Kami sampai hingga ke Puncak bagian atas. Hawa dingin menggigit menyambutku ketika turun dari mobil Irza. Beberapa warung memang buka dua puluh empat jam, tapi hampir semua terisi para pengunjung seperti kami. Mereka semua jajan sambil numpang tidur di tempat duduk kayu yang disediakan. Ada beberapa warung malah yang sengaja menyediakan tempat untuk ditiduri, tapi ya seadanya. "Yah gak dapat tempat, Bro." Aga memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. "Jam setengah tiga begini, haha." Irza melirik jam tangannya. "Yasudah ngopi aja yuk." Aku mengajak mereka masuk sebelum membeku. Kami cuma dapat tempat untuk duduk, karena di bagian lain sudah ada beberapa orang yang tertidur di dalam warung. Aku memilih teh manis panas dan panganan hangat untuk mengisi perut. Sementara yang lain memesan

