Arfan kaget mendapati dirinya di ruangan serba putih dengan jarum infus tertanam di urat besar tangan kanannya. Tapi rasa kagetnya hilang ketika melihat Rea berada di sampingnya. Arfan menghela nafas lega melihat Rea yang tertidur di samping ranjangnya. Tak sadar Arfan menyunggingkan senyum kecilnya. Apa Rea peduli padanya? Lengguhan kecilnya menyadarkan Arfan dari pikiran yang menjalar pada perhatian Rea. "Lo sadar Fan?" tanya Rea sambil mengucek matanya "Hmm," jawab Arfan Rea mengangguk lalu merenggangkan otot-ototnya. Lalu beranjak dari kursi menuju nakas mengambilkan minum untuk Arfan. Sekali lagi Arfan berfikir bahwa Rea benar-benar perhatian padanya walaupun hanya perhatian kecil seperti ini. "Nih, kata dokter As lo harus banyak minum," ucap Rea memberikan gelas yang telah d

