Hari ini :
Stay hot, walaupun udah hot liat mantan gandeng mbak-mbak baru!
Hari senin, oke aku sangat membenci hari itu. Siapa sih yang menciptakan hari 'malas' sedunia itu? Aku mendesah lelah, kusandarkan tubuhku pada kursi dan menatap komputer yang masih menyala dihadapanku, menampilkan sederet kata-kata yang sudah kususun dengan apik.
Aku memijat pelan pelipisku, memejamkan mata dan mulai memikirkan kelanjutan kata yang harus aku rangkai.
"Nay, jalan yuk! Temenin gue beli kado buat suami." Suara itu selalu membuyarkan kata-kata yang sudah tersusun rapi di dalam kepala. Devina, alias ibu bos di tempat aku bekerja sekarang.
"Kebiasaan deh, ini ide udah kesusun ya di dalam otak. Bubar semua!" Aku menatap marah ke arahnya, sedangkan dia malah berkacak pinggang dan balik marah padaku.
"Lo kok berani marah-marah sama gue?"
Dengan senyum maut adalanku, aku segera bangkit dari kursi empuk yang kududuki. Menggiring Devi keluar dari tempat kerjaku. Aku harus menunda pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi akan selesai dan aku bisa pulang lebih awal. Oke, hari senin dan pulang cepat itu hanyalah mitos.
"Biasa aja senyumnya, gue gak bakal kepelet." Si Devina yang sialnya adalah bos sekaligus sahabatku mengais rupiah di ibu kota mulutnya emang gak pernah ikut bangku PAUD kali ya?
"Gak ada ya main pelet, enak aja!"
"Pantes masih belom laku." Mulutnya, pengen diulek pake cobeknya mama deh. Untung dia bos!
Kami melangkahkan kaki menuju toko pakaian dalam, wait. Dia mau kasih kado daleman buat Galih—suami Devi? Ah bodoamat. Aku dengan setia mengikuti Devina, dengan mata yang terfokuskan pada layar iPhone ku.
"Nay, bagus yang mana? Merah atau yang item?" Devina menunjukan dua potong lingerie dengan beda warna, oke sekarang aku paham kado apa yang dimaksud oleh sahabatku tadi.
"Yang merah menggoda, tapi yang item aja deh." Saranku.
"Serius lo, yang mana nih? Merah aja deh, gue belom pernah pake yang warna merah."
Aku mencebikkan bibir, dan Devina cuma nyengir berlalu menuju kasir. Membayangkan kapan aku akan membeli pakaian itu untuk suamiku. Memanjakannya dengan seharian berduaan di dalam kamar.
Pletakk
Oh s**t!! Jidatku berdenyut menahan perih. Devina s****n!
"Mikir jorok lo ya. Yuk cari makan, gue yang bayar." Ucap Devina, kemudian dia berjalan lebih dulu di depanku.
Enaknya nemenin dia belanja ini doang sih, bisa makan gratis. Lumayankan uang buat jatah makan bisa buat perawatan. Devina itu orangnya emang gak pelit, dari pertama kenal dia udah sering banget bayarin makan. Satu lagi, itu juga karena kita punya selera makan yang sama! Lop ma besprend!!
"Eh eh, itu si b*****t mantan lo kan?" Dia memang punya panggilan khusus buat mantanku satu-satunya, Bayu. Aku melihat samping kiriku, si b*****t bayu sedang asik menyantap makanannya bersama perempuan yang sudah kutahu siapa namanya. Bayu s****n, kenapa masih sesakit ini saat melihatnya bersama orang lain ya Tuhan.
Aku hanya bisa menunduk, mengatur hati dan pikiranku, gak boleh liat dia lagi. Dia udah mati!
"Pulang yuk, gak usah diliatin terus. Nanti lo ketularan tololnya lagi." Aku mengiyakan perkataan Devina, kalau aku harus berlama-lama melihat Bayu maka mulutku ini tak kan bisa berhenti mengumpatinya. Ampunilah mulut ini Tuhan.
"Inget Nay, lo harus stay hot, walaupun udah hot liat mantan gandeng mbak-mbak baru!"
Oke Nay! Pasti bisa!
"Buruan."
"Sabar dong. Udah santai aja, jangan keliatan buru-buru gitu. Kalau perlu kita harus lewat langsung di hadapan mereka!" Ucap Devina.
Dan benar saja, Devina memilih jalan yang melewati Bayu bersama pacar barunya. Aku hanya bisa mengumpat dalam hati saat melihat perempuan itu menyuapi Bayu dengan sepotong sushi, tunggu Bayu itu paling gak suka makan sushi saat bersamaku dulu, tapi---
"Ya ampun Nay, ganteng banget sih pacar baru lo. Beda jauh sama yang dulu, bagai langit dan bumi! Gue dukung lo banget sih, Tuhan memang adil setelah lo ikhlas melepaskan batu kerikil eh di ganti sama sekarung berian." Aku kaget dengan ucapan Devina, namun sedetik kemudian aku paham dengan kodenya yang menyikut tanganku.
"Tuhan emang baik banget Dev, dah ah pulang yuk. Di sini banyak orang yang bodoh karena cinta!"
"t***l sih lebih tepatnya." Devina tertawa.
Dan kami berhasil melewati Bayu dengan akting yang berjalan sempurna dan terlihat natural, itu kata Devina.
"Lo liat gak sih gimana ekspresi dia pas liat lo? Oh my god, mukanya cengo gitu, ngakak!" Devina masih terus membahas kejadian tadi saat kami sudah kembali ke kantor.
"Biarin aja sih Dev, males bahas dia."
"Iya deh yang udah gak cinta lagi, atau jangan-jangan lo udah ada yang baru ya?" Godanya.
Aku mendengus pelan, boro-boro ada yang baru. Yang ngajakin kenalan aja belom ada!
"Sayang."
"Hai, kok gak bilang sih kalau mau ke sini?" Aku memotar bola mataku malas saat melihat adegan mesra antara Devina dan Galih.
"Kalian bisa gak sih gak usah sok romantis gitu?"
"Sirik aja sih Nay." Galih, sepupu yang paling menyebalkan di seluruh dunia.
"Udah ah kalau mau mesra-mesraan di ruang Devina aja, jangan di sini!" aku mengibaskan tangan ke arah mereka, tanda untuk memintanya pergi.
"Oke deh, tapi kerjaan yang ini harus selesai besok pagi ya Nay. Udah di tunggu banget soalnya." Ucap Devina tanpa dosa.
Ku lempari keduanya dengan gulungan kertas yang sudah ku remas membentuk bulatan kecil, dan mereka hanya tertawa.
"Selow dong Nay."
***
Ku rebahkan tubuhku di kasur super embuk kesayanganku, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan.
"Ahh enak banget."
Bayu
Km bener udh punya pacar?
Aku menganga melihat pesan yang dikirim oleh Bayu sejak dua jam yang lalu. Kepo banget sih jadi cowok, gak cool!
To Bayu
Sorry, ini dengan siapa?
Tak sampai satu menit, pesanku sudah dibaca olehnya. Udah nunggu banget kali ya?
Bayu
Km hps nmr aku?
Bayu
Maaf ya nay, aku nyesel
To Bayu
Oh
Bayu
Cm oh?
To Bayu
Trs?
Bayu
Aku mau ketemu, di cafe biasa
To Bayu
Sibuk
Bayu
Satu jam?
Malas menanggapinya lagi, aku segera mematikan ponselku. Berendap dengan air hangat mungkin bisa merilekskan tubuhku.
Devina
Beb, galh kesenengan pas liat aku pake lingerinya
Tuh sampe typo, galih maksudnya
Benar-benar ajaib, kadang Devina suka asal ceplos menceritakan hubungannya dengan Galih padaku. Tapi mereka adalah pasangan yang sangat serasi menurutku dan aku sangat mendukung mereka sebagai sahabat dan juga sepupuku.
To Devina
Mandi dulu ya
Devina
Gak asik!