16. Kami Bersamamu, Siera

2734 Kata
Menguatkan Siera bukanlah perkara mudah, gadis itu tak terlalu terbiasa mendengarkan nasihat orang lain selain keluarganya, jadi di sini hanya Hoshi yang bisa melakukan sesuatu untuk menguatkan diri Siera. Namun, hal itu pun tak terlalu berlaku karena adiknya pasti teramat kecewa kepada Hoshi. Sanosuke bahkan tak dihiraukan, dan kesedihan ini bisa membuat adiknya mengalami masalah. Ia hanya bersyukur Siera tak menaruh benci kepadanya, jika hal itu terjadi, maka Siera akan dikuasai sekali lagi dan tidahlah mudah untuk mengembalikan Siera dari pengaruh iblis. Aura iblis yang sering keluar ketika Siera marah dan sedih atau berbagai emosi lainnya, cukup buruk bagi Siera. Sekarang saja, rumah ini sudah dikelilingi oleh makhluk dari dunia lain, apalagi melihat wajah Karura yang sudah begitu awas. Dalam perdebatan batin, tiba-tiba saja Takao mendekat dan menarik tangan Siera sehingga gadis itu lantas berdiri, mereka saling menatap satu sama lain. Terlihat keterkejutan menghujani wajah beberapa orang yang ada di dalam bungalo ini, Hoshi pun bereksperesi sedemikian. Tanpa penjelasan, Takao langsung menarik bungsu Harata dan membawanya ke luar bungalo, tidak mengacuhkan penolakan Siera dan tidak memedulikan pukulan yang diberikan gadis itu berulang kali di lengannya. Teriakan itu terhenti ketika Siera telah berada di teras, di sana ada Aoda dan Ken yang terlihat gusar, bahkan untuk sekarang ini si pemuda bertampang Eropa terengah-engah entah karena apa. Genggaman Takao dilepas, Siera menatap bingung orang-orang yang berada di dekatnya. “Kau mungkin tak bisa merasakan apa yang terjadi sekarang ini, Siera. Namun, lain halnya dengan Ken, dia teramat peka dengan perbenturan energi.” Mengernyit bingung, bibir Seira masih terkatup rapat, kemudian terbuka walau tak mengeluarkan satu kata pun dari sana. Ia malah melangkah mendekati Ken yang memegangi tiang teras, napasnya satu-satu dan tidak dalam kondisi fikik yang baik. “Kenapa, Ken? Apa yang terjadi?” Meringis, Ken pun membalikkan wajah, ia sedang setengah membungkuk karena merasa mual diperut akibat perbenturan energi, dari belakang Siera datang dan mengelus punggungnya. “Aku harus membiasakan ini, tidak apa, Siera.” Tidak terlalu paham, ia pun mengernyitkan alisnya. Dari arah samping, Takao menimpali ucapan Ken. “Ia seperti itu karena Ken adalah seorang indigo, maksudku seseorang yang memiliki indra keenam memang sangat sensitif dengan perubahan energi, jika perbenturan terjadi mereka pun akan mengalami dampaknya. Dan jika kau tak bisa mengendalikan situasi hatimu, Siera, maka Ken akan terus seperti ini.” Gadis itu tercengang, terlihat tak percaya karena keadaan Ken berakibat dari dirinya yang tak bisa mengendalikan suasana hati. Jadi, memang benar ada iblis pada tubuhnya, jika Ken adalah orang spesial yang bisa merasakan kekuatan spiritual, maka selama ini Ken pun merasakan hal yang sama kepadanya. Selama ini Ken bertahan walau berada di dekatnya pasti amat menyiksa seperti sekarang. Air mata Siera menetes kembali, Ken tidak pernah pilih-pilih dalam berteman dan hal itu pun dilakukan kepada dirinya, meski ia memiliki tekanan aura yang kelam karena pengaruh iblis. Mengembuskan napas, ia pun mencoba mengendalikan suasan diri. “Aku benar-benar minta maaf, Ken,” ucapnya parau, sementara itu sang Pemuda menarik napas dan mengembuskan secara perlahan, mengangkat kepala dan tersenyum kepada Siera. “Tidak, ini tak masalah, Siera. Jangan bersedih. Mungkin aku belum bisa banyak membantu, tetapi aku berjanji akan segera menguasai teknik untuk menyegel iblis yang ada di dalam tubuhmu.” Bibir Ken tersenyum, memberikan semangat ketika gadis itu kembali menundukkan wajah dan menganggukkan kepala. Berada di sebelahnya, Takao terlihat mengembangkan senyum kecil di bibir, setidaknya mereka tidak perlu waspada karena Siera yang kehilangan kendali, sebab mengetahui bahwa ada iblis di dalam tubuh gadis itu. Sekarang mereka hanya perlu melakukan sesuatu untuk mengusir iblis kelas rendah yang mengelilingi pekarangan. Walau aura Siera telah lebih tenang, tetapi iblis itu tidak juga mau pergi. Mengetahui bahwa semangat Siera telah kembali, Karura pun melakukan sesuatu, mengeluarkan energi spiritual suci yang berasal dari ras campuran malaikat untuk menghalau energi jahat iblis. Ken yang menyaksikan dibuat meringis karena melihat dengan mata spesialnya makhluk astral itu telah melarikan diri ketika Karura mengeluarkan sayap. Hoshi kini telah merasakan ketenangan Siera, gadis itu memang sudah berkelakuan lebih baik semenjak mengenal Takao dan Ken, tetapi rasanya entah kenapa ia merindukan sifat-sifat nakal dan keras kepala adik bungsunnya walau tentu membuatnya pusing. Yang harus mereka lakukan setelah memberi tahu kebenaran ini adalah melatih lagi Ken dan Takao hingga sempurna menguasai kekuatan supernatural klan. Mereka berdualah yang akan melakukan andil, dirinya dan yang lain pun akan ikut serta nanti. Sepertinya sudah tidak ada waktu lagi, tidak sempat jika harus melatih Takao dan Ken setiap minggu setelah meninggalkan tempat ini, Hoshi berpendapat mereka harus segera memperbarui segel Siera secepatnya. Jika Takao dan Ken telah siap, maka mereka harus segera melakukan tugas ini. * Setelah memberitahu Siera mengenai jati diri dan kutukan Klan Harata yang telah ada sekitar lima belas abad lamanya, kini giliran Takao dan Ken dilatih ektra seperti penjelasan Hoshi. Sebelum ini mereka berdua memang sudah lumayan menguasai kekuatan supernatural, tetapi masih belum cukup untuk bisa memperbaiki segel dari Kokoro no Yami. Untuk itu, para orang dewasa pun melatih meraka dengan ketat. Waktu yang mereka punya hanya sekita empat hari, jadi Takao dan Ken harus bisa melakukannya sebelum mereka kembali ke kota Tokyo. Jika masih belum bisa, terpaksa liburan mereka akan ditambah, dan hal ini langsung saja membuat Siera berang bukan main. Gadis itu ingin memperotes, tetapi kemudian mengingat bahwa yang dilakukan Hoshi dan teman-temannya adalah untuk kebaikan Siera juga. Tatapan mata si gadis kini terfokus kepada laki-laki yang sedang bersama Aoda, tidak terlalu jelas mereka melakukan apa, tetapi ia sempat melihat bahwa sosok itu—Takao mengeluarkan darah dari matanya. Ia pun mendekat, tetapi sekarang pergelangan tangannya ditahan oleh Hoshi. “Mereka sedang berlatih, untuk sekarang kita sebaiknya di sini saja mengawasi, Siera.” Kakaknya itu tersenyum, dan membuat Siera mengembuskan napas dan berusaha mengerti, padahal ia cukup penasaran dengan latihan macam apa yang tengah dilakukan oleh Aoryu bersaudara, pasalanya mereka hanya saling menatap saja untuk waktu yang lama dan diselingi dengan penjelasan dari si Sulung. Ia merasakan khawatir entah karena apa, dan saat memikirkan Takao, tiba-tiba lelaki itu menatap dirinya dan mereka saling memandang satu sama lain. Siera pun melebarkan senyum untuk menyemangati. Di tempat yang lain, halaman belakang, Ken dan Karura sedang bersama, gadis berusia dua puluh lima itu terlihat serius menjelaskan beberapa hal. Tidaklah mudah untuk bisa melatih seseorang agar menguasai penuh kekuatan supernatural di klan mereka, tetapi Ken telah memahami banyak hal hanya dengan menganalisis sesuatu yang sering ia rasakan karena kemampuannya melihat hal mistis. Untuk itu, ketika Hoshi mendekat, lelaki itu lantas melakukan apa yang diajarkan menurut petunjuk dari buku yang digunakan untuk melakukan segel Yamata no Ryu. “Kau bisa lebih matang hanya dalam beberapa jam, Ken. Itu sangat luar biasa, kau memang darah murni dari Uzukiro. Klanmu sangat membantu, walau kau akhirnya kehilangan kedua orang tuamu.” Hoshi menatap sendu, meminta maaf secara tersirat kepada lelaki bertampang Eropa yang didapatkannya dari pihak nenek sang Ibu. Gelengan kepala terlihat, Ken tersenyum, dia pikir semua itu adalah masa lalu dan mereka tidak perlu menyesalinya, lagi pula dia juga mendapatkan kasih sayang yang layak dari neneknya. “Aku hanya tinggal mempelajari tentang bagaimana selayaknya memperbaiki segel Kokoro no Yami, aku akan berusaha untuk menyelamatkan Siera.” Di bagian kepala, di situlah Hoshi meletakkan telapak tangannya, ia tersenyum haru karena mendengar sekali lagi ucapan dari pemuda di hadapannya ini. “Aku berhutang budi padamu, Ken.” Esok harinya, pagi buta setelah sarapan, Ken dan Takao diajarkan bersama-sama tenang cara perbaikan segel, mereka berdua dikuliahi secara langsung oleh Hoshi dan Aoda, Karura pun melakukan hal yang sama. Dengan buku petunjuk yang digunakan terdahulu, mereka pun berlatih semakin giat. Waktu tidak terlalu banyak, jadi mereka harus bisa menguasai yang diajarkan paling lambat sampai esok hari. Nantinya, Siera akan duduk ditengah-tengah ruangan, kemudian di belakang gadis itu akan duduk Ken dan di depannya adalah Takao. Mereka akan melukis mantra kuno di lantai mengggunakan darah dari Takao, membentuk lingkaran berlapis tiga dengan binta segi enam di tengah-tengah mereka tempati. Yang lainnya akan duduk di luar lingkaran dan mengawasi, bersiap dengan kemampuan masing-masing, khususnya Karura, Aoda dan Hoshi. Menjaga agar jangan sampai Siera, Takao dan Ken terjebak di dunia mistis dan tak bisa menyelamat menyelamatkan jiwa Siera yang mulai kelam karena pengaruh iblis. “Tentu saja, seperti yang kujelaskan, risiko melakukan perbaikan segel tidak akan semengerikan ketika orang tua kita menyegel Siera karena kutukan Kokoro no Yami. Namun, tetap saja bukanlah sesuatu yang mudah untuk melakukan semua hal ini. Mencari anggota klan yang cocok saja, membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi kami, khusunya Klan Uzukiro yang sudah jarang diketahui keberadaannya karena kebanyakan berganti marga mengikuti istri atau suami yang bukan klan. “Maka dari itu, kami di sini untuk menjaga kalian agar tak terjebak di dimensi mistis dan malah terhisab oleh kekelaman jiwa sang Iblis. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan kalian jika hal itu sampai terjadi, Takao, Ken dan Siera.” Hoshi menatap tegas ketiga remaja yang akan terlibat dan Siera pun menatap kakaknya dengan sorot mata tak bisa diartikan, campur aduk antara tidak terima, sedih dan marah. “Jadi, aku mohon kalian harus sepenuh hati untuk melakukannya. Siera dan yang lainnya harus saling mempercayai dan Kakak akan melakukan apa pun untuk menanggung bebanmu, Sie.” Mendengar penjelasan Hoshi, Siera pun berdiri dan berlari untuk memeluk kakaknya, ia menangis dengan isakan kecil. Ah, Hoshi merasa benar-benar merindukan Siera yang nakal dan melakukan apa pun sesuka hati. Senyuman mengembang di wajah sulung Harata karena melihat adiknya yang mulai tumbuh dewasa. Dari arah samping, Sanosuke pun membengkokkan bibirnya, dengan segala hal yang sudah terjadi, membuat ikatan antara mereka bertiga bertambah kuat saja dan Siera pun perlahan-lahan mulai bisa menguasai kendali diri dan emosinya, biasanya gadis itu meledak-ledak dan sangat gampang kesal. * Takao berjalan pelan menuju kamar miliknya yang dihuni bersama Ken, tubuhnya letih bukan main setelah dari pagi hingga petang terus dilatih secara habis-habisan. Matanya yang kiri sampai tak bisa dibuka untuk beberapa saat karena terus mengeluarkan darah, efek dari pemakaian kekuatan supernatural yang dimiliki. Memang itulah cara menggunakan kekuatannya, bahkan Aoda saja tidak bisa terlalu lama menggunakan kekuatan supernatural yang dimiliki klan mereka. Daya tahan tubuh sulung Aoryu itu teramat lemah, hingga bisa-bisa terbunuh jika melepaskan energi spiritual terlalu lama. Ia menjatuhkan tubuh di atas kasur, menghela napas untuk beberapa saat dan memejamkan mata. Belum lima menit melakukannya, pintu kamar pun terketuk, sehingga ia hanya menyerukan agar orang yang berkunjung langsung masuk saja. Ketika melihat itu adalah Siera yang membawa baki berisikan hidangan untuk santapan malam, Takao pun melebarkan matanya. Ia berusaha untuk duduk, tetapi ternyata tubuhnya tak bisa berbuat banyak. Melihat Takao kesusahan, Siera pun menaruh baki di atas meja nakas dan membantu pemuda itu untuk duduk dan menyandar di kepala ranjang. “Aku dengar kau terluka, bagaimana keadaan matamu sekarang, Takao?” sang Lelaki membuka kompres yang sejak tadi menempel di salah satu kelopak mata, ia lalu memperlihatkan kondisi matanya yang membengkak. “Sudah tak apa, tenanglah. Ini seperti bukan kau, kalau kau ingin tahu.” Nyatanya, Takao masih bisa menyeringai, kemudian mendengus tawa ketika melihat wajah kesal Siera yang coba gadis itu tahan. Mengeluarkan napas dengan teratur, Siera mengingat bagaimana pertemuan mereka untuk pertama kalinya. Ia begitu emosi karena dituduh pencuri, ditambah lagi Takao yang waktu itu membelenggu pergelangan tangannya. Namun, sekarang Takao dan Ken yang berada di sisinya untuk membantu, rela mempertaruhkan nyawa untuk memperbaiki segel. Keyakinan hati mereka tentu begitu kuat, tidak mudah untuk menguatkan diri membantu yang bukan bagian dari keluarga seperti dirinya, apalagi sampai mempertaruhkan kehidupan kelak. Tiba-tiba ia menjadi murung, meresa bersalah dengan semua ini. Namun, telapak tangan di kepala membuatnya tersadar dari lamunan. Matanya berkedip, ia melihat Takao tersenyum tulus. “Tenanglah, kami akan selalu bersamamu, Siera. Ini adalah kewajiban kami, sebagai temanmu.” Kembali bola mata cokelatnya membesar, perasaan haru pun memenuhi hati, dan ia melebarkan kurva di bibir karena merasa beruntung memiliki sosok seperti orang-orang yang berada di kabin ini. Entah kenapa, Takao merasa hangat ketika melihat pancara energi Siera, inikah yang dimaksud Aoda tentang batin yang terhubung karena telah berhasil mendapatkan Tangisan Darah? Ah, andai saja sang Mama juga bisa seperti mereka. “Aku benar-benar berterimakasih, Takao. Padahal, dulu aku benar-benar ingin membalas denda padamu dan membuat kau menderita.” Cengir mewarnai bibir Siera. “Ah, tapi aku juga sudah cukup puas dengan memanggilmu ‘Ta-chan’ di depan banyak orang.” Gigi Siera semakin terlihat, membuat bola mata Takao berotasi karenanya. Jadi, memang gadis ini sengaja waktu memanggilnya dengan nama menggelikan itu. “Kau memang menyebalkan, Siera.” Walau yang dikatakan adalah kalimat tak menyenangkan, nyatanya tak membuat Siera merasa kesal, gadis itu malah tertawa karena Takao yang ada di depannya pun berekspresi sama. “Sudahlah sebaiknya kau makan, tetapi dari lubuk hatiku yang terdalam, kau memang cocok dipanggil ‘Ta-chan’, Bibi Mayumi memang yang paling tahu.” Desah napas terdengar, Takao tak jadi menyuapkan sup yang dibawa Siera. “Hei! Hei! Aku akan benar-benar kesal, Siera.” Gadis itu terlihat tak acuh, kemudian mengendikkan bahu. “Kau tahu itu adalah yang paling kutunggu, Ta-chan.” “Dasar, Barbar.” Sengit ucap Takao, hingga membuat Siera terbelalak. Ia juga melupakan kalau julukan itu selalu diberikan sang Bungsu Aoryu untuk dirinya. Bibirnya mencebik tajam, dan ia menarik kerah Takao yang masih terduduk lemah di atas ranjang. Tidak terlalu kuat hingga membuat sup yang ada di dalam mangkuk tak tumpat dan hanya bergelombang saja. “Aku akan menarik gigimu jika kau mengatakannya lagi.” Wajah mereka cukup dekat, tetapi tak ada yang peduli dengan hal itu. Tersenyum sinis, Takao mendekatkan dahinya, hingga menempel dengan dahi Siera. Lelaki itu menatap tajam sang Gadis. Kemudian berkata dengan senyuman yang masih melekat di bibir. “Hoo, coba saja kalau bi—“ perkataan Takao terhenti. Tiba-tiab saja pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Hoshi yang berdiri mematung karena terkejut menyaksikan sajian yang terpampang di hadapannya. Bola mata itu melebar, dan setelah terbebas dari kebekuannya, Hoshi pun meneriaki Takao yang berani-beraninya berjarak teramat dekat dengan wajah sang Adik kesayangan. “TAKAOOO!” Seisi bungalo terkejut karena mendengar teriakan Hoshi, Aoda pun langsung berlari karena nama adiknya baru saja diteriaki oleh sang Sahabat. Ia takut terjadi sesuatu dengan si bungsu karena keadaannya tadi cukuplah tidak sehat. Namun, yang ditemukan adalah Hoshi yang mencengkeram kerah leher adiknya, hingga ia langsung berlari mendekat dan menghentikan kegilaan sulung Harata itu. Demi Tuhan, adiknya sedang tak sehat. “Tak akan kuampuni, akan kupotong punyamu! b*****h m***m!” Hoshi masih mengamuk, walaupun sekarang telah dilerai oleh Aoda dan Kuroda, mereka berdua cukup kepayahan. “Apa yang terjadi? Tenanglah, Hoshi!” mendengar suara Aoda, membuat lelaki itu terdiam dan sekarang malah berbalik mencengkeram kerah leher sulung Aoryu. “AODA! Apa yang kauajarkan kepadanya, HAH? Dia nyaris mencium adikku!” kerah itu ditarik dorong hingga membuat tubuh Aoda terombang ambing. Belum selesai kekacauan ini, tiba-tiba Sanosuke dan Ken pun berteriak. Sial bagi Siera karena tidak ada yang mendengarkan penjelasannya, kakaknya masih terus saja marah-marah, dan hal yang sekarang membuat tambah parah Sanosuke pun mendekat dan ingin menghakimi Takao. Dengan mengembuskan napas, Siera pun berteriak sekuat tenaga menyerukan agar semua orang tenang. Lengannya ia gunakan untuk menjambak rambut Hoshi hingga lelaki itu kini melepaskan kerah Aoda dan meringis kesakitan. “Dengarkan penjelasanku dan Takao, KAK!” wajah Siera kemerahan, emosi karena melihat tingkah over protektif Hoshi yang ternyata lebih parah dari Sanosuke. Ia baru mengetahuinya sekarang. Di sampingnya, Ken berteriak tak terima. “Siera, jangan bilang kau berpacaran dengan si b*****h ini? Kau tidak tahu saja betapa busuknya dia!” mengendengar hal itu, tentu saja Takao hanya memutar bola matanya, sialan si tampang Eropa ini. “APA?” Hoshi dan Sanosuke berteriak serentak, walau sekarang rambut sang Kakak masih berada di kesepuluh jemari Siera, lelaki itu masih bisa mengeluarkan suara teramat kuat saat kepalanya tengah miring karena tarikan tangan si bungsu. “Tidak, Kak! Tidak! Ya, Tuhan. Tidak adakah yang mau mendengarkan penjelasanku, ini tak seperti yang kalian pikirkan. Kami hanya saling menantang satu sama lain karena aku ingin mencabuti giginya untuk membalaskan dendam.” Tentu saja penjelasan Siera tidak dipercayai oleh tiga orang yang sedari tadi terus berbicara dengan tidak santai dan berteriak-teriak seperti orang gila. Hoshi, Sanosuke dan Ken, kompak mempertanyakan kenapa sampai kepala mereka bisa berdekatan hingga menjadi seperti Takao yang ingin mencium Siera. Tidak memedulikan situasi, Takao yang adalah tersangka utama tengah santai menyantap hidangannya, ia tetap harus makan walaupun kabinnya kini penuh dengan orang-orang yang tak diundang. “Harus bagaimana lagi aku menejelaskannya, Kak!” “Hoshi, tenanglah. Kita harus menerima penjelasan Siera karena dialah yang paling tahu dengan apa yang terjadi di antara mereka. Tidak mungkin adikku berbuat sedemikian, Hoshi.” Walau sekarang Aoda mendapatkan delikan mata dari sahabatnya, kini Hoshi akhirnya bisa cukup tenang. Menggandeng tangan Siera, lelaki itu lalu mengatakan sesuatu kepada Takao yang baru saja menghabiskan supnya. “Jangan macam-macam kau, Bocah Tengik.” Siera menghela napas. “Ayolah, Kak. Kau memfitnah Takao dan kau masih mengancamnya. Sanosuke, kau juga tidak memercayaiku?” Tak ada jawaban dan Siera tetap ditarik ke luar, membiarkan adiknya pergi sendirian ke kamar seorang pemuda memanglah hal yang tidak bijaksana, seharusnya tadi dirinya tak mengizinkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN