“Pris... Priska... Ini sarapannya, bangun dulu, ya. Aa suapin makan,” ucap Iqbal lembut, seraya duduk ditepi tempat tidur. Mencoba untuk membangunkan adiknya yang kembali memejamkan mata. Priska membuka matanya, melihat sang kakak ada disana, membuat dirinya merasa sedikit bingung, apa yang sudah terjadi tadi malam antara mereka, membuat keduanya sama-sama merasa canggung. Gadis itu langsung bangun dari posisinya, ia duduk dan bersandar di kepala ranjang. “Kok A’Iqbal yang kesini?” tanya gadis itu, karena yang ia harapkan datang adalah Melya, wanita yang sangat luar biasa baik. “Mba Melya lagi sarapan, Aa udah selesai, jadi Aa yang bawain sarapan buat kamu. Sarapan dulu ya, nanti minum obat,” ujar Iqbal, lalu menyodorkan satu sendok makanan kedepan mulut adiknya. “Priska makan sendiri

