Rea menapakkan kakinya di lorong sekolah. Masih sama. Tidak ada yang berbeda. Masih banyak yang menyanjungnya bahkan mengumamkan namanya saat Rea melalui beberapa siswa. Rea masih saja bersikap dingin pada orang yang tidak di kenalnya. "Reaaa." Rea membalikkan tubuhnya lalu melihat sosok Dea. Satu-satunya teman yang Rea miliki sebelum dia bertemu Arfan. Ngomong-ngomong tentang Arfan, dia izin tidak masuk hari ini. Entah, alasannya hanya sebatas urusan keluarga. Seperti biasanya, Rea tidak menanyakan lebih lanjut perihal Arfan. Rea tidak suka mengurusi urusan yang bukan menjadi urusannya. "Kenapa De?" kata Rea membuka obrolan saat mereka hanya saling tatap Dea menggeleng, kemudian tersenyum penuh makna, "gue ada ulangan matematika nanti siang, lo bisa ajarin gue?" Rea berdecih dalam

