"Apa Kakak akan kabur lagi? Apa Kakak akan pergi lagi? Apa gak bisa Kakak berubah pikiran dan ikut berjuang bareng Lian sekarang? Sekali aja Kak? Pertahanin Lian seperti Kakak mempertahankan Mas Galang untuk tetap tinggal dulu, apa sesulit itu?" Gue menundukkan kepala gue mendengarkan pertanyaan Lian, apa kalau gue berdamai dengan keadaan akan sesulit ini? Apa kalau gue mengalah dengan keinginan gue dan mengikuti kata hati gue segalanya akan bisa berubah menjadi jauh lebih baik kedepannya seperti ucapan Kkak Fikri? Apa akan ada penyelesaian yang jauh lebih baik dari harapan gue sekarang? Berdamai dengan keadaan dan perasaan gue sendiri, berhenti bertengkar dengan hati, akankah gue menggenggam akhir yang tetap akan sesuai dengan harapan gue selama ini.
"Berjuang? Apa Kakak akan mampu? Kakak bahkan gak bisa memperjuangkan Mas Galang jadi gimana mungkin Kakak juga bisa memperjuangkan kamu? Yang keadaannya mendukung aja Kakak masih gagal dan sekarang kamu Kakak berjuang untuk sesuatu yang jelas-jelas mendapatkan penolakan dari banyak orang? Apa itu mungkin?" Tanya gue balik ke Lian bahkan gue mempertanyakan ini untuk diri gue sendiri, berjuangan untuk sesuatu yang gak mungkin sama seperti berinvestasi di sesuatu yang jelas-jelas akan gagal, itu sama aja dengan nyari penyakit, bukannya itu hal bodoh? Kalau mau hidup susah banyak masalah yang bisa gue cari.
"Itu kenyataan atau hanya pemikira negatif Kakak sendiri? Kata siapa semua perjuangan Kakak akan berakhir sia-sia, didunia ini gak ada yang namanya perjuangan berakhir sia-sia Kak, semua ada balasannya, jangan menilai perjuangan Kakak untuk Mas Galang dari segi negatifnya aja, ambil sisi positifnya? Bukannya setelah berjuang Kakak baru tahu kalau Mas Galang itu gak baik? Apa kalau Kakak milih gak berjuang waktu itu Kakak akan tahu alasan Mas Galang meninggalkan Kakak itu apa? Enggakkan? Perjuangan gak akan sia-sia walaupun hasilnya gak selalu sesuai harapan tapi bukan berarti itu gak menjadi yang terbaik." Gue mengiyakan, karena memilih berjuang makanya gue bisa tahu alasan sebenernya Mas Galang meninggalkan gue itu apa.
Andai waktu itu gue menolak berjuang dan terima gitu aja keputusan Mas Galang yang meninggalkan gue, selamanya gue akan berpikir kalau sikap dan kesalahan guelah yang membuat hubungan gue sama Mas Galang berakhir padahal kenyataan yang benarnya adalah, Mas Galang meninggalkan gue karena dia menemukan perempuan yang jauh lebih menurutnya, perempuan yang sesuai dengan harapannya, perempuan yang sesuai dengan keinginannya selama ini, dan itu bukan gue makanya Mas Galang milih selingkuh untuk membuat gue meninggalkan dan melepaskannya lebih dulu, ini adalah kenyataan yang gue terima setalah gue tahu rasanya berjuang itu sepeti apa? Tapi pernyataan sekarang, apa gue harus melaluinya sekali lagi? Demi Lian? Gimana kalau hasilnya tetap gak sesuai harapan? Bukannya gue akan sakit jauh lebih parah dari ini?
"Lian gak minta Kakak berjuang seorang diri sekarang, Lian gak minta Kakak untuk memperjuangkan Lian cuma-cuma, Lian juga akan melakukan hal yang sama, Lian akan berjuang untuk Kakak, Lian akan melakukan yang terbaik untuk hubungan kita, untuk membahagiakan Kakak nantinya, apa itu belum cukup untuk membuat Kakak mempunyai alasan berjuang bersama Lian sekarang?" Tanya Lian menatap gue berkaca-kaca, gue selalu gak tega kalau memperhatikan tatapan berkaca-kaca Lian yang kaya gini, apa Lian akan meluluhkan perasaan gue lagi sekarang? Apa Lian berhasil meyakinkan gue dengan segala ucapannya?
"Kakak terlalu takut untuk gagal lagi Ian, Kakak gak mau mengecewakan keluarga Kakak untuk kedua kalinya, kalau kamu ada diposisi Kakak sekarang, apa kamu bisa mengambil keputusan dengan mudah walaupun kamu tahu kalau keputusan yang akan kamu ambil mungkin mendapatkan penolakan dari orang terdekat kamu sendiri?" Ucapan Lian memang gak ada yang salah tapi posisi gue sekarang juga gak mudah, terlalu banyak hal yang harus gue korbankan kalau gue setuju berjuang dengan Lian, terlalu banyak yang harus gue pertaruhkan didalamnya, salah satu yang terberat adalah, gue harus ikut mempertaruhkan perasaan keluarga gue juga.
"Tapi Kakak belum nyoba sama sekali Kak, apa Kakak gak mau berjuang sedikit aja demi Lian? Kalau Kakak aja belum pernah nyoba gimana bisa Kakak ngomong kalau perjuangan Kakak akan gagal untuk kedua kalinya?" Tanya Lian tegas, ya memang gak ada kepastiannya kalau perjuangan gue akan gagal untuk kedua kalinya tapi karena belum ada kepastiannyalah yang membuat gue terus meragu sampai sekarang, dulu sewaktu sama Mas Galang setidaknya Mas Ali sama Bunda gak melakukan penolakan secara terang-terangan tapi liat sekarang, bukannya Bunda sama Mas Ali sudah melakukan penolakan dari awal? Kemungkinan perjuangan gue sama Lian udah semakin kecil keberhasilannya, gue gak berani mengambil resiko apapun lagi.
"Kalau kamu mau bilang Kakak pengecut gak papa, Kakak memang sepengecut itu, banyak hal yang gak bisa Kakak lakuin di umur Kakak yang sekarang Ian, Kakak bukan gadis remaja yang bisa sesuka hati memberontak sama orang tuanya disaat ada keinginan Kakak yang gak mereka turuti, semuanya gak sesederhana itu." Mungkin bagi Lian meyakinkan keluarganya adalah hal yang mudah, bagaimanapun ini hidup Lian dan Lian yang menjalaninya tapi diumur gue yang sekarang, apa masih wajar kalau gue berdebat dengan keluarga hanya karena masalah pasangan? Lian bahkan belum menjadi siapa-siapa gue sekarang, apa gue harus seberani itu?
"Jadi Kakak memang gak mau berjuang sama sekali? Terus alasan Kakak pindah sebenernya apa? Karena Kakak ingin menghindari Lian atau memang Kakak juga menghidari Mas Rian? Kakak gak jujur ngomong ke Lian kalau Mas Rian ketemu kita di tempat kita berdebat terakhir kalikan? Dari awal Kakak memang gak berencana nyari cara untuk masalah kita, berpikir dengan ngambil tindakan itu beda Kak, selama ini Kakak terus ngomong kalau Kakak berusaha melakukan yang terbaik, Kakak berusaha sebaik mungkin tapi apa kabur adalah pilihan terbaik yang Kakak punya?" Melihat tatapan Lian sekarang, gue hanya diam dan membalas tatapannya sama, gak ada yang bisa gue bantah, gue memang sepengecut dan sebodoh itu.
"Kalau dengan pergi bisa membuat Kakak merasa lebih baik, Lian membiarkan Kakak pergi tapi apa, sebulan berlalu tapi Kakak masih sama, gak ada yang berubah, yang ada perbedaannya cuma satu, Kakak sekarang tahu seberapa besar perasaan Kakak untuk Lian sebenernya, walaupun Lian gak tahu pastinya tapi Kakak tahu apa yang Kakak rasain sekarang sebenernya apa, itu hanya sebatas rasa suka sesaat atau memang Kakak cinta sama Lian, Kakak punya jawaban pastinya." Lanjut Lian menatap gue datar, tatapan Lian sekarang sangat-sangat mengganggu gue, gue ingin mengalihkan perhatiannya tapi gue gak bisa, itu adalah tatapan yang harus gue terima karena gue mengecewakan Lian sampai kaya gini.
"Jadi ini terakhir kalinya Lian tanya, apa Kakak beneran gak mau memperjuangkan perasaan kita sama sekali? Berjuang sendiri itu lelah, Kakak tahu rasanya kaya apa, Kakak terus menghindar kaya gini Lian juga bisa apa? Gak ada gunanya nahan seseorang yang ingin pergi, bukannya ini yang Lian ucapin ke Kakak dulu? Gak ada gunanya Kakak nahan Mas Galang yang memang gak ingin tinggal, sekarang pertanyaan yang sama Lian layangkan untuk Kakak, apa Kakak beneran ingin Lian pergi?" Gue mengkaku ditempat dengan pertanyaan Lian sekarang, gue yang memang udah terdiam kehabisan kata dari tadi malah semakin kalut mendengarkan pertanyaan Lian sekarang, apa yang di pikirin Lian sebenernya? Apa Lian akan berhenti kalau gue bilang iya?
"Kamu mengajukan perpisahan sekarang?" Tanya gue balik setelah menatap Lian cukup lama, gue seolah mengerti dengan tatapan Lian sekarang, walaupun Lian gak secara gamblang ngomong kalau dia ingin menyerah tapi pertanyaannya mengarah untuk hal itu, Lian menanyakan sesuatu yang harus gue ambil keputusannya sekarang juga, pertanyaan yang terdengar sederhana tapi entah kenapa sangat sulit gue berikan jawabannya dengan mudah, gue gak bisa memberikan jawaban ya gitu aja tapi gue juga gak bisa ngomong kalau gue gak setuju dengan keputusan Lian sekarang.
Disaat gue memberikan jawaban tidak, itu artinya gue masih menginginkan Lian mempertahan perasaannya ke gue sekarang tapi kalau gue memberikan jawaban iya, itu artinya gue benar-benar ingin Lian menyerah untuk perasaannya ke gue sekarang, gue ingin Lian berhenti berjuang dan mulai berbalik arah meninggalkan gue seperti jawaban yang gue iyakan, apa pertanyaan Lian barusan masih terdengar mudah kalau udah kaya gini? Bahkan pertanyaan yang bisa gue selesaikan dengan satu kata aja bisa sangat menyulitkan, keadaan gue sekarang beneran seakan dipaksa memilih, pilihan yang apapun jawabannya, hasil akhirnya gak akan jauh berbeda, gue gak akan bahagia semudah itu.
"Jadi jawaban Kakak apa? Jangan nahan Lian kalau Kakak memang gak mau memberikan kepastian sama sekali, Lian tahu sikap Lian sekarang seperti anak kecil tapi kabur dan menghindar dari masalah itu jauh lebih kekanak-kanakan, permintaan Lian sangat sederhana, Lian minta Kakak bertahan dan Lian yang akan berjuang, Lian minta Kakak gak beranjak kemanapun tampa sepengetahuan Lian tapi Kakak mengabaikan permintaan kecil Lian itu, jadi apa Kakak rasa Lian masih harus bertahan lebih lama lagi dengan keadaan kita yang seperti ini? Bukannya Kakak lelah, Lian juga merasakan yang sama." Lelah? Sangat, gue selalu mengucapkan kata lelah didepan Lian tapi gue sampai lupa kalau Lian juga bisa merasakan hal yang sama, lelah.
"Yang Ian mau sekarang adalah kepastian, apa Kakak masih mau Lian berjuang? Jawaban Kakak cukup satu kata, ya atau enggak." Desak Lian untuk gue memberikan jawaban, gue menundukkan tatapan gue sekarang dan menggenggam kedua tangan gue erat, gue sama sekali gak mikir kalau Lian akan menanyakan hal kaya gini, apa gue udah sangat keterlaluan sampai Lian bahkan memberontak kaya sekarang sama gue? Apa gue harus memberikan jawaban tanpa persiapan apapun? Jawaban gue sekarang mungkin aja bisa membuat Ian pergi selamanya dari hidup gue, kata perpisahan yang Lian maksud mungkin akan membuat gue kehilangan Ian selamanya.
"Saat Ian ngomong perpisahan kaya gini, jangan berpikir kalau Ian lagi becanda Kak, jangan pikir ini cuma untuk sementara, Ian gak pernah becanda kalau mengenai perasaan Lian ke Kakak jadi jawab dengan yakin, iya atau enggak, saat Kakak jawaban tidak, Ian akan tetap bertahan disisi Kakak kaya gini tapi saat Kakak memberikan jawaban iya, walaupun berat, Lian akan tetap melangkah pergi jadi jangan meragu lagi, pikirkan dan berikan jawaban terbaik yang Kakak punya, Lian akan ngelakuin apapun yang Kakak mau." Ian bahkan tersenyum perih menatap gue sekarang, gue juga melakukan hal yang sama, menatap Lian perih karena sadar kalau Lian gak akan main-main kali ini, Lian memang gak pernah main-main dengan ucapannya.
"Ian! Kakak__"
"Iya atau enggak! Jangan memberikan jawaban selain dua kata itu kalau Kakak gak mau Lian akan kembali bingung dengan jawaban Kakak nantinya, jangan membuat alasan yang membuat Ian bertahan disaat sama sekali gak ada harapan untuk perasaan kita berdua, jangan nahan Ian untuk tetap tinggal kalau gak ada tempat di hati Kakak nantinya." Potong Lian untuk ucapan gue barusan, gue bahkan belum memberikan jawaban apapun tapi Lian sudah sangat menjelaskan keinginannya, Lian sudah sangat menegaskan harapannya untuk jawaban gue sekarang.
"Kak! Jangan cuma diam, yang Ian mau jawaban, apa sangat sulit untuk Kakak menegaskan jawaban Kakak sekarang? Beberapa waktu yang lalu Kakka bahkan sangat yakin untuk minta Ian berhenti berjuang tapi kenapa sekarang Kakak gak bisa memberikan jawaban apapun?" Gue juga ikut memikirkan pertanyaan Lian sekarang, kenapa waktu itu gak sesulit ini sewaktu gue meminta Ian menyerah untuk perasaannya? Kenapa rasanya jauh lebih mudah sewaktu gue meminta Ian berhenti berjuang dan mempertahankan perasaannya? Apa yang salah sebenernya? Kenapa terasa sangat sulit sekarang, gue bahkan memberanikan diri menatap Lian sekarang, gue mencari jawaban gue dari tatapan laki-laki yang sangat gue cintai sekarang.
"Kenapa Kakak natap Lian kaya gitu? Kakak juga gak tahu jawabannyakan? Kakak tahu kenapa? Itu karena Kakak gak menganggap Lian laki-laki dewasa yang bisa diajak bicara masalah serius apapun, Kakak narik dan ngambil keputusan hanya sesuai dengan pemikiran Kakak sendiri, Kakak berpikir kalau Lian masih anak kecil yang gak akan mengerti artinya berjuang itu apa dan kenapa sekarang terasa berat? Itu karena Kakak melihat keseriusan Lian baru sekarang." Jawaban Lian yang sepertinya sangat tetap sasaran, Lian sangat mengenal gue bahkan mungkin lebih baik dari gue mengenal diri gue sendiri, makanya Lian bisa nebak semua isi otak gue selama ini, bahkan gue sendiri gak sadar kalau gue punya pemikiran kekanak-kanakan kaya gini.
"Kalau kamu udah tahu kenapa kamu masih nanya pertanyaan kaya gini sama Kakak? Kamu tahu itu sulit tapi kamu masih tetap nanya, apa kamu pikir Kakak akan punya jawabannya secepat itu?" Gue menatap Lian gak habis pikir, apa mendesak gue akan membuat Ian mendapatkan jawaban yang sangat dia inginkan sekarang, mendesak gue gak akan membuat gue bisa memberikan jawaban yang sangat diinginkan Lian juga, semakin gue meragu, akan semakin sulit gue memberikan jawaban.
"Sekarang Kakak tahu kalau memilih itu sulit? Kalau Kakak ngerasa ini sulit jadi gimana bisa Kakak minta Ian milih melepaskan atau meninggalkan perasaan gitu aja? Pilihan yang masih terdengar sama aja artinya jadi sekarang Kakak gak punya pilihan selain memberikan jawaban yang Ian mau, iya atau enggak, Kakak gak bisa menghindar lagi." Gue memang udah gak bisa menghindar sama sekali sekarang, apa yang bisa gue hindari disaat pilihannya udah ada didepan mata gue kaya gini? Mau kabur? Itu udah gak mungkin, Lian gak akan membiarkan gue melakukan itu, saat ini gue mungkin baru menyadari betapa kekanak-kanakannya gue dalam menyelesaikan suatu masalah, sebegitu pengecut dan plin-plannya gue selama ini.
"Ian! Kakak gak bisa memberikan jawaban seperti apa yang kamu mau, Kakak gak bisa memberikan jawaban secepat itu apa__"
"Cepat? Lian ngasih waktu satu bulan lebih untuk Kakak mikirin hubungan kita berdua, apa itu masih belum cukup? Kakak mau membiarkan perasaan kita kaya gini berapa lama lagi?" Apapun alasan yang gue pergunakan sekarang rasanya gak akan membuat Lian mengubah pertanyaannya dan memberikan gue waktu lebih lama untuk mikirin ini semua, yang Ian mau sekarang adalah jawaban untuk semua pertanyataan, kepastian! Ini yang ingin Ian dapatkan sekarang, iya atau enggak? Berjuangan atau berhenti dan berbalik arah sekarang? Cuma itu tapi rasanya sangat sulit.
"Selama ini menuruti apa yang Kakak mau, Kakak mengabaikan perasaan Lian juga Ian diamkan, Kakak pergi tanpa pemberitahuan juga masih bisa Lian terima, apa sekarang disaat Lian cuma meminta kepastian membuat Kakak merasa sangat tersudutkan? Apa Kakak gak pernah mempetimbangkan baik-baik apa yang udah Ian lakuin untuk bersabar mengahadapi sikap Kakak yang kaya gini? Ian memang cinta tapi Ian juga bisa lelah, apa Kakak gak pernah mikirin itu?" Tanya Ian tertawa miris, tanpa sadar gue terus menyakiti Ian untuk berulang kali, Ian masih bertahan sampai hari ini harusnya gue bisa menilai semua usaha dan pengorbanannya untuk mencoba mengerti keadaan gue.
Seharusnya perasaan gue sekarang yang dipertanyakan, apa gue beneran menganggap Lian penting? Apa gue pernah berusaha sedikit aja mempertimbangkan perasaannya ke gue selama ini? Rasanya gue gak pernah beneran tulus mempertimbangkan semuanya, apa arti hadirnya Lian dalam hidup gue, apa artinya Lian untuk kebahagiaan gue, apa arti perjuangan Lian selama ini, gue gak pernah memperhatikan dan memikirkan itu dengan sudut pandang Lian sendiri, gue hanya menilai dari sudut pandang diri gue sendiri dan yang terjadi adalah, penilaian gue gak berakhir adil sama sekali, bukannya membaik tapi malah semakin menyakiti satu sama lain, ini adalah kenyataan yang udah terbukti, bukan hanya sekedar ketakutan sesaat gue saat membayangkan sesuatu, bukan alasan gue karena ingin mengulur waktu, jawaban? Gue tetap harus memberikannya sekarang juga.
"Baik! Kalau memang Kakak akan terus memilih diam kaya gini, Ian akan membantu Kakak dengan memberikan jawaban yang Lian inginkan sekarang, apa Kakak akan membiarkan Lian yang memilih sekarang? Pilihan yang mungkin gak akan sesuai dengan keinginan Kakak sendiri, apa itu yang sangat Kakak mau?" Pertanyaan Lian yang seolah nanya gue balik sekaligus semakin mendesak gue, keadaan gue sekarang bukan cuma pekara tersudutkan tapi kalau gue tetap memilih diam tanpa jawaban, itu sama aja gue pasrah dengan keadaan, Lian akan memilih jawaban yang sesuai dengan keinginan dan harapannya, apa Ian akan memilih gue untuk tetap tinggal? Atau Ian akan memilih melepaskan gue? Berbalik arah dan mencari perempuan yang lebih baik dari gue nantinya, gue bahkan udah gak yakin dengan keberadaan gue sendiri sekarang, apa gue masih sepenting itu dalam hidup Lian sekarang?
"Kalau memang diam adalah pilihan Kakak, Ian yang milih dan jawaban Ian sekarang adalah, Ian mau Kak__"
"Heummm! Iya." Potong gue memberikan jawaban gue untuk pertanyaan Lian barusan, dan inilah jawaban gue, gue membiarkan Ian mengucapkan perpisahan.