Kehangatan Keluarga, Bisakah Kurengkuh?

1244 Kata
           Aku terbangun karena suara alarm di kamarku, kulihat jam menunjukan setengah lima pagi, buku catatan Maya berada di perutku karena tadi malam aku membaca catatan itu sampai larut malam, sebenarnya ketika membacanya, aku terbawa emosi karena baik Maya maupun Danya sama-sama berada dalam kesulitannya masing-masing, hal itu karena dampak penyakit hati yang membuat kurangnya penerimaan dan rasa syukur. Aku langsung meraih ponselku, tidak ada notifikasi. Biasanya Ario selalu mengirim pesan atau sekedar panggilan telepon yang tidak terjawab, menanyakan hal apapun yang berhubungan dengan kasus. Tapi sekarang aku tidak menemukan notifikasi dari Ario, tapi segera kuenyahkan semua tentang Ario dari pikiranku karena kenapa aku harus memikirkan laki-laki itu? Aku segera melempar ponselku ke pojok kasur dan langsung mengambil handuk menuju kamar mandi.            Jam setengah delapan aku menunggu Ario datang di halaman apartemen, beberapa kali aku melihat jam di tanganku dan sesekali melihat ke arah jalan, siapa tahu mobil yang dikendarai Ario muncul, aku tetap bersabar meski sedikit cemas. Tapi sudah setengah jam aku menunggu, dan nomor telepon Ario sama sekali tidak aktif, aku memutuskan memanggil taksi dan pergi ke kantor polisi sendirian. Jika aku bertemu dengan Ario di sana, aku akan mematahkan lehernya karena sudah membiarkanku menunggu terlalu lama seperti orang tidak waras.            “Mana? Ario?” tanyaku pada Arnold sesampainya di kantor polisi.            “Ario? Tadi dia telepon, kalau dia tidak masuk karena lagi sakit.” Jawab Arnold sambil matanya tetap tertuju pada layar komputer.            “Sakit? Sakit apa? Kemarin dia baik-baik saja.” Ujarku, Arnold melepaskan panddangannya pada layar komputer dan beralih menatapku.            “Nona Alya, sejak dua hari lalu Ario sudah terlihat tidak enak badan, tapi kamu terus-terusan membuatnya bekerja, apa kamu tidak lihat kemarin wajahnya pucat? Jangan terlalu memforsir dia lah, kasihan anak orang.” Ucap Arnold panjang lebar, mendengar penuturannya jelas aku tidak terima karena dianggap terlalu memforsir Ario, memangnya aku romusha apa? Tapi aku tidak memprotesnya karena tidak mau berdebat untuk hal yang sepele. Aku langsung meninggalkan meja Arnold dan menuju meja kerjaku. Rencananya hari ini aku dan Ario akan pergi ke rumah sakit melihat kondisi Maya. Tapi aku akan pergi ke rumah Ario terlebih dahulu untuk melihat keadaannya lalu pergi ke rumah sakit sendiri. Aku mengambil tas dan membawa kunci mobil kantor.            “Arnold, bilang Bagas, aku pergi!” kataku pada Arnold, laki-laki berusia 29 tahun itu hanya mengacungkan jempolnya.            Mobilku berhenti di pinggir sebuah rumah bergaya mediteranian, aku merasa Arnold salah mengirimku alamat rumah, mana mungkin orang seperti Ario tinggal di rumah semewah ini? Tapi karena penasaran, aku tetap membunyikan bel. Beberapa menit kemudian seorang wanita paruh baya datang membukakan pintu. Aku jelaskan bahwa aku mencari Ario Satya, meskipun aku tidak yakin kalau Ario tinggal di situ. Tapi anehnya wanita itu menyuruhku masuk ke dalam dan menyuruhku untuk duduk di ruang tamu. Aku kaget karena ternyata benar Ario tinggal di rumah mewah ini. Kalau dia orang kaya, kenapa dia malah memilih menjadi detektif? Tidak menjadi seorang pengusaha atau apalah itu. Tak lama kemudian, Ario datang dan menghampiriku, wajahnya pucat dan tampak lesu.            “Kenapa kamu tidak menghubungiku kalau kamu sakit? Dan kenapa ponselmu tidak aktif?” tanyaku langsung to the point. Ario merasa kikuk tapi dia hanya mengucapkan satu kata maaf. Aku berencana untuk memarahinya namun tidak jadi karena melihat wajah Ario yang mengkhawatirkan. Tak lama kemudian, wanita paruh baya yang tadi membukakan pintu datang lagi seraya membawakanku minuman dan beberapa camilan.            “Nak, ini pasti atasannya Ario ya? Apa Ario membuat kesalahan? Soalnya dia suka teledor, mohon dimaklumi ya.” tanya wanita itu seraya duduk di sampingku.            “Bukan, saya rekan kerja Ario, Ario sama sekali tidak membuat kesalahan kok, dia bertugas dengan baik. ehm, mohon maaf, ibu adalah ibunya Ario?”tanyaku balik.            “Iya, saya ibunya, Ario ini kalau sakit sedikit gak pernah dirasa, merasa baik-baik aja, tapi ujung-ujungnya tumbang juga, yaah begitulah, mirip sama almarhum papanya kalau sakit gak pernah dirasa.” Ucap ibu Ario panjang lebar. Aku hanya mengangguk, dan baru mengetahui bahwa ayah Ario sudah meninggal, aku sama sekali baru tahu, mungkin aku harus lebih belajar untuk mengenal rekan kerjaku lebih dalam karena kami adalah satu tim yang harus saling mendukung dan harus saling kompak.            “Bu, aku dan Alya akan pergi ke atas dulu, kami ada pekerjaan. Ayo Al!” ajak Ario, aku jadi agak kikuk karena harus meninggalkan ibunya, tapi Ario terus-terusan memanggilku, maka aku meminta izin untuk pergi menyusul Ario. Aku agak marah juga Ario berlaku tidak sopan padaku, dia memperlakukanku seperti seseorang teman wanitanya, menyebalkan, awas saja jika dia sudah sembuh akan kuhabisi.            “Maaf, ibuku kalau sudah bercerita tentang papa, pasti akan terus nyerocos, jadi aku bawa kamu kemari.” Ujar Ario setibanya di kamarnya. Aku merasa agak risih, kenapa dia malah membawaku ke kamarnya segala, apa yang akan dipikirkan ibunya kalau laki-laki dan perempuan berduaan di dalam kamar.            “Kenapa kamu mengajakku kemari?” tanyaku sinis. Ario malah duduk di lantai.            “Kenapa kamu ke rumahku?” tanyanya balik.            “Kata Arnold kamu sakit, jadi aku kemari. Kamu sakit apa? Kenapa tidak bilang kemarin?”            “Hanya demam biasa, sudah diobat dan sudah mendingan kok.”            “Ya sudah, kalau begitu, aku pergi, ini ada aku beli buah, silakan dimakan.”            “Tunggu, maaf merepotkanmu, kamu sudah kemari, apa kita tidak membahas kasus kita sekalian?” aku duduk di kursi sedangkan dia duduk di lantai. Aku duduk berdekatan dengannya.            “Aku kesini tidak membahas kasus, aku kesini hanya ingin menengokmu itu saja, apa kamu pikir aku ini rekan kerja yang tidak punya nurani sehingga rekan sakit saja aku memaksanya untuk bekerja?” ujarku marah, Ario malah tersenyum.            “Baiklah, aku sama sekali tidak pernah berpikiran begitu, kamu adalah rekan kerja yang sangat baik bagiku, dan aku sangat cocok denganmu.”            “Kalau begitu, apa yang ingin kamu bahas dari kasus kita?”            “Kamu sudah membaca lanjutatan buku catatannya?”            “Sudah, tapi aku baru membaca part dua, aku belum sempat membacanya lagi karena ketiduran.”            “Apa yang kamu dapat dari situ?”            “Dendam, rasa kecewa, sakit hati, kesedihan, kebingungan.”            “Benar, dan di sana ada nama Mayangkan? Dia adalah sahabat Maya ketika SMA, bagaimana kalau kita mewawancarainya? Kita juga bisa mencari teman-teman SMAnya Maya dan Danya, jadi kita bisa lebih mengenal mereka.”            “Benar, aku setuju, tapi mungkin kita akan pergi setelah kamu sembuh dari sakitmu, aku tidak mau dianggap sebagai rekan kerja yang jahat.”            “Baiklah, aku akan segera sembuh kalau sudah ditengok olehmu,” mukaku agak merah setelah dia mengatakan hal itu. Tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja. Dalam keheningan, suara ibunya Ario memanggil-manggil kami untuk segera turun. Aku dan Ario segera turun dan ibunya Ario menuntunku menuju meja makan, di sana sudah ada macam-macam lauk pauk yang menggugah selera. Lagipula tadi pagi aku hanya sarapan roti tawar, perutku meronta-ronta minta diisi dan sudah sangat lama sejak aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, aku tidak pernah lagi makan masakan rumah. Aku pura-pura bersikeras untuk pulang, namun untungnya ibunya Ario juga bersikeras untuk menyuruhku makan. Aku pun dengan senang hati yang seolah-olah merasa terpaksa mengikuti maunya ibunya Ario. Kami bertiga akhirnya makan dalam satu meja, bercerita tentang masa kecilnya Ario yang penuh dengan petualangan, aku pun tanpa sadar larut dalam cerita nostalgia dan tertawa-tawa mendengar cerita dari ibunya Ario. Aku merasakan kehangatan di sana, sudah lama aku tidak pernah merasakannya, semenjak ayahku memutuskan menikah lagi, aku sudah jarang duduk dalam satu meja makan dengan anggota keluarga. Aku jadi kangen masa-masa itu. Aku kangen ayah, aku kangen ibu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN