(BAB 25)

1500 Kata
"Heummm." Gumam gue mengiyakan pertanyaan mahasiswa gue barusan, kalau tadi Lian yang mencoba mengabaikan tatapan gue, sekarang gue yang melakukan hal yang sama, gue berusaha keras mengabaikan tatapan penuh tanya  kesal, marah bahkan gak terima Lian, gue gak berencana ngasih tahu Lian dengan cara kaya gini tapi kalau memang Lian tahu lebih awal, gue juga gak bisa berbuat apapun, cepat atau lambat, Lian akan tahu gue keluar dari kerjaan gue, yang terpenting bagi gue sekarang bukan Lian mau terima atau enggak dengan keputusan gue tapi yang ingin gue pastikan adalah Lian gak akan pernah tahu gue pindah kemana, ini yang gue mau sekarang. "Yah, kenapa gitu Bu? Ini udah akhir semester, terus kita gimana? Ibu gak mau nunggu selesai ujian dulu gitu? Buru-buru banget Bu, mendadak kaya gini." Saut mahasiswi gue yang lain, gue memaksakan senyuman gue dan masih terus mengabaikan tatapan yang Lian layangkan, gue tahu ini mendadak dan terkesan terburu-buru tapi gue juga gak tahu kalau semuanya akan berakhir kaya gini, gue gak tahu kalau hubungan gue sama Lian akan berakhir seperti ini, gue gak menyangka kalau apa yang gue rasain ke Lian akan berimbas untuk hidup gue separah ini, gue sama sekali gak pernah mikirin kemungkinan kaya gini bakalan ada dalam hidup gue. Jatuh cinta pada orang yang gak tepat untuk kedua kalinya, gue gak pernah tahu kalau apa yang gue takutkan beneran akan kejadian, menghindar itu gak mungkin, seperti yang gue bilang sama Mas Ali tadi, gue cuma butuh waktu untuk menenangkan perasaan gue sekarang, pindah mungkin gak akan mengubah perasaan gue ke Lian tapi setidaknya jarak bisa membuat gue berpikir ulang, berpikir secara baik, berpikir dengan keadaan yang jauh lebih tenang, ada kalanya memperjuangkan cinta itu terasa lebih sulot dibandingkan menemukan cinta itu sendiri, mudah untuk seseorang jatuh cinta tapi sangat sulit untuk seseorang bisa melupa. Gue awalnya mikir kalau perasaan gue ke Lian itu hanya untuk sementara, mungkin itu hanya efek samping karena Lian selalu ada disaat terpuruk gue, gue mengabaikan perasaan gue karena berpikir hal itu beneran gak akan mungkin tapi saat gue sadar kalau pemikiran gue selama ini salah, gue seakan terjebak dengan pemikiran gue sendiri, gue terjebak karena menganggap remeh perasaan gue ke Lian diawal, andai gue ambil berat dengan perasaan gue ke Lian yang mulai aneh waktu itu, gue rasa semuanya gak akan sekacau ini, perasaan yang gue kira hanya sementara tanpa sadar berubah menjadi perasaan yang mungkin akan gue rasakan selamanya. "Apa menghindar bisa menyelesaikan masalah?" Tanya Lian tiba-tiba, seketika tatapan seisi kelas hanya tertuju untuk gue sama Lian, mereka semua menatap gue dengan Lian secara bergantian dengan tatapan bingung mereka, gue sendiri yang mendapatkan pertanyaan seperti itu gak kalah kagetnya, apa Lian sangat gila sampai berani menanyakan permasalah kaya gini di dalam kelas? Apa Lian gak mikir semua orang akan menganggap apa? Yang ada mereka akan semakin yakin kalau gue sama Lian memang ada hubungan apa-apa, bukannya menyelesaikan masalah tapi Lian malah nambah rumit masalah gue, apa Lian gak bisa duduk diam dan cukup terima semua keputusan gue? Andai katapun Lian gak bisa terima, jangan memaksakan gue untuk bertindak diluar batas kaya gini. "Mereka berantem kayanya makanya ribut kaya gini, pantes tadi Bu Syia marah banget pas gue tanya Lian kemana." Gumam mahasiswi yang ketemu gue di parkiran tadi yang masih bisa gue dengarkan, gue menghembuskan nafas dalam dan menatap mahasiswi barusan dengan tatapan makin menusuk gue, apa pantas mereka membahas masalah pribadi didalam kelas kaya gini? Lian atau seisi kelas itu sama, mereka kekanak-kanakan dan gak mau mengerti keadaan sama sekali, mereka hanya terlalu mengikuti suasana hati mereka masing-masing tanpa peduli dengan beban orang lain. "Apa ini adalah saatnya kalian semua membahas masalah pribadi? Hal pribadi saya, iti urusan saya, kalau memang kalian ingin mengikuti kuliah saya silahkan tinggal dan yang masih ingin membahas hal yang tidak penting, silahkan keluar sekarang juga." Ucap gue tegas, gue gak akan ikut bersikap kekenak-kanakan hanya untuk meladeni semua pertanyaan mereka, gue kemari bukan ingin menjelaskan kebingungan mereka semua tapi gue kemari untuk mengajar, gue yang berniat ingin mengucapkan kata perpisahan selesai kelas nanti kayanya harus narik ulang pemikiran gue itu, waktunya gak tepat karena mereka semua udah terlanjur menaruh curiga dengan alasan gue ingin berhenti mengajar itu apa. "Lian tunggu Kakak di luar." Ucap Lian bangkit dari duduknya, Lian keluar dari kelas gitu aja tanpa menghiraukan apapun lagi, gue yang memperhatikan sikap Lian hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, ini memang sifatnya Lian, keras kepala, kalau ada sesuatu yang gak sesuai dengan pemikirannya, Lian akan terus mendesak dan mempergunakan segala cara untuk membuat dirinya mengerti, cinta yang dipaksakan itu memang gak akan mungkin tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apa perasaan gue sama Lian bisa dianggap sebagai sebuah bentuk pemaksaan? Jawabannya enggak, gue menyukai Lian tanpa permintaan atau paksaan siapapun, perasaan gue ada gitu aja. Mencoba mengabaikan sikap Lian, gue ngambil alih kelas walaupun gue yakin gak ada yang bisa fokus belajar sekarang, gue ataupun mahasiswa/i yang lain, sikap Lian udah cukup membuat mereka semua bingung dan otak yang lagi kebingungan itu beneran gak bisa dipake sama sekali, fokus aja susah gimana ceritanya mereka mau ngerti materi yang bakalan gue ajarin itu apa, yang bisa gue lakuin sekarang adalah mencoba mengajar seperti biasa dan menyelesaikan kelas tepat waktu, gue juga tetap mengucapkan permintaan maaf ke semua mahasiswa gue, kalau memang ada sikap dan tindakan gue yang salah atau menyinggung perasaan mereka, gue minta maaf dengan segenap ketulusan gue, itu bukan karena gue sengaja. Setelah menyelesaikan kelas, gue keluar dari ruangan dengan perasaan yang gak bisa gue jelasin, gue ingin menghindar tapi gue juga tetap mencari keberadaan Lian diluar sana, gue gak mau Lian berbuat makin aneh-aneh selama kita berdua masih dalam kawasan kampus, gue gak mau ada ribut-ribut apalagi kalau harus diliatin sama orang lain, status yang kembali membuat gue narik diri untuk menghindar, status yang kembali membuat gue kehilangan kata, gue ingin mengabaikan sikap Lian sekarang tapi selama ini masih dalam kawasan kampus, gue gak bisa berbuat banyak, gue harus menjaga sikap gue. Masuk ke ruangan staf dengan langkah gontai, gue membereskan beberapa barang gue dan langsung pamit pulang, gue yang awalnya berencana ngajak makan Ayu kayanya harus gue undur lain kali, gue udah gak mood untuk makan sekarang, lebih baik sebelum Lian dateng dan makin banyak ngomong aneh-aneh, lebih baik gue langsung pulang, minta maaf ke Ayu dan pamit pulang, gue berjapan cepat melewati koridor kampus dan masuk ke mobil begitu gue sampai di parkiran, belum sempat gue jalan, tiba-tiba Lian masuk dan duduk disamping gue, benerkan yang gue bilang, kelakuan Lian beneran gak bisa gue tebak. "Kakak nunggu apalagi? Masih mau stay disini lebih lama dan jadi bahan omongan orang-orang?" Tanya Lian santai dan menyandarkan tubuhnya, memejamkan matanya perlahan dan mengabaikan tatapan gak terima gue, disaat kaya gini apa gue bisa bilang enggak dengan sikap Lian, ngomong sama Lian disaat suasana hatinya gak karuan begini sama aja bohong, lebih baik gue melajukan mobil gue keluar pekarangan kampus sebelum yang di omongin Lian barusan berubah jadi kenyataan, orang-orang bakalan terus merhatiin gue sama Lian dan menjadikan kita berdua topik hangat pembicaraan mereka berdua, gue masih cukup waras untuk memilih mana yang lebih baik disaat kaya sekarang. "Apa kamu gak bisa lebih pengertian sedikit? Kenapa kamu malah bersikap kaya tadi?" Tanya gue buka obrolan, gue bahkan gak natap Lian sama sekali dan milih fokus dengan kemudi gue sekarang, bukannya ngejawab, Lian malah masih setia memejamkan matanya seolah dia tidur cukup nyenyak, padahal nyamuk juga tahu kalau ni anak gak tidur, isi otak Lian siapa yang tahu, diamnya Lian sekarang juga bukan pertanda baik, kalau laki-laki seramah Lian bisa bersikap dingin kaya gini bukannya itu aneh? Aneh banget menurut gue, gimana gak aneh, itu sama kaya anak kucing di kasih ikan asin tapi gak mau makan, kan itu artinya kucingnya lagi bermasalah. Bukan maksud gue mau nyamain Lian sama kucing tapi itu cuma pengibaratan kelakuan Lian sekarang, gue mau ngomong lagi males, mau gue diemin juga gak iya, ini sebenernya mau ni anak ngikut mobil gue pulang untuk apaan? Ngajak ribut atau mau ngajak gelut? Yang serius dikit bisakan? Gue udah bela-belain buang ego untuk nanya lebih dulu nah Lian malah diem seolah mulutnya mendadak bisu, kalau cuma mau diem-dieman atau sekedar mau tidur jangan disini, mobil gue bukan tempat peristirahatan, gue mau pulang dan beberes, lebih cepat gue pindah kayanya lebih baik ketimbang begini mulukan? Karena gak kunjung mendapatkan jawaban apapun dari Lian, gue menepikan mobil gue dan minta Lian turun, keadaan gue sekarang udah sulit, gue lelah, gue capek, kelakuan Ian tadi di kampus aja udah cukup menguras energi gue jadi gue udah gak punya tenaga untuk berdebat sama Lian sekarang, kalau Ian gak punya kepentingan apapun atau gak mau ngomong sama sekali, mending turun disini aja, gue mau langsung pulang soalnya, gak mungkin Lian nau nebeng gue sampai rumahkan? kalau Bunda atau Mas Ali ngeliat gue pulang bareng Lian, gue takut mereka malah makin salah paham lagi, gue gak punya semangat untuk ngejelasin apapun. "Waktu Kakak milih kabur kaya gini sesuka hati, apa Kakak nyoba ngertiin perasaan Lian?"   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN