CHAPTER 14

2605 Kata
Pukul tujuh tiga puluh malam, Abi sudah tiba di sebuah restoran, dimana ia dan Iqbal sudah membuat kesepakatan untuk bertemu disana. Selain untuk penandatanganan kontrak kerja sama, mereka akan menikmati makan malam bersama malam ini. Bukan tanpa alasan, tetapi mereka yang memang sudah lama sekali tak berjumpa, pastinya akan banyak hal yang ingin mereka bicarakan. Abi sudah lama sekali mengenal Iqbal, keduanya bersahabat dimasa kuliah dulu. Sampai keduanya sukses dengan bisnis masing-masing, hubungan mereka tetap terjalin dengan sangat baik. Bahkan keduanya selalu lancar menjalankan kerjasama dalam bisnis yang mereka jalani. Walaupun di suatu bidang yang berbeda, tetapi usaha mereka saling keterkaitan, sehingga bisa terus menjalankan kerjasama. Sebelumnya Abi sudah memesan satu meja di restoran tersebut, agar memudahkan untuk pertemuannya dengan Iqbal malam ini. Sepuluh menit berlalu, Abi masih menunggu kedatangan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan setia. Satu gelas minuman sudah terhidang dihadapannya, namun ia belum memesan makanan, karena ia lebih memilih untuk menunggu kedatangan Iqbal. Sudah hal biasa bagi Abi dan Iqbal, saat melakukan pertemuan bisnis seperti hari ini, mereka akan lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu, mereka akan menghabiskan waktu untuk berbincang mengenai banyak hal. “Abimanyu...” seru seorang pria yang tak jauh berdiri dihadapan Abi saat ini. Senyum terbit menghiasi wajah Abi, saat melihat orang yang sejak tadi ia tunggu, akhirnya datang juga. “Hei, Bal... Ayo sini,” ajak Abi seraya melambaikan tangannya. “Maaf ya telat, lama nunggu?” ujar Iqbal dengan nada penuh penyesalan, karena hampir tiga puluh menit ia terlambat. Pastinya membuat Abi merasa bosan menunggu kedatangan dirinya. “Iya, gak apa-apa. Santai aja kali, silahkan duduk.” Abi mempersilahkan duduk pada sahabatnya itu, namun selanjutnya pria itu mengernyitkan keningnya, saat melihat ada seorang gadis cantik berdiri tepat di belakang Iqbal. “Oh iya, Bi. Kenalin ini adik ku Priska...” ucap Iqbal memperkenalkan gadis yang datang bersama dengannya. Abi dan Priska saling berjabat tangan dan memperkenalkan nama mereka masing-masing. Walaupun Abi dan Iqbal sudah cukup lama bersahabat, hingga saat ini selalu menjalin kerjasama. Namun, memang malam ini adalah pertama kalinya Abi bertemu dengan Priska. Karena, selama Abi mengenal Iqbal, Priska tinggal bersama kakek dan neneknya diluar kota. Baru saat inilah, ia ikut bersama sang kakak untuk kuliah dikota kembang Bandung. Priska Ayu Tirani, gadis cantik berusia sembilan belas tahun. Seorang mahasiswi di salah satu universitas terkenal di Bandung. Kecantikan Priska terpancar saat gadis itu melebarkan senyumnya, Priska yang cantik, pasti akan membuat banyak mata lelaki mengaguminya. Namun, saat ini ada sebuah kebingungan yang Abi rasakan, untuk apa gadis cantik itu ikut bersama Iqbal menemuinya. Padahal, malam ini adalah pertemuan untuk urusan pekerjaan. Tetapi, Abi tak mau ambil pusing untuk hal itu, selama tak mengganggunya, ia tak akan merasa masalah dengan kehadiran Priska. Setelah saling berkenalan, akhirnya Priska duduk disamping Iqbal dan tepat berhadapan dengan Abi. Iqbal menjelaskan mengapa ada Priska datang bersamanya, ternyata dirinya dan Priska usai mengunjungi salah satu toko buku, karena Priska harus membeli beberapa buku untuk keperluan kuliahnya. Priska yang memang masih baru tinggal di Bandung, belum berani untuk bepergian sendiri, Iqbal pun belum mengijinkan adik cantiknya itu. Akhirnya Abi paham, dan mengatakan jika dirinya tak merasa keberatan sedikitpun. “Jadi gimana, Bi? Kerjasama kita bisa di lanjutkan?” tanya Iqbal, ia dan Abi sudah mulai membahas masalah kontrak kerja yang akan mereka tandatangani. “Tentu bisa, aku baca dulu semua poin pentingnya, ya.” Abi masih serius dengan berkas kontrak kerjasama yang Iqbal berikan padanya. “A’ aku pulang duluan aja ya, naik taksi,” bisik Priska pada kakaknya. “Loh kenapa pulang? Kita belum makan loh, pesan makanan dulu aja, sebentar lagi selesai kok urusan kontrak kerjasamanya,” bukan Iqbal yang menjawab, melainkan Abi. Walaupun berbisik, ternyata suara Priska masih terdengar jelas oleh Abi. Mereka memang belum memesan makanan apapun, sama seperti Abi, Iqbal dan Priska hanya memesan minuman. “Iya, kita makan dulu aja. Kamu kan belum makan malam, lagian kenapa mau pulang duluan?” Iqbal menimpali ucapan Abi, dan menanyakan alasan adiknya itu ingin pulang lebih dulu. “Ya gak apa-apa sih, cuma takut ganggu aja,” jawab Priska asal, karena sejujurnya gadis itu merasakan hal yang aneh dalam hatinya, setiap kali matanya bertemu tatap dengan Abi. “Ya udah, Bal. Panggil aja pelayannya, kalian pesan makanan. Aku sebentar lagi selesai kok,” ujar Abi. “Oke, kamu mau makan apa?” “Seperti biasa ajalah, paket nasi liwet pakai ayam goreng lengkuas.” “Gak berubah ya menu makananmu, Bi.” “Setiap kesini kayaknya wajib makan itu deh, kalau enggak rasanya seperti ada yang kurang.” “Hahahaha... Bisa aja kamu, padahal istri-istrimu pinter masak semua,” “Ya beda lah, masakan istri sih gak ternilai harganya.” Abi kembali fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan Iqbal mulai memesan beberapa menu makanan, saat seorang pelayan sudah datang menghampiri meja mereka. Setelah selesai memesan makanan, Iqbal kembali berbincang dengan Abi, karena pria itu sudah selesai menandatangani kontrak kerjasama mereka. Berbeda dengan Abi dan Iqbal yang mulai asik dengan pembahasan seputar rumah tangga mereka masing-masing. Priska justru tenggelam dalam lamunannya, memikirkan banyak kemungkinan, saat ia mendengar kakaknya mengucapkan kata ‘istri-istrimu’. Ribuan pertanyaan terus berputar dalam pikiran gadis itu, bahkan ia tak menyadari saat pelayan sudah menghidangkan makanan tepat di hadapannya. Berkali-kali Iqbal menyerukan namanya, namun belum mampu membuat Priska tersadar, gadis itu tetap asik melamun dengan berbagai pertanyaan dan jawaban yang ia simpulkan sendiri. “Hei, Priska. Dek, kamu kenapa melamun?” akhirnya Iqbal menepuk pundak Priska, agar gadis itu tak terus larut dalam lamunannya. “Eh iya, A’. Gak apa-apa kok, maaf ya aku mikirin tugas kuliah,” jawab Priska dengan kegugupan yang terpancar jelas. “Besok kan sabtu, kenapa mikirin tugas kuliah. Bukannya libur ya?” tanya Abi. “Iya, Pak. Besok libur sih, cuma lagi banyak tugas aja,” ucap Priska terbata, gadis itu bingung harus menyematkan panggilan apa untuk pria yang ada di hadapannya. Ditambah degub jantungnya yang semakin tidak terkendali, gadis itu tak mengerti apa yang sedang dirasakannya saat ini. “Saya seumuran sama Kakak kamu loh, masa panggil Pak sih.” Abi mengajukan protes atas panggilan yang Priska sematkan, namun nada bicara pria itu disertai tawa dan candaan. Membuat Priska semakin merasa canggung, dan tak sanggup lagi menatap Abi. “Ma... Maaf...” lirih Priska. “Hahahaha... Gak apa-apa, saya cuma becanda kok. Tapi, emang saya seumuran sama Kakakmu, kamu bisa panggil saya ‘Mas Abi’.” Abi mencoba mencairkan suasana, karena gadis yang ada dihadapannya merasa gugup jika ia terlalu serius. “Iya, Mas Abi. Maafin Priska ya,” “Gak apa-apa, gak usah minta maaf. Sekarang kita makan aja yuk, keburu dingin nanti makanannya,” ujar Abi, lalu pria itu asik dengan makanan yang ada dihadapannya. Berbeda dengan Iqbal dan Priska yang sesekali berbincang membahas banyak hal, Abi yang terbiasa diam saat makan, memilih fokus untuk segera menghabiskan makanan kesukaannya, saat berkunjung ke Bandung. Beberapa saat berlalu, ketiga orang itu sudah menghabiskan makanan mereka masing-masing. Abi ijin untuk ke toilet lebih dulu, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Iqbal dan Priska yang sedang menikmati makanan penutup. “A’ aku juga mau ke toilet ya,” ujar Priska pada Iqbal. “Oh ya udah, tau kan toiletnya dimana?” “Iya tau kok, A’. Kalau bingung juga bisa nanya kok nanti,” “Oke...” Priska juga berlalu pergi menuju toilet, sesungguhnya gadis itu tak tahu untuk apa ke toilet. Tetapi rasanya ia merasa keberatan jika tak melihat Abi ada dihadapannya. Sehingga gadis itu ingin sekali mengikuti kemana pria itu pergi, Abi yang sepuluh tahun lebih tua darinya, namun terlihat sangat mempesona dimata Priska. Pria dewasa yang berwibawa dan lembut. Itulah yang Priska rasakan saat pertama kali melihat Abi, gadis itu bisa mengagumi sosok Abi di pertemuan pertama mereka. “Loh, kamu ke toilet juga?” tanya Abi yang melihat Priska keluar dari toilet yang ada di seberangnya. Posisi toilet wanita dan pria memang posisinya berseberangan, jadi saat Abi keluar dari toilet dan Priska juga baru keluar, mereka akan otomatis dalam posisi berhadapan. “Iya, Mas Abi,” jawab Priska malu-malu, karena sesungguhnya ia tak melakukan kegiatan apapun didalam toilet. Gadis itu hanya berdiri dibalik pintu, menunggu Abi keluar dari toilet. Saat ia mengintip dan melihat Abi keluar, dirinya juga turut keluar di waktu yang hampir bersamaan. “Ya udah yuk, kita balik kesana. Kasian Iqbal sendirian,” ajak Abi dan mempersilahkan Priska jalan lebih dulu. Di perlakukan seperti itu saja, mampu membuat jantung Priska semakin bertalu kencang tak terkendali. Gadis itu semakin mengagumi sosok Abimanyu Wibisana, namun gadis itu kembali tenggelam dalam pemikirannya beberapa saat lalu. Karena teringat ucapan Iqbal yang mengatakan istri pada Abi, namun lebih dari satu kali. Karena gadis itu berjalan dalam kondisi melamun, Priska hampir saja menabrak seorang pelayang yang sedang membawa beberapa gelas minuman diatas nampan. Tetapi, Abi dengan sigap menghentikan langkah Priska, dengan memegang pergelangan tangan gadis itu. Hingga akhirnya Priska terselamatkan dari hal tak menyenangkan yang hampir saja terjadi. “Hati-hati, Pris. Kamu melamun ya?” tanya Abi, masih dengan memegang pergelangan tangan gadis itu. Sebelumnya pria itu sudah meminta maaf pada pelayan yang hampir saja bertabrakan dengan Priska. “Eh... Enggak, Mas Abi. Makasih ya, udah tolongin Priska.” “Iya sama-sama, lain kali jangan melamun sambil jalan ya, kan bahaya. Untung aja saya cepat tarik tangan kamu, kalau enggak bisa basah kuyup kamu kesiram minuman,” “Iya, Mas Abi. Sekali lagi makasih ya, Priska cuma lagi banyak pikiran aja.” “Ya udah, nanti pulang ke rumah langsung istirahat ya. Tugas kuliah gak usah terlalu di pikirkan, semuanya pasti bisa terselesaikan dengan baik. Kalau butuh bantuan, bisa hubungin saya aja.” “Iya, Mas Abi. Makasih...” “Kamu tuh ya, dari tadi makasih makasih terus. Yuk kita kesana, nanti Iqbal bosan sendirian terus kelamaan nunggu kita.” “Iya, Mas.” Abi bersama Priska kembali ke tempat dimana mereka sebelumnya duduk bersama. Dengan senyum canggung, Priska selalu mencuri pandang pada pria yang beberapa saat lalu menolongnya. Perhatian yang Abi berikan, semakin menambah rasa kagum Priska pada pria dewasa itu. Saat Abi dan Iqbal terlibat perbincangan seru, Priska asik memainkan ponselnya, di berbagai kesempatan ia mencuri untuk mengabadikan pria di hadapannya dalam sebuah foto. Sampai akhirnya fokus ketiga orang itu teralihkan, saat ponsel Abi yang sejak tadi ada diatas meja berdering kencang. Pria itu segera melihat siapa yang menghubunginya malam ini melalui panggilan video, saat nama ‘Mamih Sisil’ tertera dilayar, pria itu tersenyum bahagia, dan segera menerima panggilan tersebut. “Sebentar ya, Bal. Ini Sisil telpon,” ucap Abi pada Iqbal, karena perbincangan mereka harus terhenti sejenak. “Iya silahkan, Bi.” “Assalamualaikum... Ehhh anak ganteng sama anak cantiknya Abi, kok pakai hp Mamih, Nak?” ucap Abi, saat melihat Azzam dan Neina yang terpampang dilayar, bukan wajah Sisil. “Iya, Abi. Abi, Mamih boleh nginep di rumah Umi gak?” tanya Azzam antusias, anak lelaki itu sepertinya sangat menginginkan jika Sisil bisa menginap dirumah Uminya. “Jawab salamnya mana, Nak?” tanya Abi mengingatkan, karena sang putra langsung mengutarakan tujuannya menghubungi dirinya malam ini, sampai melupakan menjawab salam dari sang ayah. Terdengar samar suara Sisil tak jauh dari kedua anak itu, mengatakan untuk Azzam dan Neina menjawab salah dari Ayahnya lebih dulu. Kedua anak itu menganggukan kepalanya dengan sangat menggemaskan, jika sudah seperti ini, rasanya Abi ingin segera pulang dan menghabiskan waktu bersama putra dan putrinya. “Waalaikumsalam, Abi...” ucap Azzam dan Neina bersamaan. “Nah gitu dong, anak-anak Abi kan pinter, anak sholeh dan sholeha. Ada apa, Nak?” “Abang mau Mamih nginep di rumah Umi, boleh gak, Bi?” “Boleh dong, kan Abi juga udah bilang sama Umi, ajak Mamih nginep di rumah kalau mau ada temennya.” “Yyeeeee...” ucap Azzam dan Neina kegirangan, bahkan Azzam langsung meninggalkan ponselnya begitu saja, hingga yang terlihat oleh Abi hanyalah langit-langit rumah. Pria itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya, namun pria itu selalu merasa bahagia, saat melihat kedekatan Sisil dengan anak-anaknya bersama Melya. “Bang... Abang Azzam... Dedek Na... Kok Abi ditinggal sih?” ujar Abi mencoba menginterupsi anak-anaknya yang saat ini sedang memeluk Sisil dengan begitu erat. Sedangkan Melya sedang dikamarnya untuk berganti pakaian. “Assalamualaikum, Mas...” tiba-tiba wajah Sisil yang terpampang dilayar. “Hai, Sayang. Waalaikumsalam...” jawab Abi lembut, dengan senyum menghiasi wajah tampannya. “Gimana anaknya gak lupa jawab salam, Abinya aja, jawab salamnya belakangan,” sindir Sisil pada suaminya, namun membuat Abi tergelak dalam tawanya. “Maaf, Sayang. Mau nginep di rumah Melya malam ini?” tanya Abi, memastikan ucapan putranya tadi. “Iya, kalau Mas kasih ijin, aku mau nginep disini. Besok aku ada kerjaan tapi siang, jadi pengen sama anak-anak deh malem ini, boleh kan?” “Boleh, Sayang. Tadi gimana acara ke mall sama Melya, jadi?” “Jadi dong, aku nemenin Mba Mel beli baju hamil. Seru deh, modelnya lucu-lucu. Aku kapan ya, Mas?” ucap Sisil sangat antusias saat menceritakan ia yang menemani Melya belanja, namun nadanya berubah sendu diakhir kalimat. “Secepatnya, Sayang. Kan kita lagi berusaha, Abang Azzam sama Dedek Na kemana? Tiba-tiba ngilang gitu aja, gak kangen sama Abinya apa,” Abi merajuk karena ditinggal begitu saja oleh kedua anaknya, tetapi itu adalah salah satu usahanya untuk mengalihkan pembicaraan dengan Sisil perkara kehamilan. Karena ia tak bisa melihat istri cantiknya itu bersedih, sedangkan ia tak ada di samping wanita itu. “Lagi ganti baju bobo, Mas. Ya udah deh, Mamih juga mau ganti baju. Mba Mel udah selesai juga ganti baju, jadi bisa gantian. Abi masih diluar apa udah di hotel?” “Masih di restoran sama Iqbal, sebentar lagi balik ke hotel. Ya udah ganti baju aja ya, Sayang. Gak usah mandi udah malem, kalau ada apa-apa langsung kabarin Abi, ya.” “Iya, Sayang. Balik ke hotelnya hati-hati ya, Assalamualaikum...” “Waalaikumsalam, Sayang.” Setelah panggilan videonya berakhir, Abi mengucapkan maaf pada Iqbal dan Priska. Karena dua orang yang ada dihadapannya itu harus menunggu cukup lama, namun Iqbal tak merasa keberatan akan hal itu. Iqbal mengetahui tentang kehidupan rumah tangga Abi bersama kedua istrinya, jadi ia merasa maklum, jika Abi harus pandai membagi waktunya. Berbeda dengan Iqbal, Priska justru merasa hatinya sedikit tercubit, saat mendengar bagaimana perhatiannya Abi pada wanita lain, walaupun itu adalah istrinya sendiri. Ribuan pertanyaan kembali memutari pikiran Priska, gadis itu sangat ingin sekali mengetahui siapa Melya dan siapa Sisil. Mengapa kedua wanita itu sepertinya sangat berarti dalam kehidupan Abi. Tetapi, ia tak mungkin menanyakan secara langsung saat ini. Abi dan Iqbal merasa pertemuannya malam ini sudah cukup, mereka memutuskan untuk segera meninggalkan restoran tersebut. Iqbal dan Priska akan kembali pulang ke rumah mereka, sedangkan Abi akan kembali ke hotel tempatnya menginap. Iqbal menjabat tangan Abi, berharap kerjasama mereka akan berjalan lancar kedepannya, Abi juga menjabat tangan Priska, dan mengatakan jika dirinya merasa senang memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan gadis itu. Akhirnya mereka berpisah tepat di parkiran restoran dan masuk kedalam mobil masing-masing. Namun, ada hal yang tak pernah Priska duga sedikitpun, saat bersalaman tadi dengan Abi, pria itu memberinya selembar kertas kecil, dan saat ia melihatnya, dikertas tersebut tertera deretan angka. Sepertinya itu adalah nomor ponsel Abi, apakah Abi menginginkan dirinya menghubungi pria itu. Dengan perasaan berbunga-bunga, Priska segera memasukan kertas tersebut kedalam tas kecil yang sejak tadi ia bawa, karena dirinya tak ingin jika Iqbal mengetahuinya. Tak hanya kendaraan Iqbal, kendaraan Abi juga mulai meninggalkan tempat tersebut. Priska bertekad akan segera menghubungi Abi, saat dirinya sampai di rumah nanti. Ia juga tak akan menunda untuk bertanya, siapa dua wanita yang membuatnya sangat penasaran. Bahkan gadis itu sangat ingin sekali melihat kedua wanita itu, apakah lebih cantik dari dirinya atau tidak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN