Gadis yang Malang

1921 Kata
           Setelah membaca buku catatan Maya, aku juga merasakan ketakutan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Maya. Jika melihat ke belakang, aku dan Maya memiliki sedikit kemiripan, aku memiliki rasa benci terhadap ayahku karena dia memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita tepat setahun kematian ibu. Sejak saat itu aku lebih memilih tinggal sendiri dan jarang pulang ke rumah. Terkadang ayah datang ke kantorku untuk sekedar bertanya kabar, aku tidak pernah memberitahukan di mana aku tinggal karena aku tidak mau ayah tahu, dan aku tidak mau berurusan dengan ayah karena bagiku ayah sudah mengkhianati ibu. Aku berusaha untuk mengenyahkan pikiranku tentang ayah dan lebih fokus memikirkan kasusku yang harus segera kuselesaikan. Ada beberapa tulisan lagi yang kuyakin itu bisa menemukan siapa sebenarnya Maya hingga bisa memutuskan mendorkan organnya seolah-olah dia tahu bahwa hidupnya tidak akan lama. Namun aku tidak ingin terburu-buru membaca catatan Maya karena hal itu harus dibaca dan dipahami dengan baik agar aku bisa mengetahui jawaban yang tersembunyi. Yang penting aku akhirnya tahu bahwa Maya masih memiliki keluarga yaitu kakak tirinya yang bernama Danya. Aku akan menghubungi Bagas atas penemuanku ini. Aku mencoba untuk membuka laptop milik Maya, berharap menemukan folder yang ada, hanya ada foto-foto Maya semasa kecil bersama keluarganya. Di sana aku melihat foto Danya, kakak tiri Maya yang sangat dibencinya itu. Danya memang cantik sesuai standar kecantikan orang Indonesia pada umumnya, tinggi, putih, dan berambut panjang. Namun sebenarnya Maya juga memiliki kecantikan yang khas, tapi hal itu malah membuat dia rendah diri selama bertahun-tahun. Bagiku Maya hanya kurang mencintai dirinya sendiri, apalagi dia pintar, seharusnya dia bisa menggali potensi alih-alih terus-terusan memikirkan standar kecantikan yang ditetapkan orang-orang. Namun di laptopnya tidak ditemukan catatan apapun kebanyakan hanya folder yang berisi foto dan file musik. Aku kembali menutup laptopnya dan berbaring di sofa, hari ini sangat melelahkan namun entah kenapa aku teringat momen-momen bersama ayah. **            Aku terbangun ketika dering ponselku berbunyi, aku melihat nama Ario tertera.            “Ya, ada apa?” kataku sambil menahan kantuk, aku melirik jam dinding yang baru menunjukan angka empat, masih terlalu dini untuk bangun tidur.            “Kau sudah bangun? Aku ada di depan apartemenm,” ujar Ario di ujung telepon. Mendengar Ario ada depan apartemenku, aku langsung berlari menuju pintu untuk membuktikan kebenarannya.            “Sedang apa kamu di sini subuh-subuh begini?” tanyaku sinis pada rekan kerjaku itu, aku benar-benar terganggu oleh kedatangannya yang tiba-tiba itu. Ario langsung masuk ke apartemenku dan duduk di sofa tempat di mana aku tidur tadi.            “Aku tunggu dua puluh menit untuk segera mandi dan bersiap-siap, cepatlah!” perintahnya.            “Siapa sebenarnya yang menjadi senior di sini? Dan untuk apa aku harus menuruti keinginanmu?” tanyaku sambil memicingkan mata pada juniorku itu. Ario hanya tersenyum mendengar begitu keras kepalanya diriku padahal dia hanya menyuruhku untuk mandi dan bersiap-siap.            “Baiklah, aku ke sini karena aku sudah menemukan keberadaan Danya, tadi malam pak Bagas memberitahunya padaku. Sekarang bagaimana?” “Kenapa kau tidak meneleponku dulu?” kataku seraya mengambil handuk dan menuju kamar mandi secara terburu-buru. “Aku sudah meneleponmu berulang kali tapi tidak diangkat.” Teriak Ario begitu aku sudah berada di kamar mandi. Aku benar-benar membuang waktuku dengan bertindak bodoh karena tidak mengangkat telepon Ario. Itu semua karena aku sangat kelelahan sehingga tidurku terlalu lelap. Ario sedang membaca buku catatan milik Maya yang kutaruh di atas meja, melihatku sudah siap, dia langsung menutup bukunya dan segera berdiri. Aku mengambil tas dan tak lupa memasukkan buku catatan Maya ke dalam tas ranselku. Aku dan Ario pun segera pergi menemui penjara, tempat di mana Danya berada. “Kamu membaca buku catatannya?” tanyaku pada Ario yang sedang fokus menyetir, jalanan masih kosong, meskipun ada beberapa orang yang terlihat sedang menggelar dagangan di emper-emper toko. “Iya,” jawab Ario singkat. “Lalu bagaimana pendapatmu?” “Entahlah, aku tidak tahu mana yang harus aku kasihani karena mereka semua patut untuk dikasihani.” “Maksudmu?” “Mereka berdua, Maya dan Danya memiliki nasib yang malang. Apa kamu sudah membaca semua catatannya?” “Belum, aku baru membaca catatan bulan agustus 2019, aku keburu ngantuk. Kamu sudah membaca semua catatannya dalam kurun waktu 20 menit?” “Tidak, aku sempat membacanya sedikit, jadi aku tinggal membaca kelanjutannya.” “Oh kapan?” “Saat aku mencoba membuka gembok bukunya, saat itu kamu pergi ke dapur membuat makanan, jadi aku langsung membacanya.” “Bagaimana isinya? Entah kenapa saat aku membaca catatan itu, aku jadi merasa ikut tertekan.” “Oh ya? Bagaimana itu bisa terjadi? Apa mungkin naluri keperempuanmu?” “Apa maksudmu? Kamu sedang membahas gender di sini?” “Tidak, aku hanya bertanya, maaf kalau aku salah.” Suasana menjadi dingin ketika aku meninggikan nada suaraku padanya. Lagipula kenapa Ario selalu saja memancing kemarahanku, apakah aku terlalu bersikap senioritas dalam bekerja? Atau apakah aku yang terlalu mudah emosional? Tapi entah kenapa Ario selalu sabar menghadapi moodku yang selalu naik turun. Dan anehnya dia tidak pernah marah ataupun tersinggung dengan sikapku yang tidak biasa ini. Jadi aku merasa malu sendiri dengan sikapku padanya, bagaimanapun dia mencoba untuk menghormatiku tapi aku tidak pernah menghargainya, aku malah gengsi untuk meminta maaf. “Kita sudah sampai, ayo!” ajak Ario, aku baru sadar dari lamunanku mengenai partner kerjaku itu dan malah kelihatan gelagapan ketika dia menatap mataku. Hari sudah mulai terang, kami sudah tiba di sebuah Lembaga Permasyarakatan, dan kami pun masuk ke dalam. Di hadapanku seorang wanita berusia 27 tahun dengan mata sayu dan kulit wajah yang kusam. Aku hampir tak mengenal wanita di hadapanku itu, karena foto dan aslinya sangatlah jauh berbeda meskipun di antara keduanya masih terlihat tanda-tanda kemiripan meskipun sediki, tapi gurat-gurat kecantikannya tidak pudar sama sekali. “Selamat pagi Danya, apa kabar?” tanyaku memulai percakapan. Wanita bernama Danya itu hanya diam tak menjawab kabarku. “Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu.” Tanya Danya balik. “Saya Alya dan ini Ario rekan kerja saya, kami berdua adalah detektif yang sedang menangani kasus adikmu yang bernama Maya Septiani yang merupakan korban tabrak lari dan sekarang sedang dalam keadaan koma.” Uraiku, kulihat mimik muka Danya datar seolah dia tidak merasa khawatir. “Apa dia akan mati?” tanya Danya dan hal itu membuatku dan Ario agak kaget dengan pertanyaannya itu. “Kondisi mati otak, dan dia belum sepenuhnya mati, dia memiliki kartu donor organ, dan kami sebagai polisi bermaksud untuk mewawancarai anda selaku keluarganya.” “Huh, keluarganya, sejak kapan aku jadi keluarga si jelek itu? Aku menolak diwawancarai, silakan kalian pergi!” usir Danya, membuatku dan Ario saling berpandangan. “Anda tidak boleh pergi sebelum anda memberikan informasi kepada kami tentang latar belakang adik anda. Dan wawancara ini dilindungi undang-undang.” Ujarku sambil memegang tangannya yang hendak berdiri meninggalkan bangku. “Hukum tidak berlaku untuk orang miskin sepertiku, apakah tidak ada undang-undang yang melindungi orang yang menolak diwawancarai?” tanya Danya yang kembali duduk. “Kami hanya menjalankan tugas,” “Baiklah, agar semua ini cepat selesai, apa yang ingin kalian tanyakan?” “Ceritakan kembali hubungan antara anda dengan Maya.” “Aku dan Maya bukanlah saudara kandung, kami tidak terlalu dekat sejak kecil, dan ketika aku berusia 18 tahun, aku tidak tinggal lagi dengan keluargaku jadi aku tidak tahu apa-apa tentang Maya.” “Apa Maya pernah kemari? Dia melihatmu di televisi ketika kamu ditangkap.” Aku mengganti kata ‘anda’ dengan kata ‘kamu’ agar pembicaraan kami terkesan tidak kaku. “Dia tidak pernah datang kemari, lagipula dia sangat membenciku, pasti dia sangat bahagia melihatku di penjara.” “Kenapa begitu?” “Sejak kecil Maya sangat iri padaku karena aku cantik dan disukai banyak orang, padahal dia sudah memiliki semua perhatian yang kuinginkan, dia sudah mengambil ibu kandungku dari tanganku. Dia sangat egois, licik, dan manipulatif seolah-olah dia adalah korban padahal yang sesungguhnya menjadi korban itu adalah aku. Gara-gara dia hidupku hancur! Aku benci Maya, aku benci ibu, aku benci semua orang! AKU BENCI WAJAH INI! Aaaaaaaarggggghhhh!” Teriak Danya yang mencoba melukai wajahnya menggunakan tangannya. Aku dan Ario dengan sigap mencoba menenangkan Danya, petugas lapas juga berhamburan datang dan membawa Danya kembali ke sel. Aku dan Ario terpaksa harus pergi dan wawancara kami dihentikan sementara entah sampai kapan sampai mental Danya kembali pulih. Aku menyuruh Ario untuk mencari latar belakang Danya, juga kenapa Danya bisa sampai berada di penjara. Kasus ini menjadi semakin rumit. Menurut data yang diberikan dari petugas lapas, Danya tinggal di sebuah perumahan besar, dia adalah istri simpanan seorang pengusaha kaya raya bernama Adi Putra yang ditemukan tewas terbunuh di dalam mobilnya. Pada awalnya Danya merupakan saksi  karena polisi menemukan sehelai rambutnya di dalam jok mobil korban, namun statusnya menjadi tersangka setelah akhirnya dia mengaku bahwa dirinya membunuh suaminya sendiri. “Sebelum menikah, Danya tinggal di sebuah kost-kostan yang ada di daerah Y, dia juga bekerja di sebuah bar yang tak jauh dari tempat kostnya. Apa kita ke sana sekarang?” tanya Ario sambil menyerahkan selembar kertas padaku, aku mengambilnya dan membacanya. Lalu aku teringat sesuatu yang penting. “Bukannya dalam catatan Maya, Danya memiliki anak? Di mana anaknya itu?” tanyaku penasaran. Ario hanya diam tak memberikan respon. “Kamu belum membaca semua isi catatannya kan? Maka bacalah dulu, lalu kamu akan tahu semuanya.” Jawaban Ario membuatku penasaran sekaligus marah, kenapa dia tidak memberitahunya saja alih-alih harus aku membacanya dulu? Tapi energiku seolah terkuras habis untuk sekedar memarahinya. “Baiklah, kita pergi ke tempat tinggal Danya di daerah Y saja dulu,” putusku akhirnya, mobil pun melaju menuju daerah Y yang berjarak cukup jauh dari lapas. ** Alia (teman satu kost Danya)            “Danya? kenapa kalian menanyakan wanita itu padaku? Aku tidak terlalu dekat dengannya, Danya bersahabat dengan Rania. Kalian bisa tanyakan pada Rania tentang wanita licik itu!” wanita bernama Alia itu pergi meninggalkanku dan Ario, lalu kami pun kembali mencari orang yang bernama Rania. Rania (sahabat Danya)            “Danya adalah wanita yang sangat baik dan sangat perhatian, bahkan ketika aku sedang sakit pun Danyalah orang yang merawatku. Aku dianggap sebagai adiknya, perlakuan Danya padaku membuatku sangat terharu, bahkan keluargaku pun tidak pernah memperlakukanku sedemikian baiknya seperti Danya. Ketika hari pertamaku bekerja di bar, Danya memukul seorang pelanggan yang mencoba untuk tidak membayarku.”            “Membayar? Maaf, maksudnya anda adalah…” potongku di sela-sela pembicaraan, Rania mengangguk. Tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu profesi Rania.            “Iya, aku, Danya, Alia dan semua penghuni kost ini adalah pelayan bar sekaligus… anda tahu maksudkukan. Tapi semenjak laki-laki bernama Adi Putra itu meminta Danya untuk menjadi istri simpanannya kehidupan Danya berubah total, kupikir Danya bahagia tinggal bersama laki-laki itu, tapi dia malah berakhir di penjara.”            “Apakah Danya pernah menceritakan tentang keluarganya atau adiknya Maya atau anaknya?” tanyaku.            “Pernah, tapi ketika dia menceritakannya dia selalu menangis, sebenarnya dia sangat rindu pada keluarganya, rindu pada anaknya yang telah meninggal namun kerinduan itu hanya bisa dia pendam karena keluarganya pasti akan membencinya jika melihatnya dalam kondisi seperti ini. Oh iya, Danya juga menitipkanku sebuah buku komik, katanya dia mengambilnya dari kamar adiknya sebagai pengobat rindu.” Rania menyerahkan komik berjudul Candy Candy kepadaku, aku menerimanya dengan tangan gemetar.            “Anaknya meninggal? Kenapa?”            “Aku kurang tahu, Danya tidak pernah menceritakannya.”            Setelah informasi yang diminta sudah dirasa cukup, aku dan Ario segera pergi dari daerah Y menuju kantor polisi. Selama perjalanan, aku hanya memikirkan betapa Danya sangat kesepian, jauh dari keluarga dan menghinakan diri di tempat-tempat seperti itu. Aku larut dalam rasa yang entah apa itu, sedih, sesak, takut, bahkan hampa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk keluar dari rasa itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN