"Kamu ngapain di sini?" tanyaku pada pria yang sedari tadi terus melihatku dan Devano. "Kamu kenal, dia?" Devano bertanya. Aku menganggukkan kepala. Sedangkan pria yang berdiri di antara aku dan Devano, mengulurkan tangan ke arah pengacaraku seraya menyebutkan namanya. "Soni. Adik ipar Mbak Ranum." Devano manggut-manggut, lalu menerima uluran tangan adik dari suamiku itu. Keberadaan Soni di sini bukanlah rencanaku. Dia yang berinisiatif mengikutiku ketika melihat kendaraanku di jalan tadi. Devano sempat mencurigai Soni. Dia menganggap, Soni berada di pihak Mas Sandi dengan memata-mataiku. Namun, segera kujelaskan jika adik iparku itu berada di pihakku. Soni juga bersedia menjadi saksi di persidangan perceraianku nanti. "Kita harus masuk, Num," ujar Devano setelah beberapa

