Selena terus menangis kencang di dalam ruangan gelap kantor Hades. Ia duduk di sofa dengan sesenggukan, tubuh yang gemetar terutama tangannya, dan bibir yang tak berhenti menyebut dirinya sendiri adalah pembunuh. Pada akhirnya, kejadian barusan yang bisa memaksa Selena kembali berbicara mengeluarkan suaranya. Sudah lima belas menit ia didalam sana bersama James yang menjaganya. Namun pria itu juga tak bisa berbuat banyak selain diam karena memang itulah tugasnya. Suasana duka sangat terasa diantara keduanya. “Kk-kenapa bukan aku saja yang mati?” Selena kembali merancau. “Aa-aku tidak mau jadi pembunuh.” “Kau berani membunuh dirimu sendiri tapi merengek setelah membunuh orang lain? Mulia sekali hatimu?” Cibir James dengan perasaan dongkol. “Aa-aku pembunuh.” Gumam Selena lirih. “Tak bi

