Ada banyak cerita hidup yang tak bisa disangka-sangka, aku merasakan kesedihan yang sangat ketika membaca catatan Maya tentang hdiupnya yang penuh dengan ketidakadilan. Aku mengerti apa yang dirasakan oleh Maya, dia lemah dan sendirian dalam menghadapi kerasnya kehidupan yang tak pernah disangka olehnya, sama dengan kasusku dan kasus Danya. Bedanya adalah aku sedikit lebih beruntung dibanding keadaan mereka, setidaknya aku mendapatkan privilege dengan orangtua yang open minded, sehingga aku bisa sekolah di akademi kepolisan meskipun pada mulanya aku gagal di tahun pertama, namun pada akhirnya aku berhasil masuk ke sekolah polisi di tahun kedua. Sedangkan mereka tidak, mereka tidak didukung oleh keluarga terdekatnya karena justru dari keluarganyalah mereka malah mendapatkan intitmidasi sehingga kebebasan mereka terbelenggu dan mereka tidak ke mana-mana, dipaksa untuk meratapi nasibnya yang malang.
Di tengah-tengah pemikiranku tentang Maya dan Danya, ponselku tiba-tiba berbunyi, telepon dari Ario. Jantungku berdegup kencang karena merasa kaget dan bingung, tapi tetap kuangkat juga telepon dari Ario itu.
“Al, aku ada di depan pintu apartemenmu, bisakah kamu membukanya?” kata Ario di ujung telepon. Aku kaget karena ternyata Ario ada di depan pintu apartemenku, meskipun aku tidak tahu untuk apa dia kemari. Tanpa menutup telepon darinya, aku membuka pintu, tampak Ario dengan setelan santainya tersenyum begitu aku membuka pintu.
“Kenapa kamu kemari di hari libur?” tanyanya sinis seperti biasa, intonasiku tetap seperti biasanya karena aku tidak mau Ario salah paham kepadaku kalau aku berubah lembut.
“Tidak, aku kemari ingin mengatakan tentang Danya.” jawab Ario sambil nyelonong masuk ke dalam apartemenku lalu dengan santainya duduk di sofa.
“Kenapa kamu membahas pekerjaan di hari libur?”
“Bukankah kamu pernah bilang, sebagai detektif kita tidak memiliki hari libur?”
“Oke, lantas apa yang ingin kamu katakan?”
“Aku mendapatkan informasi bahwa Danya sekarang dirawat di rumah sakit.”
“Apa? Sejak kapan?”
“Sejak tadi malam,”
“Bagaimana kondisinya sekarang?”
“Cukup parah, dia mengiris urat nadinya, dan sekarang dia banyak kehilangan darah.”
“Dia mencoba untuk bunuh diri? Kenapa?”
“Belum ada informasi lebih lanjut atas motif bunuh diri Danya, aku mendapatkan info itu dari petugas lapas,”
“Kalau begitu ayo kita ke sana sekarang, tapi bisa kamu tunggu sebentar? Aku akan berganti pakaian terlebih dahulu.” Aku baru menyadari kalau hanya memakai kaos oblong dan celana pendek dan aku pun belum mandi. Ario juga kelihatan baru menyadari kondisiku yang kusam. Tanpa menunggu lama aku langsung berlari ke kamar mandi, aku tidak keburu mandi hanya cuci muka dan gosok gigi, lantas berpakaian.
Sesampainya di rumah sakit khusus narapidana, aku dan Ario melihat kondisi Danya yang tampak lemah, meski kata dokter Danya sudah dalam kondisi baik hanya saja kondisi mentalnya yang tidak sedang baik-baik saja. Aku menghampiri Danya di bangsal dan mencoba mengobrol dari hati ke hati dengannya. Selama hampir tiga minggu ini, aku menangani kasus Maya, sehingga aku bisa mengenal baik Maya maupun Danya yang sebenarnya merupakan orang-orang yang harusnya mendapatkan perlindungan.
“Danya, bagaimana kondisimu sekarang?” tanyaku pada Danya ketika dia sudah sadar. Kulihat Danya memandangku lemah, tapi bibirnya terlihat menyunggingkan seulas senyum.
“Seperti yang kamu lihat, aku sedang berusaha untuk mati namun digagalkan karena ketahuan, harusnya aku lebih hati-hati.” Jawab Danya, jawaban Danya membuatku merinding, bagaimana mungkin seseorang mengatakan kematiannya dengan santai seperti itu.
“Kenapa kamu mencoba bunuh diri?”
“Lantas untuk apa aku hidup? Pada dasarnya hidupku sudah berakhir sejak lama. Hanya saja ragaku tidak mati.”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu? Hidupmu tidak hancur, kamu masih punya kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya.”
“Kamu tidak akan mengerti apa yang terjadi padaku, karena kamu lahir di keluarga yang baik dan penuh kasih sayang, tidak sepertiku.”
“Siapa bilang aku tidak mengerti kondisimu? Aku adalah orang yang paling mengerti kamu.”
“Maksudmu?” aku melirik Ario dan menyuruhnya untuk meninggalkanku berdua dengan Danya. Setelah Ario pergi, aku duduk di samping Danya, memberikan buku harianku padanya. Danya menatapku dengan rasa heran, namun dia tetap mengambil buku harian yang kuberikan padanya, lalu membacanya.
“Kamu?” tanya Danya sambil menatapku tajam. Aku mengangguk.
“Aku juga pernah berada di posisimu Danya, aku juga mengalami pelecehan seksual, aku tahu betul apa yang kamu rasakan, meskipun jalan yang kita tempuh berbeda, aku menumpahkan amarahku dengan latihan karate dan mengejar cita-citaku menjadi polisi, sedangkan kamu menghancurkan dirimu sendiri. Padahal Tuhan memberikan kita berdua opsi yang sama, yaitu menyelematkan banyak perempuan di luaran sana yang mengalami hal serupa seperti kita agar tidak ada lagi Danya Danya yang lain atau Alya Alya yang lain di kehidupan yang akan datang.”
“Sejak hari itu aku hancur, tidak ada yang percaya padaku, aku tidak memiliki siapapun lagi, orang-orang yang datang padaku hanya ingin memanfaatkanku saja, dan aku tidak bisa membedakan mana manusia yang baik dan mana manusia yang buruk, aku terjebak diantara orang-orang yang fake, yang kutahu adalah hidupku sudah hancur, kenapa aku tidak sekalian menghancurkannya saja?”
“Aku mengerti posisimu Danya, sekarang, mari kita sama-sama untuk melepaskan luka itu, dengan mencoba untuk menerima semuanya. Aku tahu itu berat, aku juga masih memiliki dendam pada mantan pacarku itu, tapi aku yakin kalau kita berusaha, pasti kita bisa melewatinya dengan mudah. Lagipula hukumanmu belum diputuskan, kami sedang memperjuangkannya. Percayalah Danya, aku yakin kamu bisa bertahan melewati semua ini.”
“Aku takut tidak bisa keluar dari belenggu masa laluku,”
“Dengan melakukan konseling, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua itu dengan baik, selama di sini cobalah untuk bersikap terbuka sedikit demi sedikit. Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya. Karena kamu sudah melewati banyak hal di kehidupanmu.”
“Apakah aku masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik? Dan apakah aku pantas?”
“Tentu, kamu sangat pantas, terkadang orang lain tidak bisa memahami apa yang kita rasakan, tapi hal itu tidak lantas membuat kita menjadi marah, karena toh pada dasarnya kita tidak pernah membiarkan untuk tahu.”
“Aku akan mencobanya, Alya, terimakasih kamu sudah berjuang untuk membantuku, tak akan kulupakan semua jasamu.”
“Aku hanya menjalankan tugas Danya, aku akan melakukan apapun agar aku bisa menyelematkan orang-orang yang menjadi korban, aku harap kamu bisa melakukannya untuk dirimu sendiri.”
“Bagaimana kondisi Maya? Apa dia sudah lebih baik?”
“Kondisi Maya masih sama, dia masih koma, bulan depan adalah hari dilakukannya operasi pengangkatan organ tubuh Maya, aku harap kamu sebagai keluarganya bisa hadir untuk memberikan salam perpisahan untuk adikmu yang pernah kamu sayangi.”
“Aku tidak tahu apakah aku akan datang menengoknya atau tidak, tapi entah kenapa aku merasa hatiku ikut sakit mendengar kondisinya seperti itu,”
“Danya, sebenranya Maya juga memiliki kesedihan sepertimu, dia juga menyimpan luka sama sepertimu. Kalian sama-sama terluka, sama-sama mendapatkan ketidakadilan, sama-sama menjadi korban atas kerasnya hidup ini. Seandainya jika kalian bersama, kalian berdua bisa mendapatkan kekuatan untuk melawan kebengisan orang-orang yang hendak menghacurkan hidup kalian.”
“Dari mana kamu tahu kalau Maya juga terluka?”
“Aku menemukan buku catatan Maya di tasnya ketika dia mengalami kecelakaan. Di sana tertulis semua perasaannya pada buku catatan.”
“Dia pasti membenciku, karena aku telah mengambil semua yang diinginkannya.”
“Ada beberapa part yang menceritakan tentang dirimu, tapi semua itu hanya terjadi dalam sudut pandangnya saja. Dia tidak tahu bahwa kamu pun juga memiliki luka yang sama seperti yang dirasakan olehnya, bahkan lukamu jauh lebih parah. Tapi, dia juga menuliskan, menyesal karena tidak bisa mempertahankan hubungan persaudaraannya denganmu, dia kesepian, dia meratapi kesedihannya karena tidak bisa bersama denganmu.”
“Sebenarnya jauh di lubuk hatiku, aku pun sama-sama merasakan kehampaan, aku memiliki saudara tapi seperti tidak memiliki saudara, aku sengaja membuang Maya dalam hidupku, membuat dirinya semakin benci padaku. Apakah dia akan memaafkanku jika aku meminta maaf padanya?”
“Tentu, aku yakin Maya pasti akan memaafkanmu, karena bagi Maya kamu adalah saudara satu-satunya.” Danya menangis tersedu-sedu, aku memeluknya erat seperti memeluk saudariku sendiri. Aku harap, Danya bisa melihat kondisi Maya untuk yang terakhir kalinya, sehingga Maya tidak merasa kesepian lagi.
***