Aku sudah tak bisa lagi berkata kata, semua terasa amat menyedihkan untuku. Aku harap ini semuanya hanya mimpi saja. Ya Tuhan bahkan luka di kepalaku begitu sakit, tetapi hatiku lebih sakit dari pada itu. Semuanya teramat sangat pedih. Aku kini keluar dari kamar itu dan mencoba untuk masuk ke dalam kamarku sendiri. Aku berjalan dengan perlahan, lututku sakit, tetapi aku tidak boleh cengeng.
Akhirya aku sampai di kamar dan dengan segera aku mencuci luka pada lutut dan kepalaku. Aku tidak tahan ini sangat perih. Setelah aku cuci semua lukaku, akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja. Aku pun merebahkan tubuh lelahku di atas kasur empuk itu. Aku sudah tidak tahan dan akhirnya akupun terlelap.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam kamarku, dan ternyata itu adalah Yun Ja Oppa. Dia lalu membangunkan aku hanya sekedar untuk mengingatkan aku makan malam .
"Bangunlah, ayo kita makan malam dulu Ji Soo," ajak Yunja Oppa kepadaku. Aku tidak berani menoleh kepadanya, karena Yun Ja Oppa pasti akan melihat luka pada jidatku.
"Ayolah Ji So Sayang, kita makan terlebih dahulu, Aboeji sudah menunggu kita, jika kita terlalu lama di sini, maka Aboeji akan menyusul kita ke kamar," ucap Yun Ja Oppa kepadaku.
lagi-lagi akupun tidak bisa menoleh, aku tidak berani untuk sekedar menatap mata Yun Ja Oppa. Dia pasti bertanya kepadaku, kenapa aku bisa terluka seperti ini. Karena itu aku harus mencari alasan. Aku tidak boleh membuat Yun Ja Oppa menjadi marah kepada ibunya sendiri. Karena mereka adalah ibu dan anak. Aku tidak bisa menjadi keretakan keluarga ini, karena itu sebaiknya aku harus mencari alasan yang tepat.
Aku sedikit menoleh kepadanya, dan benar saja, Yun Ja Oppa terlihat terkejut saat menatap kearah jidat. Lalu dia pun menatap kearah sikutku.
"Ada apa ini Ji So?" Pria itu terkejut dan menatap heran kepadaku.
"Aku terjatuh Oppa," jawabku sambil menprehkan sedikit senyum manis kepadanya.
" Kamu jatuh di mana Ji So? Jangan bohong pada Oppa-mu ini, apa ada orang yang menindasmu di sekolah?" tanya Yun Ja Oppa dengan tatapan penuh tanya. Entah kenapa aku sebetulnya ingin mengatakan padanya tetapi aku tidak boleh mengatakan hal itu. Karena pasti Ahjumoeni akan mengelak dan pasti akan terjadi sebuat pertengkaran.
"Mana mungkin Oppa, semua itu hanya perkiraan yang tidak masuk akal saja, sudah jelas aku terjatuh Oppa," kataku padanya. Tetapi pria itu seolah tidak percaya kepadaku. Matanya terus menatapku dengan tajam. Yun Ja Oppa kini berdiri lalu mengambil betadine untuk sekedar mengobati lukaku.
Saat itu aku sungguh terharu, karena pria itu sungguh sangat baik kepadaku. Padahal aku sudah membohonginya.
"Lain kali hati-hatilah, jangan sampai terjatuh lagi, kamu sungguh ceroboh," ucap Yun Ja Oppa kepadaku.
"Baiklah Oppa, aku berjanji lain kali tidak akan ceroboh lagi," aku berkata sambil menorehkan senyum yang manis kepadanya. Tidak ku sangka aku benar-benar terpukau oleh semua kebaikannya terhadapku. Apa iya aku sudah jatuh cinta kepadanya?
Kini dia sudah selesai mengobati lukaku, dan dia kini menggenggam tanganku. Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Aku bahkan merasa ruangan ini lebih panas dari biasanya.
"Jangan sakit, jangan membuat aku cemas, akun tidak tega melihatmu seperti ini, dengarkan aku Ji Soo, aku menyayangimu," kata Yun Ja Oppa kepadaku.
Apa maksud dari kata-katanya, apakah dia bermaksud untuk menyatakan perasaannya kepadaku? Apa ini kenapa aku bisa kegeeran seperti ini. Yun Ja Oppa mengatakan bahwa dia sayang kepadaku.
"Apa maksud dari kata saying itu Oppa?" Aku bertanya kepadanya. Dan Yun Ja Oppa langsung tersenyum kepadaku.
"Oppa tidak bohong, Oppa sayang sama kamu Ji Soo, sebagai seorang kakak," ungkap pria yang sekarang ada di hadapanku.
Ternyata dia menyayangiku sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Aku saja yang berlebihan karena ternyata aku menyimpan rasa suka terhadapnya. Bukan rasa seperti adik terhadap kakaknya tetapi sebagai perempuan terhadap laki-laki. Dan perasaan ini sungguh menyebalkan.
"Kenapa diam saja, ayo sebaiknya kita turun saja, kita harus makan, kasian yang lain sudah menunggu di meja makan semenjak tadi," kata Yun Ja Oppa kepadaku. Namun aku sangat malas untuk bertemu denga dua nenek sihir itu. Aku masih mersa kesal dan sakit hati atas semua perbuatan mereka.
"Oppa, bolehkan aku makan nanti saja, aku sungguh mengantuk." Aku berkata sambil menatap mata redup pria yang kini sudah membuat jantungku berdebar begitu kencang.
"Tapi kamu harus makan, apa mau makan disini saja," kata Yun Ja Oppa sambil menatap mataku dengan intence.
"Apa boleh aku makan di kamar saja? Apa Ahjumoeni todak akan marah?"
"Kenapa Eomoeni harus marah?"
"Aku hanya tidak nyaman saja, sebaiknya aku tidak perlu makan, aku sungguh mengantuk Oppa," ucapku dengan wajah yang sangat mengantuk.
"Ya sudah kalau seperti itu, Oppa turun dulu ya, kamu tidur yang nyenyak ya, semoga mimpi indah," kata Yun Ja Oppa sambil mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.
"Mana Ji So?" tanya tanya Pak Mansyur kepada Putra kesayangannya.
"Dia mengatakan sangat mengantuk Ayah sepertinya siswa kurang enak badan," jawab Yun Ja kepada sang ayah.
"Sakit apa? Apakah Ji So demam?" Paman so mulai merasakan kecemasan yang teramat dalam mengingat kini Ji So bahkan tidak ikut makan malam bersama dengan mereka.
Kecemasan yang tergaris di wajah tampan pria paruh baya itu sudah menjadi pusat perhatian, antara istri keponakan dan putranya.
"Tidak ada apa-apa kok Ayah, sepertinya Ji So cuma datang bulan saja. Ayah tidak usah khawatir," kata Yun Ja berbohong kepada sang Ayah karena dia tidak mau ayahnya cemas.
Yun Ja tidak menyangka jika ayahnya bisa terlihat sama seperti itu berbohong adalah Jalan satu-satunya agar ayahnya tidak terlalu mencemaskan Ji So.
"Syukurlah kalau memang itu cuma datang bulan, Ayah hanya takut saja terjadi sesuatu pada adikmu," kata paman So kepada putra semata wayangnya.
"Iya Ayah cuma datang bulan saja," kata Yun Ja sambil menolehkan senyum yang manis kepada ayahnya.
"Kenapa kamu terlalu mencemaskan anak perempuan itu, dia sudah seperti anak kandungmu saja, di sini ada gadis lain selain dia, lihatlah ada Kang Ha, kamu sama sekali tidak mencemaskan Kang Ha," kata bibi Ha Na kepada sang suami.
"Jelas saja setiap anak yang berada di rumah ini, akan aku cemaskan, bukan cuma Ji So, Yun Ja, tetapi Kang Ha juga, tapi lihat Kang Ha bahkan sangat sehat, jadi paman tidak harus mencemaskanmu nak," kata paman So sambil menorehkan senyum yang manis kepada Kang Ha, dan gadis itu pun membalas senyuman pamannya.