19. Perjuangan

1139 Kata
Kondisi Ken sekarang terdesak karena terkena serangan dan malah tidak bisa membangkitkan tubuh, di atas sana ia melihat Siera yang membelalak karena menyaksikan sang Sahabat terluka parah. Semua ini karenanya, ia yang menjadikan Ken sedemikian rupa. Memikirkan hal itu, membuatnya merasa teramat sesak, ular-ular hitam semakin kuat mencengkeram tubuhnya. Melihat kondisi ini, Takao pun berteriak agar Siera tidak mudah untuk dipengaruhi, Ken terluka karena mereka yang kurang waspada, tidak ada hubungannya dengan Siera. Ia membantu Ken untuk menegakkan tubuh, darah yang keluar semakin banyak dan melihat hal itu, Takao pun merobek pakaiannya dan membalut perut Ken. Tatapan biru itu mengarah kepada Siera, sang Gadis menangis dan meminta maaf atas apa yang terjadi kepada mereka. Menggelengkan kepala, Ken tersenyum dan mengatakan kalau mereka akan terus berjuang menyelamatkan Siera. “Jangan bersedih, kita akan segera pulang, Siera.” Takao menginterupsi, membuat Siera terlihat lebih tenang dan menganggukkan kepala karena percaya kepada sang Pemuda. Mereka berdiri berdampingnya. Rantai dan pedang dikeluarkan, yang pertama harus mereka lakukan adalah memperbaiki segel dari Kokoro no Yami, yaitu dengan membebaskan Siera dan menjauhkan gadis itu dari pengaruh Iblis Yamata no Ryu. Berkonsentrasi untuk menyetabilkan kekuatan spiritual, Ken dan Takao pun mulai menggunakan kekuatan untuk menghancurkan ular hitam yang membelenggu tubuh Siera. Walau Takao merasakan sesak sesekali, tetapi sekarang tekatnya lebih kuat daripada rasa sakit yang mendera. Ia menggenggam pedang yang adalah darahnya, dan mengacungkannya ke arah ular hitam. Rantai-rantai perak digunakan untuk menarik tubuh Siera, tetapi hal itu tidak semudah yang mereka pikirkan, bahka setelah serangan pedang Takao menghantam ular hitam, makhluk itu terlalu cepat untuk beregenerasi, dan menjadi lebih kuat dari setiap serangan yang terjadi. Mulut dari makhluk itu mengeluarkan api, menyemburkan kepada mereka, seketika Takao menggunakan pedangnya sebagai tameng pelindung, air merah yang menggenangi tempat ini mendidih, tetapi anehnya tidak melukai mereka. Napasnya terengah-engah, menatap retakan yang ditahan kekuatan penghalangnya kian mengeluarkan aura menyesakkan, sehingga membuat ular hitam yang mengelilingi Siera pun semakin membesar, auman mengerikan mengetarkan seisi gua, sisik-sisik melebar berkilat nyala ungu membara. Tanduk di kepala tumbuh, taring memanjang, begitu pula dengan tubuh yang memisahkan diri. Sekarang, menjelai seekor naga dengan empat kaki bercakar dan dikelilingi nyala api. Dengusan terdengar, asap kelam menyebar di sekeliling makhluk itu, membuat batu-batu meleleh, tatapan kedua pemuda terbelalak. Berpikir bagaimana caranya agar bisa membinasakan iblis? Menatap Ken, ia pun menganggukkan kepala. Di dalam batin menjelaskan tentang rencana lelaki bermarga Aoryu itu. Mencengkeram gagang pedang, dan melebarkan kuda-kuda, Takao pun berteriak nyalang. Ken meneluarkan rantai-rantai perak dari telapak tangannya, mengarah kepada sang iblis, membelokkan rantai dengan kedua tangan yang diayunkan, sehingga benda perak itu mengikat tubuh ular raksasa. Rantai melebur, ketika menyentuh asap hitam di sekitar tubuh. Terengah-engah, mereka mengerutkan alis, mengupat di dalam batin. “Tidak berhasil!” “Kalau begitu ….” Sang pemuda Aoryu mendekat, pedang dari darahnya pun diayunkan, sehingga kekuatannya bisa mengenai sang Iblis. Namun, tubuh Siera bisa saja cedera. Ken, sekali lagi, serang dengan rantaimu! Aku akan membuat penghalang agar asap hitam itu tidak meleburkan rantaimu. Mata merah Takao bersinar, pedangnya ia ayunkan hingga menggeluarkan lingkaran bersimbol bintang segi enam, merah menyala seperti matanya. Menghadang asap hitam, Takao pun berlari mengikuti, semenatap Ken bersiap-siap di belakangnya. Sang Iblis harus dimusnahkan dari jarak dekat, sedikit saja maka semuanya akan lebih bisa ia kendalikan. Ia berteriak, mengumpulkan energi dan dengan sekali hentakan tangan, kekuatan pedang dari Segel Darah pun terpusat ke makhluk berbentuk ular tersebut. Napasnya terngah-engah, terbelalak karena makhluk di hadapannya dapat menghindar dari serangan Takao. Cepat dan mengerikan. Makhluk itu membuka mulut dan memburkan cairan hitam yang untungnya dapat ditangkis oleh pedang sang Bungsu Aoryu. Matanya menatap asap hitam yang semakin mendekati tubuh, mengeraskan rahang, kedua tangan Takao pun menggenggam pedangnya semakin erat. Tubuhnya dipenuhi aura merah, membuat asap hitam menghilang. Sementara itu Ken berlari, mengikuti mendapati sebuah batu cukup tinggi dan ia pun mulai melangkahkan kaki, menaiki dan kemudian melompat. Kedua tangannya diayunkan, sontak rantai perak keluar dari dua telapak tangannya. Ken tidak peduli lagi, jika tubuhnya akan jatuh dan terkena asap kelam yang bisa merontokkan apa pun karena sekarang yang ada di dalam pikirannya adalah cara untuk menyelamatkan Siera. Berteriak, ia tercekat karena menyaksikan rantai-rantai perak yang berada di genggaman tangannya tidak melebur saat menyentuh asap kelam. Bercahaya teramat terang, dan menembus tubuh makhluk raksasa menyerupai ular. Auman memekkan telinga, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, maka Takao langsung menggerakkan tangannya, pedang diayunkan dan terhempaslah kekuatan yang akan memusnahkan iblis di hadapan mereka. Lenyap sudah, seperti terhisap ke dalam lubang hitam. Asap kelam perhalan memudar, mereka menyaksikan Siera yang tidak sadarkan diri, Ken pun bertindak, melemparkannya ke arah kepala ular yang membelit hingga gadis itu bisa terlepaskan. Siera terjatuh dan ditangkap oleh Takao, lelaki itu lalu berjongkok dan menggenakan lutut untuk menyangga tubuh sang Gadis. Sementara Takao berurusan dengan Siera, maka Ken mulai aksinya untuk memulihkan segel yang mengurung Yamata no Ryu. Iblis sialan itu sebelumnya berhasil mengelabui dirinya, membuatnya menjadi bingung di mana Siera yang asli. Namun, dengan bantuan Takao, yang perasaannya telah terhubung dengan Siera, hingga akhirnya Ken pun bisa tersadarkan. Menarik napas, Ken pun duduk bersila, menaruh kedua telapak tangan dan memejamkan mata untuk memperbaiki energi spiritualnya yang sejak tadi meletup-letup karena ingin menyelamatkan Siera. Dalam hal ini, ia harus tenang dan tidak boleh gegabah. Menghirup napas dan mengeluarkannya, berulang dan akhirnya ia membuka kelopak mata yang sekarang berubah menjadi kuning terang bak amber yang bersinar. Di wajahnya terlihat sulur aneh, seperti tato dari dari dan menyebar ke seluruh tubuh. Ia membukan kedua telapak, dan menyaksikan di masing-masingnya terdapat huruf kuno yang tidak bisa ia baca, membiarkan huruf-huruf itu bergerak dan membentuk lingkaran untuk mengelilinginya, ia sudah dilatih untuk melakukan ini. Ketika semuanya persiapan telah dilakukan, maka kedua tangannya diarahkan kepada kekkai yang membelenggu sang Iblis. Penghalang berbentuk kristal hijau bersinar itu seketika berubah menjadi kumpulan huruf-huruf kuno yang ditengh-tengahnya ada lingkaran yang didalamnya ada api hijau membara. Ken pun berdiri, dan meletakkan masing-masing tangannya di sana. Bibir laki-laki itu melafalkan mantra, terlihat huruf-huruf yang awalnya telah memudar menjadi tebal kembali, kristal hijau menjadi menebal, dan sekarang ketika Ken telah selesai membaca mantra, seluruh permukaan dari segel yang membelenggu iblis dipenuhi api hijau yang membara. Bersama dengan huruf-huruf yang mengunci pergerakan si Iblis. Mengikat kedua tangan dan kaki, serta leher dan nyaris seluruh tubuh. Ken menghela napasnya, menatap Siera dan Takao yang tersenyum. Laki-laki itu lalu menampakkan gigi, dan berlari mendekat kepada teman-temannya. Ia melihat Siera meneteskan air mata dan berucap terimakasih. Auranya terasa hangat, Takao bisa merasakan hal itu. “Terimakasih banyak, Ken, Takao.” Gadis itu merasakan hatinya bergetar karena melihat perjuangan kedua teman-temannya, kali ini ia mendatangi Ken yang baginya sudah seperti saudara. Kemudian, Ia menatap Takao tersenyum kepadanya dan mendekat dan memeluknya. “Aku tahu kau menyebalkan, Ta-chan. Namun, aku benar-benar berterima kasih.” Mereka melepaskan pelukan dan sama-sama tertawa, menatap satu sama lain, mereka pun berkata harus bisa kembali ke tempat semestinya. Dan tiba-tiba Siera kebingungan, ia tidak mengetahui bagaimana cara untuk bisa kembali. . . . Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN