Mobil pemberian Namie ini membantunya dapat melaju dengan cepat hingga dapat menyusul Timothy yang memang selalu cepat dalam berkendara. Pada akhirnya mereka sampai di mall The Plaza, dan mobil terparkir di lantai bawah.
Entah apa yang merasuki diri Emma, bukannya menghampiri Timothy secara langsung, ia justru mengendap-endap mengikuti lelaki itu dengan penyamaran ala detektif. Sejak dari mobil, ia sudah memakai wig pirang milik teman kerjanya yang tak sengaja tertinggal di saat menebeng pulang, dilengkapi dengan topi snapback miliknya demi menyembunyikan wajahnya. Tak lupa dilepaskannya cardigan yang selama ini dipakainya dari kantor dan hanya meninggalkan blus tanpa lengan tetap melekat di tubuhnya.
Saat akan naik lift, Emma dilanda kebingungan. Ia merasa bahwa ia tak mungkin berada dalam satu lift dengan Timothy. Jelas sekali pemuda itu akan dengan mudah mendapati keberadaannya. Namun di sisi lain, ia juga tidak boleh berpisah dengannya jika tidak ingin kehilangan jejak. Berbekal dengan kenekatan, ia menggandeng seorang wanita tak dikenal yang juga ikut masuk ke dalam lift.
Wanita itu merasa terkejut tetapi setelah mendapatkan bisikan dari Emma berbisik padanya, “Mbak, tolong saya. Saya lagi ikutin suami saya diam-diam,” sambil menunjuk pada Timothy. Seperti mendapat keberuntungan beruntun, wanita itu bersedia membantu dan beberapa orang lainnya turut masuk ke dalam lift, membuat keberadaannya tersamarkan. Ia senang bukan main karena berhasil mengikuti Timothy tanpa diketahui.
Timothy berhenti di lantai 46 dan menuju ke sebuah restoran Jepang di sana. Tanpa melepaskan pandangan dari sahabatnya, ia memberi jarak yang cukup di antara mereka. Dengan berhati-hati, ia mendapatkan tempat duduk yang hanya berjarak tiga meja darinya -- jarak yang masih cukup dekat untuk bisa mendengarkan pembicaraan Timothy dengan sang klien.
Emma berpura-pura sedang membaca menu sambil diam-diam mengamati siapa yang akan Timothy temui. Meskipun begitu, ia masih bisa memesan Matcha Fondant Cake dengan es krim yang menarik hatinya. Pasalnya, saat ini ia berada di restoran Jepang yang merupakan tempat favorit baginya.
Sekitar lima menit setelah itu, seseorang yang tampak familiar mendatangi Timothy. Emma terkejut mendapati adiknya sendiri lah yang menjadi klien sahabatnya. Ia jadi bertanya-tanya mengapa Timothy tidak menceritakan tentang hal ini padanya. Ada perasaan kesal namun ia tetap berusaha untuk positif dan tenang.
"Ko, bos aku titip pesen kalo di bagian sini desainnya dibuat lebih simple. Menurut Ko Timmy gimana?" Miu terdengar berbeda dari yang biasanya Emma dengar di rumah.
"Oh, kamu udah bilang ke si bos penjelasanku kemarin kan?"
Emma terperanjat seketika. 'Yakin tuh? Gue nggak salah denger kan? Sejak kapan Timothy mau pake aku-kamu? Biasanya sama klien seumuran aja dia masih pake gue-lo. Ini kenapa beda? Mana Miu panggil dia pake sebutan Timmy lagi. Wah, ada yang nggak beres nih.' Pikirannya penuh dengan segala macam kecurigaan.
"Udah sih. Tapi masih ngotot dibuat simple aja. Kesel kan jadinya," Miu menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
Timothy tertawa kecil. "Jangan cemberut gitu kali. Namanya juga kerja sama orang. Pasti ada masalahnya. Mending sekarang kita makan malam. Gimana?" ia menawarkan dengan begitu manisnya. Sesuatu yang Emma belum pernah dapati selama bersahabat dengannya.
Ide itu disambut dengan anggukan oleh Miu yang kemudian memanggil pelayan untuk datang. Keduanya memesan beberapa menu makanan dan minuman lalu kembali mengobrol.
"Oh ya, Ko. Aku lagi sebel nih sama keadaan di rumah," Miu membuka percakapan lain.
"Emangnya ada apa?"
"Papa mama udah nggak kaya dulu. Sekarang aku kaya berasa terasingkan gitu di rumah," lanjut Miu. Wajahnya menunjukkan rasa jengkel. "Sejak Emma dateng, semuanya lebih suka untuk ngobrol sama dia. Apa-apa Emma, ini itu Emma, sedikit-sedikit Emma. Pusing aku jadinya."
Perkataan itu menorehkan luka tersendiri di hati Emma. Ia tidak tahu jika adiknya merasa seperti itu. Timbul perasaan bersalah karena selama ini yang ada adalah pikiran buruk tentang Miu.
"Kamu harus maklumin lah. Pasti keluarga kamu tuh kangen banget sama Emma setelah bertahun-tahun kehilangan dia. Mungkin kamu nggak deket sama dia karena waktu itu kamu masih bayi kan?" Timothy menanggapi. Ia bisa berkata seperti itu karena Emma selalu menceritakan kondisi keluarga kandungnya.
Miu mengangguk. "Tapi nih ya, Emma tuh jadi kaya sok-sokan gitu loh," ucapnya kesal.
"Apa? Sok-sokan? Masa sih? Ya walaupun Emma tuh suka ketus sama aku, tapi dia nggak pernah gitu sama orang lain atau keluarganya kok," Timothy membela sahabatnya, membuat Emma yang mendengar diam-diam merasa senang. "Malahan Emma tuh tipe cewek yang lebih duluin kepentingan orang lain loh. Ini bukan aku belain atau gimana, tapi karena emang dia aslinya gitu."
Terdengar desahan tidak suka dari mulut Miu. "Itu karena Ko Timmy terlalu lama sama dia. Semua fokus ke dia. Ini aku kasi pandangan lain. Versi orang lain. Sekarang Koko dengerin aku," ia mulai bernada serius. "Masa iya dia marah gara-gara aku nggak sengaja sobekin dress dia? Terus mentang-mentang Papa percayain dia untuk dekor ulang restoran, jadinya setiap aku mau ngobrol sama Papa selalu aja nggak ada waktu karena sibuk sama Emma. Belum lagi mobil mama yang harusnya bisa dikasi ke aku, eh malah dikasi ke Emma karena dia ngerengek-rengek gitu minta mobil. Kesel nggak coba?"
Seperti dirajam dengan batu-batu tajam, hatinya merasa tersakiti. Kali ini Emma tidak sanggup untuk diam saja. Kesedihannya kini sudah berlalu dan tergantikan dengan kemarahan. Miu sudah melontarkan tuduhan-tuduhan tak benar tentang dirinya. Ditinggalkannya kue pesanannya itu di atas meja lalu menghampiri adik dan sahabatnya itu.
"Jujur ya, Miu. Gue tadinya ngerasa bersalah karena udah bikin lo merasa tersisihkan di rumah," ucapan Emma membuat Miu dan Timothy berpaling dan terperanjat mendapati kehadirannya yang tidak disangka-sangka. Ia pun tak menggunakan 'aku-kamu' seperti yang ia selalu lakukan saat berkomunikasi dengan keluarga. Ia berbicara seolah-olah dengan orang lain.
"Emma," Timothy hendak bicara tapi gadis itu melemparkan pandangan tajam padanya, mengisyaratkan untuk diam.
"Bahkan dengan segala sikap dingin lo, belum lagi berkali-kali lo ngerjain gue tanpa sebab yang jelas, gue tetep baikin lo. Ngerti nggak kalo gue itu berusaha banget untuk deket sama lo? Kenapa coba? Karena gue dari dulu kepingin punya adik perempuan," Emma meluapkan seluruh isi hatinya, namun tetap membuat suaranya tak terlalu keras demi menjaga situasi tetap kondusif. "Tapi kenapa lo harus tuduh gue gitu di depan sahabat gue sendiri? Lo mau bikin persahabatan kami jadi rusak gitu? Oh! Jangan-jangan selama ini yang bikin Timothy susah diraih tuh lo ya? Luar biasa." Ia memberikan tepuk tangan sarkastik.
Timothy menyentuh tangannya. "Em, cukup," katanya.
Sontak Emma mengibaskan tangan Timothy. "Dan lo, Tim, bukannya kita sahabat? Kenapa harus sembunyiin fakta kalo lo ketemu sama adik gue? Padahal gue juga nggak bakalan keberatan kali," ia ganti melemparkan amarah pada sahabatnya. "Gue pikir gue bisa percaya sama lo, Tim. Bahkan buat gue lo adalah orang yang paling gue percaya di seluruh dunia ini. Tapi kenapa cuman karena satu cewek lo bisa jadi gini sih?"
"Satu cewek? Gue adik lo!" Miu menyahut dengan nada meninggi.
Emma melirik tajam pada adiknya dan menanggapi, "Gue lagi ngomong sama Timothy. Lo diem aja." Ia berpaling kembali pada Timothy dengan tangan bersidekap. "Lo harus jelasin ke gue semuanya ini, Tim. Buat gue ini nggak masuk akal pake banget. Bahkan keterlaluan. Kita udah sahabatan lama banget loh."
"Em, gue punya alasan. Tapi kita ngomong di luar ya," Timothy berusaha untuk menenangkan Emma yang wajahnya sudah memerah menahan murka.
Emma memandang Timothy dengan penuh kekecewaan. "Udah. Udah lah, Tim. Lupain aja," ucapnya. "Dan lo Miu--" Ia menghela nafas lalu memutuskan untuk tidak lanjut bicara.
Emosi Emma terlalu mendominasi. Ia takut melakukan sesuatu yang di luar kontrol sehingga ia menahan diri. Tanpa kata, ia meninggalkan Miu dan Timothy begitu saja dan meninggalkan dua lembar uang di atas mejanya tadi sebelum keluar dari restoran. Di dalam mobilnya, ia menyandarkan kepala di setir dan menangis begitu lama, melepaskan segala kepedihan di hatinya.