berhenti tepat saat tangannya memegang kenop pintu. “Kalau besok kau masih menolak makan, bersiaplah menerima hukumanmu.” Hades telah menghilang, kamar Selena juga telah dikunci kembali, sementara gadis itu masih berusaha menormalkan nafas serta detak jantungnya. Selena kini membulatkan tekatnya. Ia beranjak dari atas ranjang dan berjalan lemah kearah kamar mandi dan mulai mengisi bath up-nya. Tanpa menanggalkan pakaiannya, ia masuk kedalam bath up itu. Dengan pandangan kosong, ia mulai berbaring disana sambil menutup mata dan membiarkan air terus mengisi bak itu hingga meluap. ‘Maafkan Lena, Mom, Dad. Tapi Lena benar-benar tidak bisa hidup seperti ini. Tolong ikhlaskan Lena!’ ---o0o---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN