Abi membawa tubuh Melya ke dalam pelukannya, ia sangat mengerti jika sang istri begitu terluka, mendengar kalimat yang tadi Bari ucapkan. Tetapi, disisi lain, Abi merasa itu ungkapan yang spontan Bari ucapkan, karena dirinya sedang terkejut dan panik, mendengar sang putri tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar. Semuanya menjadi semakin rumit, dan rasanya akan semakin sulit untuk di selesaikan. “Sudah, jangan nangis. Umi gak salah apa-apa, ucapan Ayahnya Sisil, jangan di masukan ke dalam hati. Pak Bari lagi panik, karena Sisil menghilang,” ucap Abi lembut, dengan terus mengusap punggung Melya yang bergetar akibat isakan tangisnya. Melya tak menjawab sepatah katapun, ia memilih untuk semakin mengeratkan pelukan tangannya di tubuh sang suami tercinta. Mencari ketenangan dan obat penawar, ata

