Abi melangkahkan kakinya keluar dari rumah Sisil, dengan perasaan yang begitu campur aduk. Bahkan, pria itu sampai tidak ingat untuk menghubungi Melya, agar supir kembali menjemput dirinya. Abi terus menyusuri jalanan perumahan, hingga ia bisa bertemu dengan kendaraan umum. Terkulai lemas di dalam taksi, menyandarkan tubuhnya seraya memejamkan mata, hal itulah yang sedang Abi lakukan dan rasakan hari ini. Rasa syukur tak henti ia ucapkan dalam hati, karena kelicikan dan kebusukan orang terdekatnya sudah terungkap. Walaupun, masih ada perasaan tak menyangka, jika dua orang yang paling ia percayai, bisa berbuat jahat seperti itu. Istri dan sahabat baiknya, ternyata dua orang yang ingin menghancurkan dirinya secara perlahan. Selama perjalan, hanya ada satu hal yang Abi pikirkan, bagaimana ia

