Senyum Palsu

1144 Kata
Nampan di tangan Elena terlepas. Cangkir kopi itu jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai. Suara itu memecah keheningan, membuat percakapan di dalam ruangan langsung berhenti. Elena perlahan mundur, dan bibi Mila, paruh baya yang sudah lama bekerja pada keluarga Elena itu langsung menatap Elena sendu. "Non Elena... Ada apa...?" tanyanya. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah wanita itu, tapi Elena hanya menggeleng. Air mata Elena mengalir tanpa bisa dia tahan, dan bibi Mila langsung berjongkok untuk membersihkan sisa pecahan gelas dan cairan kopi yang tumpah di nampan itu. Elena menoleh ke arah celah pintu itu, dan menyadari jika ada pergerakan dari arah dalam ruangan itu. Pandangan Elena kembali tertuju pada paruh baya itu lagi, lalu Elena menggeleng, seolah ingin menyampaikan sesuatu, tentang rasa khawatirnya. "Bi... Tolong jangan bilang jika Elena dari tadi di sini. Bilang saja jika Elena baru datang dan tidak sengaja menyenggol lengan Bibi yang sedang membawa nampan kopi!" ucap Elena pada bibi Mila, dan paruh baya itu tentu saja mengangguk setuju, karena bagaimanapun dia tahu bagaimana keluarga Elena memperlakukan Elena selama ini. Jauh berbanding terbalik dengan perlakuan mereka terhadap Gracia, padahal di sini jelas Elena adalah anak bungsu keluarganya, tapi Elena benar-benar diperlakukan seperti anak tiri, bahkan sikap mereka pada Elena tidak lebih baik dari pada sikap mereka pada asisten rumah tangga sekalipun. Pintu ruang kerja itu akhirnya benar-benar terbuka, Ozan juga Arlon muncul di sana. Wajahnya langsung berubah ketika melihat Elena. Pucat, dan matanya menatap syok ke arah Elena... tapi hanya beberapa saat saja. "Elena..." Suara laki-laki itu terdengar panik. Namun Elena hanya menatapnya dengan tatapan takut. Tatapan takut yang di buat-buat. Elena tidak ingin sedikitpun menunjukkan sisi lemahnya... Sisi seorang wanita yang baru saja kehilangan seluruh alasan untuk tetap percaya pada cinta dan kata-kata manis laki-laki itu. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini...? Bukankah aku memintamu untuk istirahat...?!" ucap Ozan dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Seperti biasa. Laki-laki itu langsung merangkul kedua pundak Elena, lalu memeluknya seolah ingin menenangkan rasa tidak nyaman yang saat ini Elena rasakan "Aku... Aku tadi ingin menemui mu. Aku tidak bisa tidur. Aku butuh bantuan mu untuk memijat punggungku!" ucap Elena asal memberi alasan, dengan suara yang terdengar bergetar. Ozan terdiam sejenak, tapi detik berikutnya dia menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman, kemudian mendaratkan satu kecupan dalam di ujung kepala Elena, seolah cara itu bisa menenangkan wanita yang sedang hamil tujuh bulan itu. "Tidak apa-apa. Maaf jika tadi aku mengabaikan kamu. Aku lupa jika kamu belakangan ini sering sakit punggung, seiring bertambahnya usia kandunganmu. Ayo kita ke kamar. Aku akan memijat punggung mu!" ucap Ozan dengan nada suara yang terdengar sangat lembut, dan penuh perhatian. Ozan berbalik untuk melihat Arlon, tapi Arlon hanya terlihat mencerbikkan bibirnya seolah mengejek kelemahan Ozan ketika di hadapan Elena, sekaligus mencibir sikap manja Elena yang menurutnya sangat norak... Padahal di sini jelas Elena adalah adik kandungnya, tapi Arlon sendiri bahkan tidak merasakan sedikitpun perasaan iba itu pada Elena yang semakin kesulitan dengan perut besarnya. Ozan membawa Elena kembali ke kamarnya sambil merangkulnya penuh perhatian, dan Arlon hanya menatap punggung kedua orang itu, sementara bibi Mila, masih berjongkok mengumpulkan pecahan gelas itu dan mengelap sisa kopi di lantai malam itu. "Sejak kapan Elena ada di sini? Apa dia...?" "Dia baru saja datang saat saya berbelok dengan nampan kopi ini, Den. Saya kurang hati-hati, dan Saya justru menabrak Nona Elena hingga nampan yang saya bawa jatuh!" jawab bibi Mila untuk pertanyaan yang bahkan belum selesai Arlon ucapkan. Arlon langsung berdecak , lalu meninggalkan ruang kerja Ozan, sementara bibi Mila hanya menghela nafas , menatap punggung Arlon yang menjauh , dan tidak peduli dengan kondisi Elena yang sebenarnya juga tidak sedang baik-baik saja, setelah kemarin Elena juga sempat di rawat di rumah sakit karena rasa nyeri yang berlebihan yang dia rasakan dengan kehamilannya, bahkan selama di rawat di rumah sakit, Arlon juga keluarga yang lain tidak sekalipun mengunjungi dan melihat kondisi Elena. Mereka tetap sibuk dengan Gracia yang saat itu juga di rawat di rumah sakit yang sama. Hanya Ozan yang sesekali bolak-balik datang. Bolak balik dari ruangan Gracia dan Elena, bahkan Ozan sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di ruang rawat inap Gracia dibanding menemani istrinya yang sedang merasakan beratnya kehamilan. Dia hanya datang di waktu malam, saat para perawat bahkan sudah terlelap. Di kamar. Elena berbaring dengan tubuh yang terasa bergetar dan kaku. Ozan membantu menaikkan kakinya ke atas ranjang, lalu menutupnya dengan selimut, memastikan Elena sudah hangat dan nyaman. Dia meraih botol minyak zaitun di nakas sebelah tempat tidur Elena, lalu berpindah tempat duduk ke belakang Elena, menyingkap baju yang Elena gunakan, dan dengan cekatan dia menuang minyak zaitun itu lalu mulai memijat punggung hingga pinggang Elena yang belakangan ini memang sering nyeri. Elena tidak bersuara, dia hanya diam. Tidak menuntut penjelasan, karena semua sudah sangat jelas, sementara tangan Ozan tetap bergerak lembut di kulit punggung hingga pinggang Elena, menekannya pelan , agar Elena tidak merasakan sakit . Iya... Rasa sakit itu memang tidak Elena rasakan di sana, tapi luka yang jauh lebih menyakitkan kini bersarang kuat di hatinya. Diam-diam Elena meremas d**a sebelah kirinya, tanpa sadar air matanya jatuh dari bingkai kelopak mata itu setelah dari tadi Elena terus berusaha menahannya agar tidak jatuh. Sungguh, Elena tidak ingin di anggap cengeng, Elena tidak ingin di anggap manja, Elena tidak ingin di anggap terlalu mendramatisir... tapi sialnya, sisi wanita Elena tetap jauh lebih mendominasi, hingga sekarang, meskipun Elena bertekad untuk tidak menunjukan kesedihannya, nyatanya Elena tetap saja runtuh. "Bagaimana. Apa sudah lebih baik?!" tanya Ozan , dan kalimat itu mengalihkan pikiran Elena dari ketidak adilan hidup yang lagi-lagi dia dapatkan. "Iya... Ini sudah lebih baik!" jawab Elena dengan suara sedikit bergetar. Ozan langsung menyadari jika Elena menangis. Dia langsung menarik punggung Elena dan menatap wajahnya. "Kenapa menangis?!" tanyanya lembut dan Elena buru-buru mengusap pipiku, lalu menarik kedua sudut bibirku untuk membentuk sebuah senyuman. Senyum palsu yang Elena tunjukkan demi menutup luka kecewa dalam hatinya. Jika di tanya apa keahlian Elena, mungkin satu-satunya yang bisa Elena andalkan adalah pura-pura tersenyum, meski hati sedang terluka. Tersenyum untuk menunjukkan pada dunia bahwasanya dia baik-baik saja, meski kekecewaan berulang kali dia terima. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang merasa terberkati karena memiliki kamu!" ucap Elena berdusta. Ozan langsung mendaratkan kecupan di bahu Elena, lalu memeluknya sangat erat, seolah Elena lah wanita yang sangat dia cintai. "Aku yang paling beruntung karena memilikimu. Kamu sudah bersedia mengandung anakku pun adalah satu anugerah yang sampai kapanpun aku akan terus merasa berhutang budi padamu!" ucap Ozan yang kembali mendaratkan kecupan di bahu Elena berkali-kali, meski kali ini Elena tidak bereaksi seperti biasanya. Mungkin jika tadi Elena tidak mendengarkan percakapan mereka, Ozan dan Arlon , mungkin Elena akan mengira jika apa yang baru saja Ozan ucapkan itu adalah satu kejujuran, satu ungkapan cinta laki-laki itu. Namun sekarang Elena justru merasa sakit saat Ozan mengucap kalimat indah bernada penuh cinta itu, karena Elena tahu, itu adalah kebohongan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN