Bab 4. Lelaki Tak Dikenal

1131 Kata
Tatapan mata Mario menjadi waspada, lelaki tersebut tahu dengan jelas seperti apa Amanda. Sosok yang begitu cinta dengan uang. Cincin berlian yang terpampang jelas di depan mata, sungguh tidak ingin Mario lihat Amanda mengambilnya. "Hentikan!" Terpaksa Mario mengeluarkan seluruh tenaga untuk terlepas dari belenggu. Mario terburu mengamankan Amanda dari pandangan Alan, tentu saja Alan nampak tak senang. "Apa yang sedang kamu lakukan!" tegur Alan kesal. "Ada banyak wanita yang mengagumi Anda, silakan lamar mereka saja," ujar Mario. Lekas Mario menarik Amanda dengan langkah kaki berlari, supaya Alan tak mengejar. Beruntungnya Amanda mau diajak kerja sama, ikut berlari dan memasuki mobil dengan mudah. "Siapa dia? Apa Bapak mengenalnya?" selidik Amanda. Sorot mata Mario hanya fokus keluar dari area parkir kantor polisi, begitu yakin tak ada yang mengikuti di belakang, Mario mulai memandang pada Amanda. "Dia Alan, lelaki paling b******k di muka bumi ini. Wanita mana yang belum pernah dia jajah? Hampir separuh kota." Menjelekkan Alan dengan nada menggebu mengundang rasa tertarik dari Amanda. "Bukankah semua kalangan atas seperti itu?" "Aku pengecualian," sahut Mario cepat. Kepala Amanda mengangguk setuju, sejauh ini ia tak pernah mendapat kabar keburukan Mario soal wanita. Ekspresi Mario nampak kompleks, tidak ingin lelaki mana pun memberikan Amanda status. Namun, Mario sendiri tak mampu menentang keluarga hanya untuk Amanda seorang. Amanda memandang jalanan, lantas jemarinya menunjuk sisi jalan amat asal. "Turunkan saya di depan sana saja, Pak." Sebelum Mario bertanya, ia menjelaskan. "Saya mau pulang, bukankah Natasya akan marah melihat Bapak dengan saya?" Mulut Mario mengunci. Menggagalkan rencana makan bersama, justru pergi bersama Amanda jelas Natasya bakal marah dan mencari perhitungan. "Baiklah." Terpaksa Mario menyetujui. *** Amanda tak benar-benar pulang ke rumah, ia memilih mendatangi Vanesa, sahabatnya. Tujuannya sederhana, mengambil pakaian dan tas untuk bekerja besok. Sejujurnya Amanda tidaklah kekurangan pakaian bermerk, Mario kerap membelikan tanpa sepengetahuan siapa pun dan tempat penitipan adalah rumah Vanesa. "Rupanya jangan pernah remehkan kekuatan mantan," Vanesa menyinggung. Selagi menyeduh secangkir latte kemasan, bibir Amanda mengulas senyum. "Kalau dia hanya karyawan biasa, mustahil mampu menyingkirkan puluhan pelamar." Kepala Vanesa mengangguk setuju. Selesai dengan minumannya, Amanda memberikan pada Vanesa yang bergegas mencicipi. "Aku rasa Zayyan masih ada sisa rasa padamu, Amanda," ujar Vanesa penuh percaya diri. Jemari Amanda meraih secangkir latte lagi, namun tak segera meminumnya. Menatap permukaan yang begitu tenang tanpa sedikit pun menodai cangkir. "Sisa rasa itu, aku harap tidak membuatnya berpaling padaku dengan cepat." "Kenapa? Bukankah tujuanmu adalah merebut Zayyan dari adikmu itu?" Ekspresi Vanesa begitu serius. Amanda mengulas senyum. "Selain merebut, tujuan akhir adalah menyakiti." Langkah kaki Amanda mendekati Vanesa yang menghuni kursi bar di dapur. "Merebut secara instan, sungguh tidak menarik." Sesapan pertama pada latte miliknya, Amanda menambahkan senyuman sinis di sana. Hiburan paling sempurna adalah melihat adiknya kehilangan segalanya. "Ngomong-ngomong, aku baru saja dilamar." Pengucapan Amanda yang begitu tiba-tiba ini berhasil membuat Vanesa hampir menyemburkan latte di dalam mulut. Amanda segera mengambilkan tisu untuk sahabatnya ini. "Pelan-pelan." "Kamu dilamar!" Suara Vanesa yang kaget sungguh lantang. "Sama Mario?" "Lelaki tidak dikenal," sahut Amanda sembari mengingat. "Hah?" Vanesa yang terlihat bingung sungguh hal wajar, bagi Amanda pun lamaran dari lelaki tak dikenal sungguh jarang terjadi. "Terus kamu terima?" Nada Vanesa sangatlah penasaran. Mata Amanda mendelik. "Orang normal mana yang nikah dengan pria asing?" "Iya juga sih." Pada akhirnya, tanpa Amanda jawab sekalipun. Vanesa mengerti, terbukti dari kepala yang mengangguk itu. "Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?" Amanda tak segera menjawab, ia memilih menyesap latte dingin dengan bibir mengulas senyum. *** Hari pertama Amanda memulai karirnya sebagai sekretaris baru Zayyan. Tubuh yang semula duduk, terburu Amanda bangun begitu mendapati Zayyan berjalan mendekat bersama Warman. "Selamat pagi, Pak Zayyan." Selagi menyapa, Amanda memberikan cup kopi. Pandangan Zayyan tertuju pada jemari Amanda, rasa ingin menyentuh begitu kuat. Namun, Zayyan memilih bersikap profesional di lingkungan kerja. "Terima kasih." Langkah kaki Zayyan yang menjauhinya, membuat Amanda melirik sejenak. Sikap Zayyan berbeda dari kemarin yang terlihat sangat antusias padanya. Sayangnya, trik Amanda memanglah tarik ulur. Tak mungkin mendorong diri untuk lebih dekat, itu hanya membuat lawan merasa muak. Mendadak langkah kaki Zayyan terhenti. "Jika membawa kamu ke bar, apakah kamu keberatan, Amanda?" Wajah Amanda terlihat meragu, begitu mata Warman memberi isyarat untuk menyetujui. Barulah Amanda memberikan jawaban. "Tentu tidak, Pak." "Bagus. Siang nanti ikut denganku menemui kerabat." Zayyan memasuki ruang kerja dengan meninggalkan Amanda yang mengerutkan dahi. Siang-siang bukannya bekerja malah bersenang-senang di bar. "Apa Bapak berniat menjebak Amanda? Nostalgia dengannya di ranjang setelah mabuk," singgung Warman. Zayyan berdecak kesal. "Amanda bukan wanita seperti itu." "Terus kenapa Bapak membawanya ke sana?" "Si cecunguk itu, aku terpaksa menemuinya," ujar Zayyan kesal sekaligus dengan ekspresi pasrah. Warman menggelengkan kepala, Zayyan bukanlah lelaki baik-baik. Kerap celup sana-sini, bahkan banyak sekali video kemesraan bersama tunangan Mario, yakni Natasya. "Lain kali, kalau main Bapak harus berhati-hati. Supaya beliau tidak mengancam lagi." Perselingkuhan Zayyan dan Natasya yang terkuak, bisa menimbulkan keretakan pada hubungan kerja sama antara keluarga Mario dan keluarga sendiri. Siang dengan mentari terik itu, Amanda benar-benar menemani Zayyan ke bar. Osmosis Bar, tempat Amanda masuk dan langsung disambut aroma alkohol. "Kalau tidak tahan, kamu boleh menunggu di luar." Amanda penasaran siapa yang atasannya ini temui. Apakah itu Natasya? Amanda mungkin bisa sedikit memberikan wanita itu amarah jika benar. "Terpisah dengan Bapak bukanlah pilihan yang bijak," tolaknya. Zayyan mengangguk saja, meski sedikit tak senang dengan panggilan Amanda di luar lingkungan kerja. "Alan, kenapa memanggilku lagi? Padahal masalah yang lalu sudah aku selesaikan," Nada suara Zayyan nampak kesal padahal baru juga buka pintu. Namun, nama yang disebut itu membuat Amanda membeku sejenak. Alan, lelaki yang pernah melamarnya dan kerabat Zayyan ini rupanya pria yang sama. Tubuh Alan menyadar pada sofa dengan bibir tersenyum dan mata memandang tertarik padanya. "Kita bertemu kembali, Amanda," sapa lelaki tersebut. Zayyan menoleh dengan terkejut. "Kamu mengenalnya, Manda?" Amanda mengulas senyum dan menggeleng cepat. "Tidak." Alan mengerutkan dahi, mendengar Zayyan memanggil begitu akrab. Padahal dari yang di ketahui, Amanda baru saja masuk kerja sebagai sekretaris. "Bagaimana bisa kamu bekerja untuk lelaki yang suka--" Zayyan panik dan segera berlari hanya untuk membungkam mulut Alan. Lelaki tersebut takut Amanda tahu keburukan sendiri soal wanita. Bahkan Zayyan tak peduli dengan mata Alan yang melotot tak terima. "Kamu kalau mau bicara denganku, lebih baik empat mata saja," pinta Zayyan cepat. "Lepas!" Melihat Alan yang marah, Zayyan Terburu melepaskan. Sementara Alan yang melihat Amanda memperhatikan buket mawar di atas meja langsung menawarkan. "Bunga gratis dari pihak bar." Zayyan nampak heran, merasa sepanjang bar tersebut beroperasi tak pernah ada kebijakan memberikan bunga gratis. "Terima saja dan tunggu di luar!" perintah Zayyan. Lebih baik Amanda menyetujui, ketimbang berhadapan dengan Alan yang tersenyum sedari tadi. "Baik, Pak." Jemari Amanda mengambil buket bunga dan beranjak pergi. Namun, Alan dengan bangga mengakui bunga tersebut. "Perlu kamu tahu Amanda, bunga itu dariku." Tepat di depan pintu, Amanda memandang pada Alan dengan tangan langsung menjatuhkan buket ke arah tempat sampah yang disediakan. "Hei!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN