Bab 7. Meninggalkan Keluarga Toxic

1012 Kata
Haris menyentuh dagu, nampak memikirkan permintaan dari sang putri sulung. Melihat ayah yang seperti tidak rela membuat Natasya angkat bicara. "Melarang Amanda sama saja menyinggung perasaan bosnya, Pa." Mata Haris langsung memandang pada Natasya yang sangat gembira ini. Padahal Amanda pindah saja belum. "Fasilitas yang diberikan, tentu harus digunakan sebaik-baiknya," lanjut Natasya. Natasya memandang padanya sembari tersenyum. "Bukankah begitu, Amanda?" Bibirnya ikut mengulas senyum, meski dalam hati menertawai. Mungkin Natasya masih bisa senang karena berhasil mengusirnya dari rumah. Setelah tahu kebenarannya, dipastikan rasa senang itu lenyap. "Tentu saja." Hari langka menurut Haris, kedua putri memiliki pendapat yang sama. "Baiklah, besok ayah akan kirim orang untuk membawakan barangmu." "Tidak perlu, Yah." Amanda menolak niat baik ayahnya. "Aku sudah menyuruh orang." Jemari Mario saling mengepal, tak dipungkiri Amanda sedari lama ingin keluar dari kediaman ini. Hanya saja, tak menyangka harus Zayyan yang bisa menjauhkan Amanda dari keluarganya. "Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu Ayah lagi." Selesai dengan urusannya, Amanda langsung pamit pergi. Mata Mario memandang Amanda yang sudah menutup pintu ruangan lagi. Langkah kaki bahkan sudah tak lagi didengar. Mario memejamkan mata dengan emosi. Ada ribuan kata yang ingin ditanyakan, namun tak satupun bisa lelaki tersebut keluarkan. Natasya nampak memasuki kamar sang ibu setelah kepulangan Mario. Bibir mengulas senyum dengan sangat ceria, sampai membuat Karina yang semula sibuk bermain ponsel langsung melirik. "Lihatlah, putri mama yang sebentar lagi akan menikah, sampai kelihatan senang begini." Begitu Karina menyinggung pernikahan, Natasya menduduki sofa dengan santai. Mario hanya lelaki yang disukai ketika sedang tidak bersama Zayyan. "Andai saja Mama ikut mendengar, pasti Mama juga akan senang." Karina nampak tertarik. "Oh ya? Berapa mahar yang diberikan Mario?" Natasya berdecak. "Bukan soal Mario." Dahi sang ibu mengerut karena rupanya hal yang disenangi oleh Natasya bukanlah soal Mario atau pernikahan. "Si Amanda. Mulai besok dia tidak lagi tinggal di rumah ini. Huh, akhirnya wanita sialan itu pergi juga." Ekspresi Karina justru kelihatan tidak senang sama sekali. Malah sekarang menonyor dahi Natasya yang membuat sang putri merasa tidak terima. "Kenapa Mama menonyor dahiku?" "Sebenarnya kamu ini bodoh atau polos, sih!" Sembari mengusap dahi, Natasya memandang tak setuju pada Karina. "Dengan pindahnya Amanda dari rumah ini, maka dia lebih leluasa menggoda Mario. Kamu mau Mario direbut olehnya, hah?" "Tidak mungkin, kan?" Karina langsung menghela napas dengan sangat kesal, memiliki putri yang tidak mewarisi kelicikan diri sendiri. Malah mengikuti Haris yang lemah dan bodoh itu. "Pindah ke mana dia? Lalu dapat uang dari mana?" selidik Karina. Jika itu hanya rumah kontrakan, maka Karina percaya Amanda bisa melakukannya. "Katanya sih apartemen," sahut Natasya berusaha mengingat. Tangan Karina langsung menunjuk dengan ekspresi wajah menuduh. "Pasti Mario yang menyewa apartemen untuknya. Sudah mama duga!" "Aih, bukan Mario. Atasannya yang memberikan apartemen." Dahi Karina mengerut, heran dengan ucapan dari Natasya. "Mustahil. Sanata grup tidak pernah memperlakukan karyawannya dengan royal." "Hah? Sanata grup?" *** Mengingat Zayyan yang memiliki sekretaris baru, lalu Amanda mendapatkan jabatan itu. Natasya langsung datang ke perusahaan Sanata, tentunya untuk mencari tahu sekaligus memberi pelajaran jika Amanda memiliki hubungan dengan Zayyan. "Berhenti!" Namun, belum juga Natasya membuka pintu gedung. Bagian keamanan yang berjaga langsung mencegah. Wajah Natasya yang asing jelas bukan klien maupun karyawan. "Ada keperluan apa datang ke sini?" Natasya menunjukkan raut angkuh. "Aku orang penting di sini, jadi menyingkir sekarang juga!" "Tidak bisa! Kamu harus jawab dulu ada kepentingan apa dan ingin menemui siapa." Pihak keamanan yang bertambah satu membuat Natasya semakin merasa kesal. Namun, tidak bisa mengakui kalau datang sebagai kekasih dari Zayyan. "Aku di depan kantormu, turun sekarang dan temui aku!" Jemari Natasya menunjuk kedua lelaki tersebut dengan sengit, lantas memilih undur diri dan menunggu di dalam mobil. Bisa jadi masalah jika ada orang dari keluarga Mario yang melihat. Bagaimana pun, perusahaan Yoo dan Sanata saling terhubung. Terlihat Zayyan keluar dari gedung perusahaan dengan napas tersengal. Merasa kesal juga karena Natasya datang tanpa memberi kabar. "Kamu mau merusak hubungan perusahaan ini dengan tunanganmu itu, hah!" Datang-datang Zayyan langsung sewot. Natasya memandang tak percaya pada Zayyan yang baru saja masuk ke dalam mobil. "Suruh siapa kamu tidak mengangkat telepon? Bahkan menolak menemui aku hari ini!" Natasya tak kalah sewot. Zayyan berdecak kesal. "Aku sibuk!" "Kamu beli apartemen, apakah itu untuk sekretaris barumu itu?" Mulut Zayyan sempat membisu. Sedikit tidak menyangka dan bertanya-tanya, dari mana Natasya mengetahui hal itu. "Ada hubungan apa kamu dengannya?" Nada Natasya menyelidik. "Tentu saja sekretaris dan bawahan, bisa ada hubungan apa lagi?" Natasya mendengkus. "Terus kenapa kamu belikan apartemen, hah!" Zayyan mengangkat bahu. "Aku tidak merasa membelikan. Tempat itu dahulunya milik Warman, sekarang dia bukan lagi sekretarisku." "Jadi, wajar kalau dia tinggal di sana, kan?" Natasya menatap tak percaya. "Sungguh?" Kepala Zayyan mengangguk meyakinkan. Natasya langsung menarik napas lega, lantas menertawai Amanda yang rupanya hanya besar kepala. Merasa semua lelaki tertarik, padahal kenyataannya tidak begitu. Zayyan tersenyum sinis, menganggap Natasya terlalu bodoh karena mudah dikelabui. Zayyan tentunya tidak ingin wanita ini mengusik Amanda. *** Selepas pulang kerja, Amanda tidak langsung ke rumah. Ia yang dijemput oleh Mario kini berada di jalanan, entah ingin pergi ke mana. Sebab, arah jalan Mario tak bisa ditebak. "Kamu ada hubungan dengan Zayyan?" Mario langsung mengintrogasi. "Tidak, kenapa Bapak menanyakannya?" Mario memilih menepi di sisi jalan, emosi terlalu menguasai dan takut menyebabkan kecelakaan. Amanda sendiri memilih terdiam, melihat Mario yang memukul setir dengan helaan napas kasar. "Kalau tidak ada hubungan, kenapa kamu menerima apartemen darinya dan setuju menempati?" "Bukankah Bapak sudah tahu? Saya sangat ingin pergi dari rumah." Mario mendengkus kesal, kali pertama hilang kendali di hadapan wanita. "Kenapa kamu tidak meminta saja padaku! Kenapa harus dia orangnya? Dia yang membawa kamu pergi?" Jemari Amanda saling meremas. "Bapak tunangan Natasya, adik ipar saya sendiri. Bukankah hal itu tidak pantas dilakukan?" Mario memandang Amanda yang sedikit canggung ini. Biasanya Amanda selalu tersenyum, tapi semenjak bekerja di Sanata, Amanda jadi menjaga jarak. "Kalau aku bukan tunangan Natasya, apakah kamu akan mempertimbangkan aku?" "Ya?" "Aku menyukai kamu, Amanda." Jemari Mario hendak meraih tangannya, namun Amanda segera menarik diri membuat Mario menarik napas. Lantas memilih mengemudi lagi dengan sedikit ugal-ugalan. Amanda sampai kaget dengan kendaraan di sekitar yang disalip. "Pak! Bapak mau ke mana, sih?" "Melamar kamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN