Chapter 1: Hari-Hari di Pesantren

1062 Kata
Jam baru menunjukkan pukul 4.30 pagi. Udara dingin di Desa Cisarua mulai merasuk ke sela-sela jendela asrama pesantren. Dari arah masjid, suara adzan subuh terdengar jelas, membangunkan semua santri dari mimpi indah masing-masing. Suara pintu yang berderit, langkah kaki yang berat, dan dengkuran yang mulai terhenti begitulah suasana pagi di Pondok Pesantren Darussalam Al-Muttaqin. Adam, santri senior yang selalu jadi andalan karena kepribadiannya yang tenang dan kalem, sudah terbangun bahkan sebelum adzan berkumandang. Cowok ini benar-benar beda dari kebanyakan santri lainnya. Dengan postur tinggi kayak atlet, kulit putih bersih, dan senyum yang selalu ramah, Adam sering dijadikan bahan omongan, bukan cuma di kalangan santri cowok, tapi juga para santri cewek. Tapi dia enggak peduli, yang penting baginya adalah disiplin, adab, dan menjaga akhlak yang udah dia tanam sejak kecil. “Bangun, bro!” Adam menepuk-nepuk bahu Zainal, teman sekamarnya yang masih meringkuk di bawah selimut. Zainal, yang entah kenapa selalu susah bangun pagi, menggeliat sambil menggerutu. “Lima menit lagi, Dam... lima menit doang,” keluh Zainal sambil menarik selimutnya lebih erat. Adam cuma bisa geleng-geleng kepala. “Gue kasih tau Ustadz baru tahu rasa lo,” katanya dengan nada bercanda. Zainal langsung bangun dengan ekspresi kaget, seperti baru tersadar kalau dunia ini masih berputar. Setelah semuanya siap, Adam melangkah keluar asrama, jalan dengan santai menuju masjid. Dia tahu, sebagai santri senior, dia selalu jadi contoh. Pakaian gamis putih yang dipakainya tampak rapi, tanpa ada kerutan. Enggak ada kesan buru-buru, padahal jam udah hampir menunjukkan waktu iqamat. Sesampainya di masjid, Adam duduk di saf depan. Suasana di masjid masih hening, hanya ada beberapa santri yang sudah datang lebih dulu. Adam mengambil wudhu dengan tenang, lalu duduk kembali, menundukkan kepala. Dalam pikirannya, dia selalu berusaha memperbaiki niatnya semua ini, semua perjuangannya, bukan buat dilihat orang, tapi buat Allah. Tapi pagi ini, pikirannya sedikit terpecah. Di antara santri yang bergegas masuk masjid, ada sosok yang menarik perhatiannya Hilwa, santri cewek yang masih adik kelas, yang umurnya beda dua tahun lebih muda. Hilwa ini tipe cewek yang selalu tenang, pemalu, tapi rajin. Wajahnya manis, meski selalu terlihat malu-malu kalau ketemu cowok. Dan ya, tanpa Adam sadari, Hilwa sering memperhatikannya, meskipun selalu dari jauh. Adam tersenyum tipis, tapi segera menundukkan kepala lagi. Dia tahu, perasaan seperti itu enggak boleh sampai kebawa terlalu jauh. “Ini tempat ibadah, bukan tempat baper,” batinnya sambil menarik napas panjang. Di sudut yang lain, Hilwa berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Dia bergegas menuju saf perempuan, berharap enggak ada yang menyadari rona merah di wajahnya. Diam-diam, Hilwa sering memperhatikan Adam. Buat dia, Adam itu lebih dari sekadar senior keren. Sikapnya yang sopan, senyumnya yang selalu ramah, dan caranya menjaga adab, bikin Hilwa benar-benar kagum. Tapi Hilwa sadar, perasaannya ini enggak bisa diungkapkan begitu saja. Apalagi di pesantren, yang namanya menjaga jarak antara santri cowok dan cewek itu hal yang wajib. Sholat subuh selesai, dan suasana pesantren perlahan mulai hidup kembali. Para santri bubar menuju asrama masing-masing, bersiap-siap memulai hari. Tapi Adam tetap tinggal di masjid. Dia membuka mushaf Al-Qur'an, mulai membaca dengan lantunan suara yang tenang. Setiap huruf yang keluar dari bibirnya membawa kedamaian di hati siapa pun yang mendengarnya. Di seberang masjid, Hilwa kembali memperhatikan Adam dari kejauhan. Setiap kali Adam membaca Al-Qur'an, ada sesuatu yang terasa berbeda di hatinya. Bukan sekadar kagum, tapi lebih dari itu. Hilwa selalu berharap suatu hari nanti, dia bisa mengenal Adam lebih dekat. Tapi dia tahu, harapan itu hanya bisa dia simpan dalam diam. “Sampai kapan, ya, aku kayak gini?” batin Hilwa, sambil menahan senyum kecil di balik jilbabnya. Sementara itu, Adam mulai merenung. Mimpi besarnya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri semakin hari semakin kuat. Dia ingin jadi dokter, membantu orang-orang di desanya yang selama ini kesulitan akses kesehatan. Tapi ada dilema yang terus menghantui pikirannya apakah keputusannya untuk meninggalkan pesantren dan keluarganya benar? Sore itu, Adam memutuskan untuk menemui Kyai Hakim, pemimpin pesantren. Kyai Hakim adalah orang yang paling dihormati di sini, bukan cuma karena ilmunya, tapi juga karena cara beliau membimbing santri dengan penuh kasih sayang. “Assalamu’alaikum, Kyai,” sapa Adam ketika ia mengetuk pintu ruangan Kyai Hakim. “Wa’alaikumussalam. Masuklah, Adam,” jawab Kyai dengan suara lembut tapi tegas. Adam masuk ke ruangan Kyai, yang dipenuhi kitab-kitab kuno berjajar di rak kayu. Wangi khas kertas tua dan tinta memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang bikin hati adem. Adam duduk dengan tenang, sambil menundukkan pandangan, menunggu Kyai berbicara. “Ada yang ingin kamu sampaikan, Nak?” tanya Kyai, sambil menatap Adam dengan penuh perhatian. “Begini, Kyai... Saya merasa, ada yang lebih besar yang ingin saya capai. Saya ingin melanjutkan pendidikan, Kyai. Tapi bukan di sini. Saya ingin belajar kedokteran di luar negeri,” kata Adam, suaranya penuh keyakinan meski terselip sedikit kegelisahan. Kyai Hakim tersenyum kecil, seolah sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan Adam. “Mimpi yang bagus, Adam. Tapi kamu tahu, jalan itu tidak mudah. Sudahkah kamu siap dengan semua pengorbanannya? Bukan cuma waktu, tapi juga tanggung jawabmu di sini.” Adam mengangguk pelan. “Saya sudah memikirkannya, Kyai. Saya ingin membawa manfaat yang lebih besar, terutama buat desa ini. Banyak orang yang butuh pertolongan medis, dan saya ingin bisa membantu mereka dengan ilmu yang saya dapat.” Kyai mengangguk setuju. “Ilmu kedokteran memang penting, Adam. Tapi jangan pernah lupa, kemanapun kamu pergi, adab dan akhlak harus tetap jadi yang utama. Jangan sampai ilmu dunia mengalahkan nilai-nilai agama yang sudah kamu pelajari di sini.” Nasihat itu menenangkan hati Adam. Meski jalannya masih panjang, Adam merasa lebih yakin dengan keputusannya. Dia tahu, meski akan ada banyak rintangan, dia siap untuk mengejar impiannya. Di tempat lain, Bu Nyai Zahra, istri Kyai Hakim, sedang memimpin kajian untuk santri putri. Bu Nyai dikenal sebagai sosok yang tegas tapi penuh kasih. Beliau sering jadi tempat curhat bagi para santri, terutama Hilwa yang selalu merasa nyaman di dekatnya. “Bu Nyai, gimana caranya kita menjaga hati, biar enggak terlalu baper?” tanya Hilwa suatu hari, saat kajian hampir selesai. Bu Nyai tersenyum lembut. “Hati itu anugerah, Hilwa. Tapi kita harus pandai-pandai menjaganya. Kalau ada rasa yang tumbuh, tanyakan dulu, apakah rasa itu mendekatkan kita pada Allah, atau justru menjauhkan?” Kata-kata Bu Nyai langsung menusuk hati Hilwa. Meskipun tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, Hilwa tahu, perasaannya terhadap Adam harus tetap berada di jalan yang benar. Dia hanya bisa berharap, bahwa apa yang dia rasakan akan membawa kebaikan, bukan sebaliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN