Ghea Ingin Mati

1557 Kata
Kepulangan Aruna dan Farhan menjadi kesenangan tersendiri bagi seorang Ghea. Namun, tidak luput dari itu ia juga harus kembali ke dunia penuh aturan ini, padahal, kalau saja Vero tidak semena-mena, ia akan lebih senang ketika kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Sudahlah, Ghea Nafatia memang tidak tahu diri. Selalu ingin kebebasan di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. "Ghe, gimana Vero? Dia jagain kamu, kan?" Ghea yang tengah menelan makanannya langsung tersedak ketika mendengar ucapan Aruna barusan. Tidak ada yang salah, namun entah kenapa ia merasa aneh mendengarnya. "Dia gak macem-macem, kan?" tanya Aruna lagi. "Ng-nggak, Ma." Ghea tetap fokus dengan makanannya meskipun ia tahu kalau tiga orang dari meja makan itu tengah memperhatikannya. Ghea tidak pernah setegang ini sebelumnya. Tidak pernah merasa takut, tidak pernah merasa terancam seperti ini. Namun, semenjak masuk ke rumah ini, semuanya seperti berubah haluan. Lebih dari apa yang Ghea pikirkan. Beberapa pekan tinggal di rumah ini membuat Ghea tidak pernah bisa berpikir tenang, meskipun ia sudah mencobanya. Di mana setiap gerak-geriknya ia harus berhati-hati, ikut aturan penuh yang ada di rumah ini juga menyimpan banyak rahasia dari kedua sahabatnya. Apalagi, dengan kebodohannya Ghea baru menyadari kalau letak rumah ini tidak jauh dari letak rumah Risa. Gadis itu merasa gila sendiri ketika memikirkan bagaimana caranya ia merahasiakan ini dari sahabatnya sedangkan waktu dan tempat selalu menyudutkannya seolah ia tengah dituntut untuk menjelaskan saat itu juga. Ghea menghela napas berat ketika selesai meminum segelas air. Bagaimanapun, tidak akan ada keluarga ini kalau saja keluarganya yang dulu tidak pernah pergi. Lagi, Ghea menghela napas berat karena hati dan pikirannya kembali tertampar kenyataan yang sebaiknya memang harus dilupakan, namun sakitnya tidak pernah mau lepas. "Ghea, kamu sudah selesai makan? Papa mau bicara." Ghea menatap Farhan sembari mengangguk singkat. "Iya." Farhan menghela napas, kemudian menatap lekat mata istrinya yang tengah menatapnya juga. Meskipun ia selalu lugas dalam mengambil keputusan, tetapi sekarang terasa sedikit sulit, bahkan sangat sulit. Takut jika keputusannya yang sekarang akan dianggap tidak adil meskipun ini demi kebaikan juga. Ia sudah merundingkan ini dengan Aruna, mempertimbangkan baik dan buruknya, lebih dan kurangnya, positif dan negativenya, dan dampak apa yang akan terjadi ke depannya. "Ghea, lusa Papa dan Mama akan pergi ke luar kota lagi." "Bukannya semalam baru pulang?" Peduli apa Ghea? Itu hanya bentuk basa-basinya. Farhan mengangguk singkat. "Iya, kamu harus tahu kalau Papa dan Mama memang sering meninggalkan rumah." Baguslah, itu akan membuat Ghea sedikit terbebas. Namun tidak sepenuhnya karena masih ada Vero yang selalu menjadi penghalang ketika ia akan melakukan sesuatu. "Iya, Ghea, Mama sama Papa akan lebih sibuk mulai dari sekarang," imbuh Aruna seraya menatap Ghea dengan senyum tipis di bibirnya. Ghea bersorak dalam hati, namun hanya tersenyum tipis di bibirnya. "Iya, Ma." "Kamu nggak masalah, kan?" "Nggak, Ma." Ghea selalu bertanya-tanya dalam hati ketika kedua orang tuanya masih ada dulu. Apakah semua orang tua selalu sibuk dengan pekerjaannya? Tidak pernah ada waktu? Sampai lupa keluarga? Tidak ada alasan yang kuat, namun jika melihat orang tua Irene dan papanya Risa, maka pertanyaannya yang tadi semakin kuat untuk menjadi pernyataan. Pasalnya, orang-orang itu juga sama gilanya akan pekerjaan hingga melupakan orang yang mungkin masih haus akan kasih sayang. Sudahlah, cukup. Ghea muak jika mengingat itu. "Tapi, Ghea, ada hal lain yang harus Papa bicarakan." Ghea kembali mendongak. "Apa, Pa?" Farhan menatap Ghea, Vero dan Aruna secara bergantian. Dengan sekali tarikan napas ia mengucapkan apa yang membuatnya dilanda kebingungan tadi. "Seperti apa yang Papa bilang tadi, mulai sekarang Papa dan Mama akan lebih sibuk ke luar kota. Dengan begitu kami akan sering juga meninggalkan kalian berdua." Ghea sedikit melirik Vero ketika mendengar kata 'berdua' dari mulut Farhan. Ia mulai merasa aneh, juga tidak enak hati. "Sebenarnya Papa percaya sama kalian berdua, tapi ...." Pikiran Ghea sudah melayang ke mana-mana. Bisa-bisanya terbesit pikiran kalau kedua orang tuanya yang sekarang akan kembali melepasnya karena takut ada apa-apa dengan Vero. Atau mungkin ... mereka akan membelikan rumah, atau tempat tinggal untuk Ghea. "Demi kebaikan, untuk meminimalisir omongan orang-orang juga, Papa dan Mama akan menikahkan kalian berdua, besok." Seperti berekspetasi terlalu tinggi namun realita terlalu berat untuk menimpa. Apa-apaan ini? Ghea menelan ludah dengan payah. Matanya fokus kepada Farhan, keningnya mengerut dalam. Berbagai pertanyaan seakan ingin meluap bersamaan dengan jantungnya yang berdetak hebat. Benar-benar gila. Ucapan Farhan barusan seperti membuat kehidupan Ghea berhenti sejenak, memikirkan hal buruk apa yang akan ia terima ke depannya. Bisa-bisanya laki-laki penuh aturan itu melontarkan kata pernikahan begitu mudahnya. Tanpa memikirkan perasaannya, bahkan dampak bagi kehidupannya. Tidak, Ghea menolak keras. Bagaimanapun ia tidak mau menikah dengan alasan konyol seperti ini. Ghea menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak!" "Dan nggak ada pilihan buat kamu nolak," ucap Farhan tegas. Ghea tidak habis pikir lagi. Tidak ada pilihan untuk menolak? Jelas, biarpun Farhan dan Aruna sudah berbaik hati menerimannya, ia juga memiliki hak atas kehidupannya. Ini keterlaluan. Ghea masih sekolah, dan ia tidak mau menikah dengan cara konyol seperti itu. Wajah Ghea memerah, menahan amarah yang mulai meluap. Sudah cukup ia dipenuhi aturan-aturan yang diberikan Farhan, untuk masalah ini, ia tidak bisa mentolerirnya. "Ghea nggak mau," ucap Ghea akhirnya. Aruna yang melihat mimik wajah Ghea, sedikit merasa bersalah. "Ghea," ucapnya berusaha membujuk. "Nggak! Gak mau! Kalau kalian maksa, biar Ghea yang pergi dari rumah ini." Ucapan Ghea membuat semuanya hening, cukup lama. Sampai akhirnya Ghea beranjak dan memilih meninggalkan meja makan beserta orang-orangnya. Masa bodoh dengan dengan orang-orang itu. Ghea tidak bisa menerimanya. Kepergian Ghea membuat Farhan menghela napasnya. Ia sudah menduga ini sebelumnya. Tidak mau terlalu pusing, Farhan beralih menatap Vero. "Bagaimana dengan kamu, Vero?" Vero yang mendapat pertanyaan seperti itu, menarik salah satu sudut bibirnya. Bukan, bukan karena ia merasa senang, melainkan merasa miris dengan hidupnya sendiri. Ingin menentang, namun Vero sadar kalau hal itu tidak bisa ia lakukan. Vero beranjak dari duduknya, kemudian menatap Farhan dengan tatapan tak suka. "Terserah, tapi, emang ada pilihan buat Vero nolak?" -All Is Fake- Pukul sepuluh malam Ghea sampai di tujuan. Dengan pakaian seadanya juga wajah yang sedikit sembab ia menghela napas dan mengangkat tangan untuk mengetuk pintu yang ada di hadapannya. "Dan nggak ada pilihan buat kamu nolak." Kata-kata itu terus terngiang, membuat Ghea semakin pusing memikirkannya. Setelah mendengarnya, tanpa permisi juga tidak peduli perihal kesopanan Ghea pergi begitu saja dari meja makan itu. Masa bodoh apa yang akan terjadi. Ia tidak peduli sedikitpun jika kedua orang itu akan mengusirnya dan membuat Ghea menjadi gelandangan sekalipun. Yang terpenting, Ghea tidak mengorbankan masa depannya demi hal konyol seperti itu. Keharusan macam apa yang memberatkan sebelah pihak? Harusnya mereka sadar, pernikahan seperti itu tidak akan baik ke depannya. Apalagi mengingat Ghea yang sebelumnya tidak dekat dengan Vero--hanya sebatas tahu nama dan teman sekolah. Ditambah lagi mereka yang masih berumur sangat muda, dan pernikahan di antara mereka memang tidak mungkin terjadi. Terlebih dengan alasan tidak masuk akal. Benar-benar bodoh. Ghea tersenyum ketika melihat pintu baru saja terbuka dan menampilkan wanita paruh baya di depannya. "Ghea?" "Tante, Risa-nya, ada?" Wanita yang bernama Lusi itu menatap Ghea dari atas sampai bawah, mungkin heran dengan penampilan gadis itu. "Ada, ayok masuk dulu." Ghea menurut. Ia berjalan mengikuti Lusi dari belakang sembari menatap sekeliling rumah yang cukup besar namun terlihat sepi itu. Tidak ada jalan lain selain pergi dari rumah itu. Ghea memilih rumah Risa dikarenakan rumah inilah yang paling dekat, mengingat ia pergi tidak membawa apa-apa selain ponselnya sendiri. "Langsung naik aja, Risa ada di kamarnya." "Makasih, Tan." Setelahnya Ghea langsung menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju kamar Risa. Dengan hati yang penuh amarah, Ghea tidak peduli lagi jika Risa mengetahui semuanya. Cukup. Ia memang tidak sekuat itu untuk menyimpan masalah ini sendirian. Setelah pintu kamar terbuka dan menampilkan Risa yang tengah menatapnya heran, Ghea langsung menubruk tubuh sahabatnya itu bersamaan dengan bahunya yang bergetar. Inikah akhirnya? Ghea harus selemah ini di hadapan Risa meskipun gadis itu merupakan sahabatnya sendiri. Ghea benci ini. Ghea sudah tidak tahan lagi dengan kehidupan yang seakan tidak pernah memberi kesempatan dirinya untuk bahagia. "Lo kenapa, Ghe? Ada masalah?" Ghea semakin terisak kemudian mengeratkan pelukannya. "Gue pengen mati, Ris, gue nggak kuat." Sedangkan Risa yang mendengar itu merasa heran sekaligus khawatir. Ada apa dengan Ghea? Ghea yang selalu ceria dengan caranya sendiri. Ghea yang selalu tampak tenang, tanpa masalah di sekitarnya. "Lo kenapa, Ghe?" Ghea tidak menjawab, alhasil Risa memilih membawanya masuk ke dapam. Jujur, sejauh bersahabat dengan Ghea, ia tidak pernah melihatnya menangis seperti ini. Dalam keadaan hari yang sudah malam, penampilan yang terkesan acak-acakan. Ditambah lagi dengan ucapannya yang benar-benar mengejutkan. Ada apa sebenarnya? "Lo kenapa, Ghe?" Sekali lagi Risa bertanya. Namun tetap tidak ada jawaban. Risa menghela napas, kemudian mengusap lembut punggung Ghea yang terasa basah, mungkin disebabkan oleh keringat. Melihat Ghea yang terus menerus terisak dalam pelukannya, membuat Risa tidak tega, seolah ingin ikut menangis bersama Ghea. Cukup lama saling terdiam, akhirnya tangisan Ghea reda dan gadis itu melepaskan pelukannya. Membersihkan sisa-sisa air mata di pipinya. Ghea terkekeh, merasa bodoh karena sudah bertindak lemah seperti ini. "Sorry, Ris." Risa menatap Ghea dengan tatapan sedih. "Lo kenapa? Cerita sama gue." Ghea terdiam, memikirkan apakah ia harus menceritakan semuanya atau tidak. Jika ia kembali berbohong, Ghea tidak tahu harus menjelaskan dengan alasan apa. Dan jika ia bercerita, harus mulai menceritakannya dari mana? Pada akhirnya Ghea tetap kalah, memilih menyembunyikan lukanya seaman mungkin. Memendamnya bersamaan dengan tangis, dibalik senyum yang selalu ia tampilkan di bibirnya. "Sorry, Ris. Gue nggak apa-apa." To be continue....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN