(BAB 32)

1175 Kata
Setelah tahu kalau yang sakit itu Lian, gue berusaha keras untuk mengalihkan perhatian gue, gue berusaha sebaik mungkin untuk gak mikirin Lian, gimana keadaannya sekarang? Lian sakit apa? Apa parah? Atau udah mendingan? Begitu banyak pertanyaan yang muncul mendadak di kepala gue tapi berusaha keras gue abaikan, gue gak boleh kepikiran kaya gini dan harusnya gue tahu itu tapi perasaan gak akan bisa nipu, gue khawatir, sangat malah, walaupun gue berusaha sekeras apapun untuk mengabaikan perasaan gue tapi sikap gue gak akan bisa nipu, kelakuan dan gelagat gue gak akan bisa nipu sama sekali, duduk dengan tatapan kebingungan kaya gini aja udah cukup menjelaskan keadaan gue sekarang. "Awalnya Kakak pikir kamu menghindar dari Rian tapi siapa sangka kamu ternyata malah menghindar dari Adiknya." Ucap Kak Fikri tersenyum kecil menatap gue, gue sedikit menengadah berbalik menatap Kak Fikri yang memang masih berdiri dihadapan gue sedangkan gue duduk bak orang sakit parah ditangga rumah kaya gini, memperhatikan gue yang masih belum merespon apapun, Kak Fikri ikut mendudukkan tubuhnya di samping gue dan menghembuskan nafas panjang juga, gue hanya diam membiarkan Kak Fikri duduk disamping gue tanpa berniat untuk membahas apapun sekarang, yang tadi aja udah kena omel sama Tante Ratih, gak perlu harus di terusin sampai di tangga rumah jugakan? Bisa diusir paksa semua. "Kamu suka sama Lian?" Lanjut Kak Fikri yang membuat gue menghembuskan nafas dalam sekali lagi, gue gak mau nanggepin tapi tatapan Kak Fikri sekarang udah kaya rentenir nagih hutang tahu gak, mukanya datar gak jelas seakan maksa gue untuk memberikan penjelasan sekarang juga, gue masih menatap Kak Fikri dengan tatapan yang sama setelah pertanyaannya barusan, apa tatapan malas gue belum biss menjadi jawaban kalau gue gak mau membahas apapun sekarang, gue gak mau ngomong kalau topik pembicaraannya adalah Mas Rian atau Lian sekalipun, kedua tetangga didepan rumah gue itu. "Masalah umurkah? Atau ada masalah yang lain lagi? Mas Ali sama Bunda kamu gak setuju makanya kamu milih kabur kemari?" Tanya Kak Fikri lagi, gue menyunggingkan senyuman mematikan gue mendengar pertanyaannya barusan, itu nanya atau nebak? Kenapa kedengerannya bener semua? Gue belum cerita apapun tapi tebakannya udah gak main-main, bisa gitu semua orang yang tahu gue suka sama Lian nebaknya masalah kita berdua ya cuma pekara umur doang, udah gak ada yang lain lagi, udah gitu Kak Fikri juga tahu lagi kalau yang gak setuju itu Mas Ali sama Bunda, kaya cenayang banget pemikirannya, salut sama takjub gue, asli. "Memang keliatan banget kalau Syia suka sama Lian ya Kak?" Tanya gue udah pasrah, mau gue tutupin separah apapun yang namanya orang jatuh cinta juga keliatan, orang jatuh cinta itu punya dua muka, muka senang sama muka susah, kalau seneng, bahagia haha hihi sana sini itu artinya hubungan mereka berjalan baik tapi kalau mukanya muka susah, suram melarat kaya gue gini, perhatikanlah, itu artinya hubungannya ada masalah, semuanya gak berjalan baik seperti yang orang lain jalani, begini juga nasib miris gue, jatuh cinta bukannya berbunga tapi malah udah kaya keluar masuk medan perang, muka susah udah kaya gak punya semangat hidup. "Kakak nanya bukan ngomong kalau keliatan banget kamu suka sama Lian, jadi beneran suka sama Lian makanya kabur kemari? Dilarang sama Bunda atau Mas Ali karena umur? Wah." Yah, Kak Fikri ternyata beneran cuma nebak, kaya masuk jebakan banget gue, gak ada niat buat cerita tapi dibuat untuk cerita sula rela sendiri, kan kampret banget Kak Fikri, gue udah pasrah gitu mau ngaku karena  mikir kalau Kak Fikri udah tahu semua lah ternyata malah cuma tebakan semua, mau gue ralat lagi juga percuma, ni orang mana bakalan percaya lagi, biasanya ucapan paling jujur itu ucapan pertama, kalau udah diralat kemungkinan besar ada unsur kebohongan yang akan di tambahkan disana, percayalah. "Kakak makin ngeselin tahu gak sekarang, dulu perasaan gak kaya gini? Belum cukup Kakak ngintrogasi Syia mulai dari meja makan tadi? Mau Kakak lanjutin lagi sampai kemari? Kakak gak salah? Mau Tante marah untuk kesekian kalinya? Hah?" Tanya gue ngegas, udah capek banget gue, males banget udah ngebahas masalah kaya gini, sebulan berlalu ternyata gak banyak yang berubah, gue masih belum bisa nyaman dengan keadaan gue, gue masih belum bisa merelakan perasaan gue dan gue belum bisa pasrah dengan keadaan gue sama Lian yang sama sekali gak memungkinkan. Lian sendiri juga pernah berkata akan berjuang tapi sebulan berlalu, gue gak melihat atau mendengar apapun yang bisa gue artikan sebagai bentuk sebuah perjuangan seorang Lian untuk memperjuangkan gue seperti ucapannya, semuanya beneran berasa kaya angin lalu, angin yang seolah memberikan harapan saat dia berhembus tapi akan kembali terasa hampa ketika angin itu berlalu pergi gitu aja, ya memang gue juga mengingatkan Lian untuk gak berjuang tapi Lian berubah pikiran secepat itu setelah gue pergi? Apa Lian melupakan ucapannya sendiri yang ingin memperjuangkan gue? Memperjuangkan hubungan kita berdua seperti ucapannya? Ini yang gue lihat sekarang dan setidaknya ini juga yang gue rasain sekarang, Lian seakan lupa dengan ucapannya sendiri. "Yang bilang Kakak mau marah atau minta dan maksa kamu cerita semuanya siapa Syia? Lagian maksud Kakak nanya itu karena Kakak gak mau kamu berlarut, bukannya kamu kemari untuk menenangkan diri? Bukan begini caranya melupakan seseorang, melupakan seseorang itu gak akan bisa sekaligus, semua ada tahapnya tapi yang harus kamu tahu, disaat kamu memutuskan sebuah pilihan, apa kamu ikhlas melakukannya? Ikhlas itu yang terpenting." Kali ini ucapan Kak Fikri beneran gue dengerin, gue pikir Kak Fikri akan berpikiran sama seperti yang Bunda sama Mas Ali pikirin selama ini, mereka menganggap mempunyai pasangan yang jauh lebih muda adalah sebuah kesalahan besar, gak seharusnya gue ngelakuin itu makanya semua seakan menjadi beban untuk perjalanan cinta gue sendiri. "Ikhlas? Apa bisa Syia ikhlas untuk hal yang gak mudah? Apa salahnya jatuhnya dengan laki-laki yang jauh lebih muda dari Syia sih Kak? Apa itu akan menjadi aib keluarga? Apa itu dosa?" Tanya gue sangat lirih, Kak Fikri yang mendengarkan pertanyaan gue barusan juga langsung menatap gue dengan tatapan gak teganya, Kak Fikri bahkan bisa merasa gak tega sama gue tapi kenapa Bunda sama Mas Ali gak bisa ngelakuin itu? Apa terlalu sulit? Apa mengizinkan hubungan gue dengan Lian akan menjadi hal semalukan itu? Gue ngerasa kaya udah ngelakuin suatu kesalahan besar hanya karena gue punya perasaan ini untuk Lian. "Walaupun gak mudah tapi ikhlas itu penting, karena ketika kamu ikhlas, beban kamu akan berkurang dan ketika beban kamu berkurang, merelakan akan terasa jauh lebih mudah, kalau kamu ngerasa lelah, terkadang berdamai dengan keadaan akan menjadi salah satu pilihan terbaik untuk berdamai dengan hati." Berdama dengan keadaan? Berdamai dengan hati? Apa gue sudah melakukannya? Kapan terakhir kali gue ilhlas menerima semua kekurangan dan kelebihan gue? Kapan terakhir kali gue ikhlas dengan semua keadaan yang harus gue hadapi sekarang? Gue melupakan hal terpenting lagi kayanya. "Gimana caranya berdamai dengan hati Kak? Apa itu mungkin?" Tanya gue lirih. "Berdamai dengan hati itu artinya kamu membiarkan perasaan yang ada dihati kamu sekarang, hati itu seperti anak kecil, semakin kamu melarang sesuatu, semakin dia antusias melakukan hal tersebut." Kak Fikri bahkan tersenyum kecil memperhatikan gue sekarang. "Semakin kamu memaksakan diri untuk melupakan perasaan kamu ke Lian, akan semakin sering perasaan kamu membawa Lian kedalam ingatan kamu."   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN