Setelah siap dengan seragam sekolahnya, Vero keluar kamar dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Perlahan berjalan menuju pintu kamar Ghea, dengan perasaannya yang tidak karuan.
Bayangkan, Vero sudah melakukannya. Ia tidak bisa paham dengan apa yang terjadi sehingga ia bisa melakukan hal senekat itu.
Memang, tidak ada yang salah mengingat statusnya dengan Ghea, namun yang membuat Vero merasa takut adalah Ghea yang akan marah kepadanya.
Sampai di depan pintu, Vero merasa ragu untuk mengetuknya. Setelah tidur bagai mimpi indah itu, ia belum sempat melihat wajah Ghea lagi karena saat bangun tidur tadi, gadis itu sudah tidak ada di sampingnya.
Konyol, bukan? Sampai sekarang Vero masih belum bisa mengerti dengan apa yang ia lakukan semalam.
Terlalu sulit dipercaya.
Cukup lama terdiam, akhirnya Vero mengetuk pintunya juga. Sampai beberapa kali, namun tak kunjung ada tanda-tanda seseorang akan keluar.
"G-ghe?"
Segugup itu? Kelakuan Vero memang patut ditertawakan.
Merasa khawatir, Vero mencoba membuka pintu kamar Ghea. Namun ternyata tidak bisa, kemungkinan gadis itu mengunci pintu kamarnya.
Alih-alih berpikir kalau Ghea sudah berangkat lebih dulu, Vero malah lebih takut kalau gadis itu kenapa-napa di dalam sana. Mencoba menghubungi lewat telpon, namun tetap tidak mendapat jawaban.
Selang beberapa menit, Vero masih diam di tempatnya. Merasa khawatir sekaligus bingung harus bagaimana.
Bagaimana kalau Ghea marah?
Atau lebih parahnya lagi, bagaimana kalau gadis itu sakit?
Kalau itu terjadi, Vero akan merasa bersalah sangat besar kepadanya.
Di tengah rasa khawatirnya, Vero segera membuka ponsel ketika terdengar suara notifikasi di sana.
Sempat tegang seketika, namun akhirnya cowok itu menghela napas lega ketika membaca pesan yang ternyata dari Ghea.
Ghea:
Udah di sekolah.
Terkesan singkat, namun Vero sudah mengerti apa maksudnya. Ia jadi merasa tidak yakin ketika bertemu Ghea nanti. Apalagi, mengingat acara nanti malam yang mengharuskan mereka untuk pergi bersama.
******
Ghea sudah seperti gila saja rasanya ketika mengingat kejadian bodoh yang ia lakukan semalam. Di mana ia dengan bodohnya melakukan sesuatu yang amat nekat, hingga tidak memikirkan dampaknya akan seperti apa.
Segila itu, kah? Ghea berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi pergi ke tempat bising dan membiarkannya mabuk berat. Menyesali kebodohannya itu, Ghea jadi malu sendiri jika berpapasan dengan Vero nanti.
Bayangkan, entah apa saja yang sudah ia katakan kepada cowok itu. Apalagi dengan persoalan tindakannya yang seolah menggoda Vero untuk melakukannya.
Gila. Ghea ingin lenyap sekarang juga dari bumi ini.
"Kantin, yuk!"
ucapan Irene membuat Ghea menghela napasnya pelan. Pergi ke kantin bukanlah pilihan yang tepat, mengingat ia yang tengah mencoba bersembunyi dari salah satu siswa sekolah ini.
"Duluan aja," jawab Ghea.
"Idih, gak ngikut gak seru keles," balas Irene sengan wajah yang dibuat-buat.
"Iya, Ghe. Ikut, yuk. Lagian kalo lo diem di kelas terus yang ada suntuk. Orang kalo lagi sakit biasanya suka cari udara seger." Risa beranjak kemudian menghampiri Ghea. "Yuk, mari, kita cari yang seger-seger di luar. Sekalian, gue mau khilaf cari cogan."
Udara segar? Untuk keadaan seperti ini, udara segar bagi Ghea adalah tempat yang tersembunyi. Jika ia pergi ke kantin, bukan udara segar yang didapat, melainkan polusi jahat.
"Nggak, kalian aja sana."
Irene memutar bola matanya malas. "Hayuk, atuh, Ghe. Kita temenin Risa cari pengganti, kasian dia galau mulu gara-gara cowok nggak tau diri itu."
"Hey hey! Biarpun nggak tau diri, Arka tetep pacar gue," sela Risa tak terima.
"Dahlah, Ris, terserah deh. Kalo lo siap di-ghosting tanpa mengenal batas, ya, silahkan, mamam tuh Arka."
Risa menggeleng pelan dengan dua telapak tangan yang ditempelkan di d**a. "Ish ish ish, diri ini yakin, akan indah pada waktunya."
Mendengar itu, Ghea berdecak pelan kemudian beranjak dari duduknya. Biarlah, meskipun ia bertemu dengan Vero di kantin nanti, Ghea akan pura-pura tidak melihatnya.
"Nah, gitu. Kuy, berangkat." Risa berjalan keluar, mendahului Irene dan Ghea.
"Gak mau dilepas tuh syalnya? Gerah gue liatnya," ucap Irene.
Satu lagi, kekonyolan yang mengharuskan Ghea mengenakan syal ke sekolah. Sebenarnya Ghea sudah berniat untuk tidak sekolah hari ini, namun mengingat tanggung jawabnya kepada Risa ia jadi berpikur dua kali.
"Nggak, gue nyaman pakenya." Setelahnya Ghea dan Irene berjalan beriringan menyusul Risa.
Demi apa pun, Ghea berharap citra dirinya akan baik-baik saja selama satu jam ke depan.
Sampai di pintu masuk kantin, ketiga gadis itu berjalan beriringan menuju meja yang biasa mereka tempati. Berpikir tidak akan ada apa-apa, Ghea dibuat terkejut ketika tiba-tiba ada yang menarik syal yang ia kenakan sehingga membuatnya terjengkang ke lantai.
"Aduh!" ringisnya.
Ghea mendongak, menatap seseorang yang baru saja mencari masalah dengannya. Laura sialan! Gadis yang juga termasuk salah satu pembenci Risa itu tersenyum sinis setelah melakukan dosa kepadanya, seolah tanpa merasa bersalah.
"Woy! Apa-apaan?!" teriak Irene yang melihat dan yakin seratus persen kalau tindakan Laura itu merupakan tindakan kesengajaan. Bukannya berburuk sangka, namun mengingat riwayat hubungan mereka yang kurang baik bisa jadi alasan yang kuat.
Sedangkan tersangka bernama Laura itu hanya terkekeh sinis, seperti seseorang yang tengah bahagia karena melakukan hal yang disenanginya. "Pertunjukan bagus, tapi ada yang lebih mengejutkan dari ini."
"Mau lo apa, sih?" ujar Risa tak terima.
"Nggak ada apa-apa, cuma butuh hiburan aja."
Bitch! Gila! Setan berwujud manusia memang selalu merasa senang ketika telah melakukan hal yang bahkan tidak ada baiknya.
"Sampah! Lo lebih cocok disebut sampah!" Risa berdecih sinis. Siapa pun, jika menemukan manusia semacam Laura, pasti akan berpandangan sama seperti dirinya.
Merasa sudah emosi, Ghea berdiri kemudian menatap mata Laura tak kalah tajamnya. "Maksud lo apaan? Lo nggak ada cara lain buat tenar selain nyakitin orang?!"
Ghea terkekeh sinis. Matanya masih menatap Laura miris, seolah menyayangkan kelakuan gadis itu. Laura itu manusia, hanya kelakuannya saja melebihi setan. Sudah berusaha merebut Arka dari Risa, sekarang malah semakin mencari masalah di mana-mana.
"Nggak ada apa-apa, tapi pertunjukan dikit mantep kayaknya," balas Laura dengan tampang sinisnya.
Lihat? Tidak masuk akal, bukan?
Pertunjukan seperti apa yang selalu meremehkan bahkan melukai manusia?
Ghea sudah tidak habis pikir lagi, ia dibuat terkejut ketika tiba-tiba rambutnya disingkap begitu saja oleh gadis gila itu. Ditambah lagi ia baru menyadari kalau ternyata syal yang ia kenakan sudah lenyap dari tempat awalnya.
Sialan!
"Eh, itu tanda apaan di leher lo? Kok, kayak ... kiss mark?"
Perkataan Laura membuat Ghea menegang seketika dengan wajah yang kian memerah. Benar-benar kelewatan. Tubuh Ghea mulai bergetar, apalagi ketika melihat banyak pasang mata yang menatapnya dengan penasaran.
Bagaimana? Kenapa Laura bisa mengetahuinya?
Persetan dari itu, Ghea tidak mau menanggung malu yang lebih lagi. Gadis yang matanya sudah mulai berkaca itu berlari begitu saja, meninggalkan sahabatnya, meninggalkan orang-orang yang kini tengah riuh membicarakannya.
Memalukan, bukan? Orang-orang akan berpikir seperti apa kalau mereka benar-benar melihatnya?
Di tengah-tengah langkahnya, air mata Ghea jatuh tanpa diduga. Ghea tidak lemah, tidak begitu terusik dengan kelakuan Laura. Namun, rasa malu yang begitu besar membuatnya tidak mengerti harus apa sehingga tubuhnya mengungkapkan lewat air mata.
Demi apa pun, Ghea bersumpah akan membalas perlakuan Laura lain waktu.
Di saat seperti ini, rooftop adalah tempat yang paling tepat untuk menyembunyikan diri. Ghea baru akan menapaki tangga, namun entah siapa lagi yang kini mengusik pergerakannya.
"Kenapa?"
Dalam keadaan malu, juga wajah yang tak terkondisikan, Ghea malah bertemu seseorang yang ia hindari sedari pagi. Vero Anggara, penyebab utama kejadian memalikan ini.
Bukan hanya karena ingin sendiri, Ghea juga tengah mati-matian menghindar dari radar cowok itu karena malu dengan kejadian semalam.
Ghea menarik lengannya dari genggaman Vero, namun sayangnya tenaga cowok itu jauh lebih kuat dari tenaganya.
"Ghe? Kenapa nangis?"
"Lepas!" Ghea masih berusaha melepaskan diri.
"Ditanya, ya, jawab, bukan kayak gini," ucap Vero. Terkesan sinis memang, namun percayalah kalau nada bicara cowok itu sudah dengan nada terendagh juga suara yang kelewat lembut.
Mendengar itu, Ghea menatap Vero tajam. Ia menarik lengannya dengan sekali hentakan. "Gara-gara lo!"
Setelahnya gadis itu pergi begitu saja, meninggalkan Vero yang tengah kebingungan di tempatnya.
Biarkan, yang harus Ghea lakukan sekarang adalah melarikan diri dari semua orang.
Bersambung....