Sang Gadis berambut merah menyala kini, menatap terkejut sosok Takao yang menarik tangannya dan membuat tubuhnya berhadapan dengan lelaki itu. Jarak mereka teramat dekat, dan hal ini tentu membuatnya merasa tak suka, apalagi ada tiga orang lainnya yang berada di ruangan ini. Tentu saja perbuatan Takao sangat membuatnya kesal dan malu. "Apa-apaan kau?" bukannya Siera yang berucap sangat, Sanosuke lebih mendahului si pemilik tubuh yang tengah berhadapan dengan si bungsu Arata. Alis mata berkerut karena mendapati Takao yang tidak mengindahkan ucapannya itu, bahkan Hoshi pun hanya tenang-tenang saja menyaksikan Siera yang tengah jaraknya terlalu dekat dengan Takao.
Menghela napas karena berusaha untuk tidak memedulikan ucapan Sanosuke, Takao pun berkonsentrasi karena ada yang ingin ia coba dan saksikan. Ia benar-benar sangat penasaran ketika mendapatkan penjelasan kemarin saat ia menemui Aoda dan Hoshi yang ada di kamar rawat Sanosuke. Mendekatkan ibu jarinya kepada bibir Siera, kemudian ia menyentuhkan taring Siera yang memanjang dan tajam ke ibu jarinya, menekan sedikit dan cairan merah kental itu keluar dari ibu jari Takao.
Tentu saja hal ini membuat sang Gadis terkejut, sebab karena ulah lelaki di depannya ini, ia merasakan anyir darah dari ibu jari Takao.
Setelah tangannya berdarah, Takao memegang dagu Siera dan hal itu langsung membuat Sanosuke terbelalak. Sifat over protektifnya pun muncul seketika, sungguh ia ingin memotong tangan lelaki yang dengan seenaknya menyentuh adik perempuannya sekarang juga.
Sayangnya, melihat adiknya yang akan melakukan sesuatu, gerakan Sanosuke pun ditahan oleh Hoshi, lelaki itu mengucapkan kata 'baik-baik saja dan lihatlah' kepada adik yang memang ia tahu sangat perhatian kepada Siera. Mengikuti keinginan Hoshi, ia pun mengurungkan niatnya dan dengan berat hati membiarkan Takao menyentuh dagu Siera.
Memengan dagu bukannya tanpa alasan bagi Takao, ia ingin agar Siera menatap matanya yang bermanik merah. Gadis itu agak melawan di awal, tetapi setelah ia serukan agar melakukan apa yang dia kehendaki, akhirnya Siera menganggukkan kepala dengan kesal. Ibu jarinya yang berdarah tadi ditempelkan ke dahi Siera tepatnya ke tanda segel—sebenarnya tidak tampak oleh mata telanjang orang awam.
Setelah darah Takao mewarnai dahi Siera, ia menggerakkan kembali tatapan matanya ke arah mata Siera yang berwarna sama. Bintang segi enam itu terlihat berputar dan mengeluarkan aura ungu sehingga darah yang awalnya berada di dahi pun terserap. Siera merasa terhisap saat memandangi mata lelaki di hadapannya ini, dan berangsur-angsur ular-ular yang mengelilingi Siera menghilang, pun warna rambut gadis itu kembali berubah seperti semestinya.
Siera terjatuh lemas di pelukan Takao.
Napas mereka berdua terengah-engah dan Takao tidak mengira kalau hal yang mereka lakukan ini akan menguras tenaganya dan tenaga Siera juga.
"Kalian baik-baik saja?" tanya kedua sulung berbeda marga itu.
"Hm." Takao menggumam setelah bisa mengendalikan dirinya walaupun lelahnya masih dirasakan.
"Eng." Siera pun mengguman saja, dia bahkan sulit mengeluarkan suaranya saking lelahnya, entah apa yang dilakukan Takao sampai ia merasakan letih hingga seperti ini. Mereka masih berpelukan, tepatnya Takao yang menjaga keseimbangan Siera yang kakinya melemas. Lelaki itu kemudian menggendong Siera a la bridal style.
"Turunkan, Ta-chan," ucap Siera dengan suara lemah.
"Pppfff!" seketika Takao mendelik ketika mendengar tawa tertahan Aoda dan Hoshi bersamaan, tentu saja minus Sanosuke yang masih menatapnya dengan tajam.
Ck, si Barbar ini, bisa-bisanya masih mencelaku dengan kondisinya yang sekarang. Batinnya kesal, Takao ingin sekali melemparkan gadis di gendongannya ini dari lantai sepuluh.
"Kau ingin kubiarkan terkapar di lantai? Dasar Barbar!" mendengar hal itu membuat Siera cemberut bukan main, ia pun menggerakkan tangannya dan menjambak rambut sang Pemuda, kemudian memeletkan lidah karena merasa tak bersalah.
*
Malam ini Siera masih tidur di rumah kediaman Aoryu, mengingat Sanosuke masih harus dirawat di rumah sakit untuk istirahat total, walaupun seluruh luka-luka lelaki itu sudah disembuhkan olehn adik perempuannya, sedang di rumah ada sang Ibu yang benar-benar harus ditangani lagi dengan lebih efisien. Hoshi tentu tak ingin suasana semakin keruh, sudah cukup Siera dan ibunya terluka secara bersamaan.
Makan malam bersama, di meja yang besar itu ada dua lelaki Aoryu dan ibu mereka, Mayumi. Satu-satunya wanita paruh abad yang terlihat sangat senang dengan kehadiran Siera di kediamannya, ia sungguh merasa seperti memiliki seorang anak perempuan sekarang, dan hal itu adalah impiannya sejak dulu.
"Siera-chan, makannya yang banyak biar sehat." Lihatlah betapa perhatiannya Ibu duo Aoryu itu, bahkan ia telah melupakan kedua anaknya yang belum kebagian makanan sejak tadi karena Mayumi hanya mengambilkan nasi untuk Siera saja.
"Err... Ibu, tidakkah kau ingin memberi kami nasi untuk dimakan?" suara sulung Aoryu terdengar, lelaki itu bertanya dengan nada sedih yang dibuat-buat. Dan karena hal itu, membuat Siera sadar bahwa di balik sosok gagah dari Aoryu Aoda, lelaki itu tetap saja manja kepada sang Ibu. Dalam hati, Siera tersenyum kecil karena mengingat dirinya juga akan berlaku sama kepada kedua kakaknya, bahkan sangat suka ketika ia disuapi makanan.
Siera mengingat, ia pernah merajuk dan mogok makan maupun berbicara, dan yang dilakukannya ketika dipaksa ke meja makan hanyalah meminum segelas air, kemudian langsung berjalan ke kamar sambil menghentakkan kaki. Saat itu memang yang terlihat paling frustrasi adalah Hoshi, sang Sulung terus mengetuk pintu kamarnya, bahkan hingga mendobrak karena tak mendapatkan jawaban juga. Akhirnya, ia pun dipaksa makan dia atas ranjang, dengan tangan Hoshi yang ngotot ingin menyuapi Siera. Dan yang membuatnya tersenyum di dalam hati adalah ketika ia masih keras kepala melanjutkan acara merajuknya dan tak mau membuka mulut, Hoshi menjerit geram saking kesal dan khawatir, tetapi tidak berani menunjukkan bahwa lelaki itu tengah marah kepadanya.
Dan sekarang, Siera bisa melihat Bibi Mayumi memandang malas anak sulungnya.
"Ambil sendiri! Jangan seperti anak kecil, kau bahkan sudah dua puluh delapan tahun, Aoda." Bahkan sekarang suara Bibi Mayumi teramat tajam dengan delikan mata yang menikam sang Sulung.
Yang dilakukan Aoda hanya terdiam, kemudian menutup wajahnya dengan sebelah tangan, lalu menundukkan kepala sampai tersandar ke meja, tangan yang satu lagi digunakan untuk memukul-mukul pelan meja makan dengan dramatis.
"Hikss, aku anak yang tidak dianggap." Aoda berucap sok pilu.
Di sisi lainnya, ada Takao yang terlihat memutar bola matanya bosan, lagi-lagi drama picisan terpajang gratis di depan matanya. Kenapa dia harus terjebak dengan keluarga yang mengerikan ini? Lihatlah! Ibunya bahkan sibuk mengurusi anak gadis barbar yang sedang menumpang di rumahnya dan kakaknya selalu bertingkah berlebihan dan teramat usil jika sudah bersama orang-orang yang terdekat baginya.
Takao hanya menghela napasnya bosan.
*
Pukul sepuluh malam, Aoda dan Takao sedang berada di perpustakaan rumah mereka sambil membicarakan sesuatu dengan serius. Bahkan, mereka sengaja berbicara dengan suara bervolume rendah untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Aoda kembali menatap jendela saat tiba-tiba Takao menanyakan sesuatu kepadanya, sebelum menjawab, lelaki tampan itu menghela napas dan kembali mengembalikan fokusnya kepada sang Adik.
“Kenapa? Bukankah seharusnya kau lebih berpengalaman dan paham melampaui aku?”
Suara nan datar kembali memcah keheningan, dengan tidak sabaran sosok di depannya menanti jawaban dari Aoda, menyadari gelagat Takao yang masih dengan serius menatapnya tajam.
Anak ini, dasar.
“Seharusnya kau sudah menyadarinya! Sejak pertama aku meminta bantuanmu untuk mengurus segel Kokoro no Yami yang ditanamkan kepada gadis itu.” Aoda menjawab pertanyaan Takao dengan nada yang sama datar dan terlampau tenang, mata hitamnya sesekali memejam ketika menikmati teh hijau yang ia sesap.
“Hah?”
“Ini adalah kelebihan klan kita, dan sejak dahulu Ayah telah berjanji untuk membantu klan Harata. Tentu saja kau tidak mengetahuinya, mengingat kau berusia sama dengan gadis itu.” Kembali Aoda menjelaskan kepada sang Adik mengenai keterlibatan Aoryu dalam permasalahan kutukan Kokoro no Yami dan Jelmaan Iblis Yamata no Ryu. “Aku juga akan membantu, seharusnya ini tanggung jawabku sepeninggalan Ayah. Namun, kau tahu sendiri bagaimana lemahnya kondisi tubuhku ini. Jika terlalu banyak memakai kekuatan supranatural, aku bisa mati,” sambungnya dengan nada yang sama dengan mata terfokus ke wajah adiknya.
“Namun, bukankah lebih mudah jika harus menggontrol Kokoro no Yami dengan mengendalikan iblis itu?” masih penasaran, Takao terus bertanya.
Hela napas terdengar, kerutan di alis Aoda pun tercipta, tak disangka adiknya bertanya hal sedemikian. Dengan memakai kekuatan spiritual mereka, Aoryu memang memungkinkan untuk mengendalikan iblis dan membuat perjanjian dengan mereka, tetapi Yamata no Ryu terlalu kuat. Tidak hanya membutuhkan satu orang untuk megendalikannya, ditambah lagi, jika tak berhasil maka akan memakan korban. Jika pun berhasil, mereka tidak akan mudah untuk mengendalikan jiwa mereka sendiri karena bisa terseret ke dalam kekelaman iblis.
“Itu berbahaya! Aku mengerti, dengan menggunakan segel darah dan mata kau akan kehilangan banyak energi dan tenangamu. Namun, hanya itu yang bisa kaulakukan. Jika terlalu nekat memakai kekuatan spiritual untuk mengendikan iblis seperti Yamata no Ryu, kau bisa terbunuh.” Lelaki tampan berusia dua delapan itu mengkatupkan bibirnya, kemudian lengan kanannya bergerak untuk mengambil secangkir teh tambahan yang berada di atas meja. Mencium aromanya sebentar dan setelahnya bibir itu pun terbuka dan meneguk minuman hangat itu dengan perlahan.
*
Siera menghela napasnya bosan, pelajaran hari ini adalah olah raga. Seharian ia manahan kantuk karena kejenuhan akut yang sedang menghingap dalam otaknya, bukan hanya karena alasan itu ia menjadi sebosan ini, tetapi karena adanya alasan lain juga. Ya, itu karena Sanosuke tidak ada di sisinya. Siera merasa ada yang kurang pada dirinya, kakak kembar yang selalu melakukan apa pun untuknya dan yang terpenting adalah demi kesenangan dan kebahagiaan dia, sekarang malah tidak bisa hadir ke sekolah karena masih dalam masa pemulihan sehabis kecelakaan yang menimpa.
Tiba-tiba ia merasa sedih.
Sanosuke dan dirinya sangat dekatal,wau lelaki itu jarang menunjukkan ekspresi kepada banyak orang, tetapi jika sudah bersamanya pasti sang Kakak akan tersenyum atau terawa kecil ketika dirinya berhasil ia goda.
Sebuah tepukan di pundak menyadarkan Siera dari pemikirannya yang sejak tadi berpusat kepada keadaan Sanosuke. Ketika ia menolehkan wajah untuk melihat siapa yang menepuk bahunya, ia langsung menangkap bias cengiran yang dihadiahkan oleh sang Pelaku. Tentu saja ia langsung membalas dengan cengiran yang tak kalah lebarnya dari orang itu.
“Ken!” ucapnya dengan nada riang yang terdengar jelas.
“Ayo kita ke kantin, akan kuteraktir udon, kau mau, bukan?” tarikan tangan itu langsung membuat si pemilik tubuh terbangun dari singgasana kebosanannya.
Mereka berjalan masih dengan tangan yang saling berkaitan, menuju ke kantin dan duduk di pojok yang merupakan tempat mereka seperti biasa.
“Hoi, Taka!”
Takao hanya menatap malas kepada duo berisik yang tengah berjalan untuk menghampirinya. Mereka duduk di hadapannya yang masih asik menyeruput jus. Mata beda warna itu hanya mengawasi gerak-gerik Siera karena sedang mengerucutkan bibir sebal—dengan makhluk bertampang Eropa di samping tubuh, hanya karena tangan jahil Ken yang mengacak rambut Siera hingga kepala itu menjadi berantakan.
Makan dengan hikmat adalah kebiasaan Takao, tetapi jangan hiraukan dua orang yang masih asik berceloteh dengan mulut penuh makanan.
“Kalian, makanlah dengan tenang!” Takao akhirnya berucap dingin karena jengah melihat kedua temannya.
“Hah? Kau henafa hih, Hakha?” dengan mulut yang tersumpal makanan tentunya, lelaki itu berbicara yang entah apa maksudnya dan membuat Siera tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Ken karena mendengar suara terlampau aneh, sedang si pemuda berwajah masam hanya bisa mendecih pasrah melihat kelakuan orang yang cukup diakunya sebagia sahabat.
“Dasar, Ken Bodoh!” ejek Siera.
*
Hari ini Siera masih tetap akan menginap di kediaman Takao, sebenarnya gadis itu sudah merengek ingin pulang ke rumahnya. Dan sudah memukuli Hoshi ditambah acakan-acakan jemari lentik di rambut ikal cola sang Kakak. Namun, apa dayanya jika ia harus tetep tinggal di rumah Takao sampai Sanosuke sembuh dan keluar dari rumah sakit. Tentu saja dengan menjadikan Sanosuke sebagai alibi, maka Siera pun menyetujui permintaan Hoshi.
Sekarang, Siera yang ada di ruang keluarga bersama Takao dan Aoda pun terus meminta perhatian dari kakaknya yang masih berhubungan dengannya lewat jalur telepon. Ia masih merengek kepada Hoshi, dengan ungkapan rindu sebagai alasan untuk kembali pulang. Namun, akhinrya Siera mengalah setelah mendengar penjelasan Hoshi bahwa semua ini demi kedua adik kembar kesayangannya.
Juga sebenarnya untuk lebih mengakrabkan antara si penjaga dan yang dijaga—Takao dan Siera. Ya, ini semua adalah rencana nista Aoda dan Hoshi, dua sulung itu berusaha mendekatkan Siera dan Takao. Si manusia arogan dan si keras kepala manja.
“Kak Aoda!”
“Ya, Siera-chan.”
“Anu, kenapa Takao bisa melakukan hal itu? Aku langsung lemas jadinya!” Siera berucap bingung.
Aoda mendelik mendengar paparan yang entah itu ungkapan atau pertanyaan Siera. Matanya langsung mengarah tajam kepada Takao, dan seperkian detik berikutnya Aoda menggebrak meja hingga membuat Siera terkejut, apalagi melihat sulung Aoryu itu menarik kerah baju Takao.
“Apa yang kaulakuakan padanya, Bocah? Kau ingin Hoshi mengamuk?” Takao membalas tatapan mata kakaknya dengan sinis dan sekarang telah berubah warna menjadi merah.
“Memangnya apa yang kuperbuat? Singkirkan tanganmu, Kak.” Geramannya dalam kalimat tersebut terdengar jelas.
Melihat kedua orang Aoryu itu seperti akan segera beradu jotos, Siera yang panik pun mencoba menjelaskan. Ia juga bingung kenapa Aoda sampai marah sedemikian rupa.
“A-anu, Kak Aoda, kenapa memarahi Ta-chan? Aku hanya ingin bertanya masalah itu, yang di rumah sakit saat menjenguk Sanosuke. Takao melakukan itu ‘kan? Matanya menjadi merah dan dia memberikan darahnya ke dahiku.” Siera menjelaskannya dengan takut-takut, cengiran di bibirnya pun mengembang karena tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
“Ah! ternyata mengenai hal itu, kukira dia berani melakukan itu dalam artian yang berbeda. Hahahha... maafkan aku O-chan!” Aoda tertawa dengan wajah tampan malaikatnya, seolah tidak pernah memaki Takao dan hampir mencekik bungsu Aoryu itu. Ditambah lagi, panggilan menggelikan yang sudah lama tak tersebut, kini diucapkan si sulung kembali. Membuat Takao kesal kepalang.
Padahal dahulu sewaktu masih di Sekolah Dasar, Takao sangat suka dipanggil seperti itu oleh kakaknya, betapa dia dahulu adalah adik imut yang sangat memuja sosok Aoda. Namun, sayangnya itu hanyalah masa lalu.
“Cih, dasar!” Takao langsung berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya yang bebas dari para pengganggu.
“Eh, O-chan~ ikutttt!” teriak nyaring khas anak perempuan pun menggerlegar di ruangan keluarga Aoryu, betapa sekarang hari-hari keluarga ini menjadi sangat bewarna
Mendenguskan napas karena kejahilan kakaknya, Takao pun memasuki kamarnya dan langsung membanting pintu. Sementara itu, beberapa saat setelahnya Siera menyusul dengan teriakan, membuatnya semakin pusing saja. Si Barbar keras kepala yang terus mengekori karena rasa bosan.
“O-chan, kenapa membanting pintu segala! Kau mau menghancurkannya, ya?” gadis itu masuk dan langsung duduk di dekat si pemuda. Melihat hal itu, Takao hanya mendengus malas, apalagi ketika melihat Siera mengomel karena tidak mendapatkan jawaban dari dirinya.
“Oi, jelaskan tadi yang kutanyakan dong, bagaimana caramu melakukannya? Aku tidak tahu pelindungku bisa disebunyikan dengan darah seseorang? Dan kenapa kalian bisa punya mata yang berubah-ubah menjadi merah dan pola-pola aneh?” Siera berpikir dan kembali mengingat-ingat tatapan mata Takao yang bewarna merah saat memperbaiki segelnya.
Terdiam cukup lama, akhirnya Takao pun berguman, suara itu masih cukup jelas untuk didengar Siera yang tepat berada di sampingnya.
“Karena aku adalah yang terpilih. Yang akan menjaga kau, Siera.” Menolehkan wajah, sekarang mata mereka saling menumbuk.
.
.
.
Bersambung