Waktu berhenti dengan cara yang aneh dalam sekejap, dan segala sesuatu di dunia tampaknya telah kehilangan suaranya. Bisikan lembut yang seharusnya hangat dan penuh kasih sayang itu terdengar menakutkan ketika Ernest mengucapkannya. Ernest menundukkan matanya. Tempat di bawah telapak tangannya sedikit hangat, seolah-olah dia bisa merasakan bulu matanya sedikit berkibar, seperti sayap kupu-kupu berbulu yang ingin melarikan diri tetapi tidak bisa. "Rudolf, keluarlah," Perintah Ernest dengan ekspresi tegas. Rudolf mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” "Cepat keluar," Ulang Ernest lagi dengan tenang. Rudolf meliriknya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia mengambil tas kain dan berjalan keluar. Setelah langkah kaki itu hilang, Ernest perlahan melepaskannya. Dia membuka tangannya. Di ba

