Makan malam kali ini lebih ramai dari biasanya, selain karena kehadiarn satu-satunya gadis manis di rumah keluarga Aoryu, kini juga ada seorang lelaki riang yang ikut menginap di sana. Jadilah keadaan rumah yang biasanya membosankan menjadi riang seketika. Ramai dan sedikit berisik. Makan malam pun tak lepas dari canda dan tawa Ken yang asik memuji Nyonya Aoryu, Mayumi. Wanita lembut itu terus saja tersipu karena pujian Ken dan tentu saja karena hal itu membuat Takao menjadi kesal sendiri. Ia begitu kesal karena ibunya mau saja digoda dengan rayuan murahan si Berisik itu. Seperti yang dijanjikan Aoda, malam ini mereka memutuskan untuk berkumpul di perpustakaan di salah satu ruangan, tentu saja minus Siera. Gadis yang akan menjadi objek pembicaraan ketiga lelaki tampan itu tentu saja harus tertidur terlebih dahulu. Dan sekarang, pembicaraan ini baru saja dimulai pukul sebelas malam, membuat Ken menguap beberapa kali karena ia yang tidak biasa bergadang seperti sekarang.
“Ck, Basuhlah wajahmu.” Ken pun melakukan hal yang diserukan Takao.
“Apa yang ingin kalian bicarakan? Dan kalau ini memang tentang Siera-chan, pasti kalian sudah mengetahui keanehan itu ‘kan? Jadi, ada beberapa hal juga yang ingin kuberitahu kepadamu, Takao. Kau penjanganya ‘kan? Walaupun aku tidak begitu mengerti, tapi sebaiknya kalian jelaskan masalah hal ini.” Ken yang biasanya selalu bertingkah konyol, kini kelihatan sangat berbeda, bahakan Takao pun cukup terkejut karena ia melihat sisi lain yang tak pernah diketahuinya dari sahabatnya ini.
*
“Aku tak suka melihat caranya menatap Siera.”
Sanosuke, sejak merasa lebih baik dan sudah diperbolehkan pulang, ia pun terus saja memaksa kakaknya agar Siera tidak menginap lagi di rumah keluarga Aoryu. Baginya, lebih baik Siera segera pulang ke rumah mereka daripada terus berada di kediaman rumah sahabat kakaknya, ia yakin pasti lelaki sial itu akan menatap adiknya atau melakukan sesuatu kepada Siera-nya.
“Siapa? Aoda?” tentu saja, Hoshi sekarang sedang asal berbicara dan menebak, mengingat ia sedang sibuk dengan laptopnya.
Sang Kembaran dari Siera hanya melirik kakaknya yang sedang kelihatan sangat fokus memandangi sesuatu yang ada di laptopnya. Sama sekali tidak mengkhawatirkan adik perempuan mereka dan malah menyerahkan sepenuh hati penjagaan adiknya kepada Nyonya Aoryu dan anak-anak lelaki. Apa kakaknya ini tidak berpikir, bisa saja Aoryu bersaudara itu menggoda adiknya atau melakukan hal tidak senono?
Diam-diam, Hoshi menyeringai kecil karena malihat adik lelakinya langsung berdiri dan pergi dari hadapannya. Sanosuke memang terlalu over terhadap Siera. Padahal ia tahu kalau Nyonya Mayumi akan langsung menghajar anak lelakinya jika berani melakukan hal aneh-aneh kepada Siera, dan Aoda, lelaki itu pasti akan langsung mencekik Takao jika saja lelaki itu berani menggoda Siera.
Ia lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi Aoda.
“Jaga tangan adikmu agar tidak menyentuh Bunga kami. Jika tidak, kami pastikan ia akan kehilangan miliknya.”
Hoshi langsung mematikan ponselnya setelah kalimat itu terucap, ia bisa memastikan wajah macam apa yang sekarang tersemat di muka Aoda.
*
Tuuuttt ... tuttt.
Belum sempat membalas ucapan kurang ajar sahabatnya, Aoda hanya bisa mengumpat kecil karena Hoshi telah mematikan sambungannya dengan sepihak. Dan apa-apaan perkataan si muka bayi, beraninyad ia berbicara seperti itu.
Tatapan aneh mengarah kepada Aoda, Takao dan Ken yang sekarang juga berada di sana hanya mengangkat alis bingung karena melihat lelaki lebih tua dari mereka tengah terlihat kesal. Tidak mau ambil pusing, mereka pun kembali meminum teh masing-masing.
“Baiklah, sekarang bisakah kalian jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya?” Ken kembali bersuara dan meminta penjelasan dari kedua bersaudara di hadapannya ini.
Yang menjelaskannya adalah Aoda, ia mengatakan kepada Ken mengenai Siera dan keterkaitakan antara keluarga Harata, Aoryu dan Yakumo di masa lampau. Juga, menjelaskan tentang kesalahan penyegelan iblis yang mengakibatkan keluarga Harata dikutuk. Dan yang paling menyita perhatian Ken adalah penjelasan mengenai penyegelan kutukan Kokoro no Yami, mengakibatkan banyaknya korban berjatuhan saat itu. Kurang lebih lima belas tahun yang lalu, kedua orangtuanya juga meninggal masalah ini dan Ken baru mengetahuinya sekarang. Jadi, selama ini Nenek Kikyo berbohong tentang kematian orang tuanya, bukanya kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan?
“Tunggu!” Aoda yang serius menceritakan tentang tragedi penyegelan kutukan pun terdiam karena mendengar selaan Ken. Kedua bersaudara itu kini tengah memperhatikan Ken yang seperti mengendalikan emosi dan napasnya.
Takao yang melihat wajah tidak biasa sahabatnya hanya menaikkan alisnya kembali, ia bingung apa yang tengah terjadi kepada pemuda bertampang Eropa ini.
“Kakak bilang, Uzukiro Tsumugi dan Uzukiro Makoto juga menjadi korban dari penyegelan? Bagaimana mungkin? Mereka itu orang tuaku dan sudah meninggal semenjak aku lahir?” suara Ken menjadi mengeras dan ia pun berdiri menatap tajam Aoda dan Takao bergiliran.
Mengetahui fakta ini, Aoda dan Takao pun mengerutkan alis. Sangat aneh, tidak mungkin yang ia tahu adalah hal yang salah, lagi pula semuanya tertulis di buku yang ada di kuil Aoryu. Aoda lalu memperhatikan Ken yang masih teregah, ia pun menyuruh lelaki maniak ramen itu untuk duduk kembali dan meredamkan emosinya.
“Ken, kau tenanglah dulu.” Memberikan pemuda itu waktu untuk mengatura napas untuk menurunkan emosi.
“Baiklah, sepertinya kau tidak mengetahui masalah ini, pasti Nyonya Kikyo merahasiankannya agar kau tidak mencari tahu tentang kutukan Kokoro no Yami. Apalagi, dari cerita Takao, kau memiliki kekuatan supernatural seperti yang dimiliki ibu dan ayahmu.”
Kepala Ken mengangguk ketika mendengarkan ucapan Aoda, jadi selama ini Nenek Kikyo merahasiakan tentang kematian kedua orang tuanya agar ia tidak ikut mencari tahu mengenai hal itu. Namun, kenapa? Apa akan menjadi masalah jika ia mengetahuinya dan ikut membantu keluarga Harata.
“Ken, sepertinya kau tidak usah membantu saja. Kami akan mencari Uzukiro yang lain untuk membantu proses pemulihan segel kutukan.” Aoda yang berbicara seperti itu, tentu saja mengejutkan Ken, bahkan Takao juga merasakan hal yang sama.
“Apa? Apa-apan ini? Kenapa kau tidak mengizinkan Ken membantu kita? Kau kira gampang mencari keberadaan Uzukiro yang memiliki kemampuan seperti Ken?” tentu saja Takao tidak bisa menerima keputusan sepihak kakaknya, ia bingung karena sudah susah payah menacari Uzukiro yang memiliki kemampuan ini dan Aoda malah menolak uluran tangan Ken yang berniat membantu mereka.
“Hhh. Tenanglah, Takao.”
“Kak Aoda, itu benar. Aku bersedia membantu, aku tidak peduli walau awalnya aku marah dan kecewa karena orang tuanku terbunuh dalam penyegelan iblis yang ada di diri Siera-chan. Aku, aku tidak peduli. Aku menyukai Siera-chan dan ingin membantunya.”
“Apa? Kau menyukai Siera?” Takao tersedak liurnya sendiri karena terkejut mendengar penuturan dari Ken.
Hanya helaan napas keluar dari mulut Aoda, kenapa sekarang mereka malah membahas mengenai cinta dan semacamnya. Sekarang bahkan kedua orang itu masih berdebat, dengan Takao yang terus saja memberi Ken berbagai pertanyaan berantai.
“Kenapa bisa kau terpikat dengan senyumannya?” tanya Takao tajam.
“Bodoh, mana aku tahu! Senyuman Siera-chan sangat memikat!” balas Ken meneriaki
“Bagaiman bisa kau terpikat dengan senyumannya?” masih kukuh Takao bertanya dengan nada tak terima.
“Berengsek, aku tidak tahu! Kenapa kau terus saja bertanya kenapa dan kenapa, hah?”
“Sudahlah, kalian berdua.” Aoda sekarang berdiri karena jengah mendengar pertengkaran kedua sahabat yang sangat kelihatan sedang memperebutkan seorang gadis, walaupun sekarang Takao keliahatan tidak acuh dan malah seperti bapak yang tidak rela anak gadisnya didekati orang macam Ken.
Setelah situasi lebih tenang karena mereka mendapatkan tatapan mematikan Aoda yang jarang sekali terlihat, sang Sulung Aoryu pun kembali membahas pokok permasalahan ini.
“Baiklah, Ken. Kau tetap tidak kuizinkan untuk membantu hal ini. Alasannya karena kemungkinan Nyonya Kikyo yang tidak ingin kau ikut campur.”
“Hah? Itu baru kemungkinan ‘kan? Kita tidak tahu apa benar Nenek Kikyo tidak ingin aku ikut terlibat dalam penyegelan ini atau tidak. Itu kan masih persep—“
Keras kepala. Batin Aoda lelah.
“Ken, dengarkan aku. Kau adalah satu-satunya anak tunggal dari pasangan Uzukiro Tsumugi dan Makoto, kau juga tahu ‘kan kalau kau itu adalah cucu angkat dari Nyonya Kikyo dan dia itu begitu menyayangimu karena kau adalah satu-satunya yang dititpkan oleh kedua orang tuamu. Intinya, Nyonya Kikyo tidak ingin kau terlibat mengenai penyempurnaan segel ini, beliau tidak ingin kau terluka atau yang lebih fatalnya lagi, kau meninggal seperti kedua orang tuamu.” Aoda mejelaskan panjang lebar mengenai hal ini, dan Ken pun hanya bisa terdiam karena memikirkan penjelasan sang Sulung tadi.
Sudah lebih dari sejam menit mereka berada di ruangan ini, dan sekarang sudah lima menit mereka berdiam diri setelah mendengar penjelasan Aoda. Tentu saja, Ken dan Takao sama-sama terdiam karena tidak tahu apa yang harus dikomentari. Dalam bayangan mereka, apa benar penyempurnaan segel bisa semembahayakan itu? Kalau begitu, yang terlibat dalam masalah ini memang sudah pasti dalam bahaya dan risiko tinggi, walau tidak semembahyakan saat melakukan penyegelan awal yang orangtua mereka lakukan.
“Semenatar waktu, sebelum menemukan Uzukiro yang cocok, segel Kokoro no Yami memang bisa ditekan dengan Takao yang sebagai pengontrol Siera. Tapi, tentu saja itu tidak akan mengubah apa pun, karena yang bisa memperbaiki segel hanya Uzukiro dengan bantuan dari kita semua. Walaupun begitu, tetap Uzukiro lah yang bisa memperbaiki segel dari kutukan iblis.”
Mata indah Aoda kembali melirik kedua sahabat yang duduk di depannya, ia melihat kedua orang yang seumuran dengan Siera itu kini menghela napas. Takao pasti mengeluh karena harus mencari Uzukiro yang lain, dan Ken juga pasti mengeluh karena kemungkinan besar tidak dapat membantu mereka.
“Aku tidak peduli, aku akan tetap membatu kalian. Sekarat juga tidak apa-apa dan yang penting tidak mati.” Ken menyeringai menatap kedua bersaudara yang sedang menatapnya dengan tatapan entah apa. Tentu saja, mereka terkejut dengan penuturannya itu.
*
Semenjak kejadian di atap sekolahnya, entah kenapa Siera merasa selalu dihantui oleh sesuatu. Tidur pun ia tidak nyenyak dan hal ini tentu saja sangat menganggunya. Ia sekarang kembali terbangun dari tidur dan langsung terbelalak ketika melihat ada sesosok yang mengerikan di depan tubuhnya.
“Kyaaa!”
Jeritan Siera terdengar sampai ke seluruh penjuru rumah, membuat ketiga lelaki yang sedang asik berdiskusi pun pontang-panting berlari karena mendengar jeritan Siera yang berasal salah satu kamar di kediaman mereka.
Ketika pintu di buka dengan paksa, mereka hanya melihat Siera yang sudah bangun dari tidurnya dan sedang memeluk tubuhnya sendiri. Air mata gadis itu mengalir di pipinya, bibir indah itu pun kini gemetar.
“Siera?” Takao mendekat dan menyentuhkan tangannya ke bahu sang Gadis, seketika gadis itu tersadar dan langsung menatap Takao.
“T-takao?” hanya cicitan itu yang keluar dari bibir ceri si gadis. Tubuhnya masih bergetar dan kepala itu pun menggeleng, tangisnya menguat seketika.
“Siera-chan, kau baik-baik saja?” Ken pun maju mendekat dan duduk di ranjang yang ditempati Siera.
Jika tadi tangan Takao yang berada di bahu si gadis musim semi, maka sekarang tangan itu disingkirkan Ken dan digantikan olehnya sendiri. Siera hanya menggelengkan kepalanya, masih menangis sesegukan karena sesuatu yang dilihatnya.
Sekarang ia merasa nyaman karena ada sebuah tangan yang membelai kepalanya dan itu adalah tangan Takao. Ia pun mendongak dan menatap Takao yang juga tengah menatapnya, sama sekali tidak tahu sejak kapan lelaki itu duduk di belakang tubuhnya.
“Bersandarlah padaku.” Takao berbisik pelan dan Siera hanya menganggukkan kepala sambil bersandar di d**a Takao.
Melihat hal itu, membuat Ken terbelalak dan memasamkan wajah. Ken bergerak ingin meninggalkan Siera yang sedang ditenangkan oleh Takao, sampai saat berdiri dan ingin berjalan, suara Siera pun masuk ke gendang telinga.
“Mau ke mana? Ken di sini saja.”
Ken hanya tersenyum.
“Aku ingin memeriksa sesuatu sebentar, Takao jagalah Siera.”
Ia pun keluar dari kamar yang ditempati gadis itu, kemudian mencari lelaki yang sudah pergi entah ke mana. Setelah melihat Aoda, ia pun menghampiri.
“Kau dari mana, Kak?”
“Aku hanya memeriksa kamar ibuku. Bagaimana dengan Siera, ia sudah tak apa?”
Anggukan pun menjadi pengusir kekhawatiran dari benak Aoda, kemudian Ken mengatakan sesuatu kepada kakak dari Takao itu. Mereka duduk di meja dapur dan kembali berbicara dengan serius.
“Kak, sepertinya segel Kokoro no Yami benar-benar harus diperbaiki. Jujur saja, di kamar Siera tadi penuh dengan aura negatif. Aku juga tidak terlalu tahu apa yang terjadi dengan Siera. Tapi, kemungkinan dengan segel yang melemah, memudahkan iblis itu untuk memasuki alam bawah sadarnya. Hal itu akan terjadi jika Siera sedang merasakan tekanan dalam hidupnya yang membuat pikirannya menjadi kosong dan gampang dikendalikan iblis.”
Tentu saja, Ken sangat mengetahui mengenai permasalahan seperti ini. Mengenai makhluk ghaib atau sejenisnya. Hidup selama tujuh belas tahu dengan kekuatan supernatural membuatnya terbiasa dalam melakukan kontak dengan makhluk yang berada di luar nalar manusia.
“Aku masih belum bisa memutuskannya sendiri, aku harus minta pendapat para tetua dan juga dari ketua klan yang ikut menangani masalah ini. Mungkin, hal pertama yang bisa kaulakukan adalah menanyakan perihal ini kepada Nyonya Kikyo.”
Sang Sulung mengerutkan alis, berpikir bukan hanya kebencian yang bisa membuat Siera dikuasai, tetapi dengan melemahnya segel, maka situasi yang buruk pun memengaruhi gadis Harata itu. Ia mengehela napasnya, harus memberitahukan hal ini kepada Hoshi secepat mungkin.
*
Mereka masih dalam keadaan yang sama, dengan Siera bersandar di d**a Takao dan lelaki itu masih setia mengusap-usap pelan kepala dan bahu. Tentu saja, dengan perlakuan Takao kepada dirinya, membuatnya menjadi tenang. Ia tidak ketakutan lagi seperti tadi dan ia juga merasa dijaga dan dilindungi oleh lelaki yang masih setia menjadi sandarannya.
“Arigatou, Ta-chan.”
Takao hanya menghela napasnya saja karena mendengar ucapan Siera, ia juga tidak tahu kenapa dirinya mau melakukan hal semacam ini. Yang jelas karena melihatnya begitu ketakutan, ia menjadi khawatir dan ingin menenangkan gadis ini.
“Hm, tak apa. Tidurlah.”
Terdiam sejenak, Siera pun mengatakan apa yang menyebabkannya terbangun dai tidur hingga berteriak seperti tadi.
“Takao, tadi aku melihat sosok diriku yang ... yang menusuk perut Sanosuke. Hiks.” Tubuh Siera kembali bergetar kerana memikirkan hal ini, air matanya pun mulai mengalir lagi. Padahal, ia tadi sudah tenang karena berada di pelukan Takao.
“Stt. Sudahlah, itu hanya mimpi. Sebaiknya kau pejamkan matamu kembali.”
Kepala sang Gadis mengangguk, ia menghela napas dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya, agar bisa tidur dan tidak merepotkan lelaki yang masih setia menjadi sandarannya sekarang.
.
.
.
Bersambung