03. Hello, Ms hot!

1192 Kata
Hari ini :     hello, ms hot!         "Semalem lo dari mana Nay? Gak keliatan." Saat ini aku beserta Devina dan Galih sedang berada disebuah cafe dekat pantai kuta. Katanya sih Galih mendapat undangan makan siang bersama klientnya. "Dari pantai, liat sunset." Aku tetap asik bermain dengan ponselku, mengedit beberapa foto dan mempostingnya ke akun instagramku. "Padahal kita juga ke pantai ya yang, kenapa gak bareng kita aja biar gak keliatan kayak orang ilang Nay." Galih s****n, dia emang cocok banget sih sama Devina. Sama-sama sering ngecengin. "Terus jadi nyamuknya kalian gitu? Ogah ya." terdengar tawa renyah dari pasangan suami istri di depanku dan aku kembali fokus dengan ponsel ditanganku. Menggeser layar atau sekedar membalas beberapa pesan masuk dari Line. "Hai, maaf terlambat. Tadi ada sedikit masalah dijalan." Aku tak menghiraukannya, mungkin yang datang barusan adalah rekan bisnis yang dimaksud oleh Galih tadi. "Tidak masalah kami juga baru sampai, silahkan duduk." Galih jadi sok ramah gini ya kalau sama klient, peres juga itu orang. "Oh iya, kenalkan ini istri saya Devina dan disebelah anda adalah Nayyara, dia sepupu saya." Kulihat Devina menjabat tangan rekan bisnis Galih, dan diikuti olehku. Mampus!! "Hello ms Hot, we meet again." Kata pria tua disebelahku yang tak lain adalah om-om yang bertemu denganku dipantai kemarin. "Pardon?" "Ms Hot." Ulangnya lagi, telingaku rasanya meremang mendengar dia menyebutku seperti itu. "Om tua s****n!" Desisku pelan, yang aku yakini hanya bisa didengar olehnya karena Devina dan Galih sedang pergi ke toilet setelah memesan makanan tadi. "Kenapa kamu hobi sekali memanggil sama om." Dia protes, bodoamat! "Kenapa liatin segitunya, gak pernah liat cewek cantik ya?" Tanyaku sedikit sewot, dia tertawa. Ada yang lucu? "Kamu emang cantik, dan.." Dia menggantungkan kalimatnya, aku menatapnya. Tatapan mata kami bertemu, matanya indah. "Menggairahkan." Uhukk "Dasar om tua kurang ajar!" "Kamu makin sexy kalau sedang marah, saya suka." Kenapa mendadak jadi deg-degan gini sih duduk deket dia. Nyebelin. "Kamu deg-degan ya? sama dong, saya juga deg-degan banget deket kamu. Gak kuat." Dia frontal banget astaga. Mama Nay maluuu. "Bodoamat!" "Kamu lucu banget sih." "Om jawab mulu deh." Lama-lama aku bisa pingsan ya Tuhan, liat senyumnya aja udah bikin lemes gini. "Ehh, itu punyaku yaa main minum aja. Dasar gak sopan!" protesku saat dia dengan seenaknya meminum green tea yang sudah ku pesan. "Oh ini punya kamu? Pantesan makin manis, apalagi kalau saya langsung.." Ini mulut perlu banget dikasih lakban ya. Dari tadi gak bisa diem. "Diem, mendingan om gak usah ngomong deh dari pada omongan om itu ngelantur." Awas ya Devina sama Galih, kalau gak dateng dalam hitungan ketiga gue bakal pecat mereka jadi sodara. Satuu Duaa Tig.. "Maaf lama, tadi Devina muntah-muntah terus maklum lag hamil muda." Galih datang sendirian dari arah depan, mana lagi si Devina. "Oh ya Nay, gue sama Devi pulang duluan ya. Lo disini aja gak masalah, temenin pak Marshal. Pak maaf saya harus pulang duluan, aduh gimana ya saya sebenernya gak enak harus pulang sekarang tapi istri saya." "No problem, pak Galih pulang saja kasihan istrinya. Nanti biar Nayyara saya yang antar pulang." Bisa aja sih ni om tua modusnya. "Gak perlu, emm saya pulang bareng Galih aja. Kalau saya pulang bareng pak Marshal nanti malah ngerepotin lagi." Alibiku, jantungku tak akan kuat berlama-lama dengannya. "Sama sekali tidak, kebetulan rumah saya searah dengan tempan kalian menginap." Sial sial sial. "Udah Nay, lo bareng sama pak Marshal aja. Dia orangnya baik kok, gue duluan ya. Mari pak." Galih pergi begitu saja sebelum aku siap membalas, matilah kamu Nay harus berduaan sama om tua yang mesumnya gak ketulungan ini. "Hati-hati." 15 menit kami lewati dengan hening. Tak ada yang memulai percakapan diantara kami, si Marshal fokus pada layar tab digenggamannya dan aku, hanya mengaduk-aduk makanan dipiringku. Entah kenapa nafsu makanku mendadak hilang. "Sudah selesai makannya?" Marshal meletakkan tabnya ke meja dan beralih fokus padaku, gitu kek dari tadi. "Udah." Dia melirik makanan dipiringku. "Kenapa gak dimakan? Gak enak? Mau ganti makanan yang lain?" Kenapa dia kadang bisa gemesin gini sih, dikasih makan apa coba sama emaknya. "Hemm?" Dia bertanya lagi dengan dehemannya, dan kujawab dengan gelengan kepala. "Oke, sekarang mau kemana? Biar saya antar?" "Pulang." "Selain pulang ke penginapan Nay, kamu disini untuk liburan bukan untuk numpang tidur. Oke, mungkin jika kita sedang honeymoon saya akan dengan senang hati mengurung kamu di dalam kamar seharian. Kita bisa mencoba berbagai gaya untuk ber.." Aku harus segera membungkam mulut kotornya sebelum terjadi hal yang tidak-tidak. Oh s**t! Dia m******t telapak tanganku. "Jangan pernah mikir jorok! Udah tua itu banyakin ibadah bukan ena-ena!" Ku gosokkan talapak tanganku ke kemajanya berusaha menghilangkan najis bekas jilatannya, iyuhh sekali dia. Lihat, sekarang dia tersenyum tanpa beban kearahku. "Kamu manis banget, gak kuat pengen saya makan." Oke, Nay jangan goyah dengan godaan pria yang sialannya itu hot banget didepanmu ini. s**l s**l s**l, ibu jarinya menyentuh bibir bawahku. Pelan dan lembut. "Pengen nyicipin lagi, tapi saya yakin nanti kamu bakalan marah." Ucapnya tepat didepan bibirku, dan Nay, kenapa kamu diem aja sih diperlakukan kayak gitu sama pria hot ini, Nay b**o! CHUPP Dia mengecup ujung bibirku dipertemuan kedua kami, setelah kemarin dia mencium bibirku di pantai. Gila! Benar-benar gila! Nay kemana otak warasmu pergi? Kemana jiwamu yang selalu jual mahal? "Kenapa bengong? Masih kurang ya?" Dia tersenyum mengejek. "Bangsat." Ucapku pelan. "Ya, saya memang b*****t dan si b*****t ini pengen kamu jadi istri saya." Makin gila ni orang! "Gak! Kenal aja masih baru, udah ngaku jadi calon suami." "Look at this!" katanya sambil mengangkat tangannya dan tanganku secara bersamaan. Kok bisa ada cincin sih ditanganku? Perasaan gak pernah pake. "Ini cincin pertunangan kita, baguskan. Atau mau ganti?" Ku abaikan saja perkataannya, yang ada diotakku sekarang adalah gimana bisa cinicin ini ada dijari manisku? "Kamu gak akan bisa lepas cincin ini, udah pas banget sama ukuran jari kamu." "Gini ya pak Marshal yang terhormat, pertama kita baru kenal. Kedua bapak juga gak tau tentang kehidupan saya gimana, kenapa tiba-tiba bapak ngaku-ngaku kalau kita udah tunangan?" "Dan kenapa bisa tau ukuran cincinnya udah langsung kepasang lagi?" "Udah tanyanya? Biar saya jawab, pertama kita kenal sejak kamu masih kecil, mungkin saya usia smp. Kedua saya tau segala kehidupan kamu. Yang terakhir, jangankan ukuran cincin ukuran b*a dan celana dalam kamu juga saya tau, dan kamu aja yang gak sadar kalau saya pakein cincin. Masalah b*a dan celana dalam, saya juga bisa bantu kamu untuk memakainya, gimana?" ucapnya dengan tenang. "No!" Dia mengeluarkan dompetnya, hanya ada beberapa lembar uang disana. Sisanya adalah sederet kartu plastik yang kuyakin isinya mencapai ratusan juta. "Kamu ingat siapa dia?" Marshal menunjuk seorang anak laki-laki yang sedang bermain dengan gadis kecil, mungkin adiknya. Wait, kok mirip aku? "Ini saya, dan gadis kecil itu tentu saja kamu." "Gimana bisa?" "Bisa aja, buktinya sekarang kita ada. Mungkin kamu lupa jika dulu kita adalah tetangga, tapi saya harus pindah keluar negeri karena suatu hal." "Ya terus apa hubungannya sama ini?" Aku mengangkat tanganku, menunjukkan cincin yang melingkar dijariku. "Saya mencintai kamu, dan saya mau kamu jadi istri saya. Ini bukan permintaan tapi perintah." Gila! Kenapa hidup jadi sedrama ini sih. "Tapi anda gak berhak memberi saya perintah!" Tegasku. "Oh ya?" Marshal mengangkat sebelah alisnya. "Lihat saja nanti." Ucapnya, kemudian mengecup jari tanganku pelan.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN