“Ly!” Aku menggerakkan kelopak mataku perlahan. Cahaya menyeruak masuk membuatku silau, suara Lean yang memanggilku terus terdengar. Tetapi, kelopak mataku sangat berat untuk dibuka. Perlahan-lahan, aku merasakan pasokan oksigen membuat kondisiku jauh lebih baik. “Anda baik-baik saja?” Aku mengangguk pelan. Aku menyadari, kami sekarang telah berada di ruang kesehatan—tempatku sebelumnya di rawat. Walaupun masih duduk di kursi roda, beberapa alat kembali terpasang ditubuhku. “Apa yang terjadi?” tanyaku dengan suara serak. Lean duduk di pinggir brankar tepat di sebelahku, “Anda tadi kehilangan kesadaran karena tubuh anda kekuarangan pasokan oksigen.” Aku merasakan keadaan mansion masih sama seperti beberapa menit sebelum aku pingsan, “Bagaimana keadaan Gabriel dan V? Apa ada informa

