Hadiah

1009 Kata
Aku masih meneteskan airmata, betapa terharunya aku saat ini, karena ternyata Samchon dan Oppa telah memberikan aku Pesta kejutan yang membuatku tidak berhenti menangis. "Entah aku harus apa, seluruh tubuhku bergetar, aroma bahagia sudah menjalar ke seluruh kehidupanku, aku bahagia memiliki mereka berdua. Aku mencintai samchon dan Yun Ja Oppa tetapi kenapa ada sedikit getaran yang aku rasakan terhadapnya. Ahh ... aku tidak boleh terus terus merasakan perasaan ini. Perasaan seorang gadis kepada seorang pria. Perasaan yang aku rasakan untuk Yun Ja Oppa memang sangat luar biasa. Itu sudah berhasil membuat aku merasa benar-benar gila. Aku memikirkannya siang dan malam, memikirkan Yun Ja Oppa terus-menerus. Bagaimana ini, bahkan statusku adalah adiknya, tidak mungkin aku terus-menerus menyukai kakakku sendiri. "Ayo katakan pada Paman, kamu ingin hadiah apa dari Paman?" tanya Paman Soo kepadaku. Suara Paman memecah khayalanku. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba. Sebuah pesta kejutan yang tidak pernah aku kira sebelumnya. "Aku tidak perlu hadiah Samchon aku hanya butuh kalian berdua, itu saja sudah cukup bagiku," jawabku kepada Paman. Aku berkata Jujur aku memang hanya perlu mereka berdua untuk mengisi hidupku. Tidak perlu yang lainnya apalagi sebuah hadiah. "Jangan seperti itu, mintalah hadiah yang sangat mahal pada Aboeji nanti Aboeji pasti akan membelikannya untukmu," tangkas Yun Ja Oppa kepadaku, Pria itu kembali tersenyum menatapku dan lagi-lagi jantungku berdegup kencang. Aku benar-benar merasa sangat tidak nyaman dengan degupan jantung ini. "Tidak apa, aku tidak butuh apa pun, tidak perlu benda yang mahal, tidak perlu barang yang mewah dan tidak perlu juga sebuah kado ulang tahun apapun. Aku hanya membutuhkan kalian saja, kasih sayang Samchon dan kasih sayang Oppa, aku hanya butuh itu saja, semuanya sudah cukup," kataku sambil menatap ke arah Yun Ja Oppa, tatapanku memang sedikit membuat Yun Ja Oppa tersenyum, tiba-tiba saja Oppa mencubit hidungku dengan perlahan. "Aww! Oppa," ucapku benar-benar terkejut. "Dasar gadis bodoh, ini adalah kesempatanmu, kamu mau minta apapun katakan saja, sebuah mobil, atau tabungan dengan saldo yang besar dan apapun itu yang kamu mau, jalan-jalan ke luar Negeri ayo katakan saja," Yun Ja Oppa berkata sambil tersenyum kepadaku, mereka tidak tahu, aku tidak butuh mobil, aku tidak butuh tabungan yang banyak, untuk saat ini aku hanya butuh mereka berdua. Sudah dibiarkan tinggal dan diberikan kasih sayang, itu sudah cukup bagiku. Kalau aku meminta lebih daripada itu, benar-benar keterlaluan, aku benar-benar menyebalkan. "Betul apa yang dikatakan Yun Ja. Mintalah sesuatu yang menurut kamu memang benar-benar tidak pernah kamu miliki sebelumnya, kamu bisa meminta apapun itu. Paman sebisa mungkin akan mengikuti semua perkataanmu, akan mengabulkan semua keinginanmu, membelikan hadiah yang spesial untukmu," kata Samchon sambil menatapku. Apa-apaan ini mereka memang orang kaya, tetapi mereka pikir aku matre ya ... terus-terusan menyuruhku meminta hadiah yang mahal dan besar. "Bukankah sudah aku katakan, untuk saat ini aku tidak memerlukan semua itu, ada Paman dan Oppa di sampingku, itu sudah lebih dari cukup, aku tidak peduli barang-barang mewah, aku hanya cukup tinggal bersama Paman dan Oppa. Aku hanya ingin kalian melindungiku, itu saja." Aku berkata sambil menatap mereka berdua. Menatap dua orang Pria yang sudah membuat hatiku sangat bahagia. Dua orang pria sangat mirip tetapi dengan usia yang berbeda. Aku sungguh bahagia melihat mereka berdua bersama. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, di sebelah kiri ada Paman dan di sebelah kanan ada Oppa, mereka mirip. Ya Tuhan aku tidak menyangka mereka bagai pinang dibelah dua. "Ada apa di Ji So? Kenapa kamu tiba-tiba saja tersenyum seperti itu, apakah ada yang kamu pikirkan tentang hadiah?" tanya Samchon kepadaku, aku memang berlaga sedikit aneh senyum-senyum sendiri di hadapan mereka berdua. "Maafkan aku Samchon, aku menertawakan kalian berdua," kataku sambil sedikit tersenyum. "Memangnya apa yang kamu tertawakan dari kami?" Paman mencoba tersenyum ke arahku aku pun langsung membalas senyuman manis itu. "Karena aku senang melihat kalian berdua duduk bersanding dengan seperti itu, kalian sangat mirip. Aku tidak menyangka bahwa kemiripan kalian benar-benar bagai Pinang dibelah dua, bagaikan sebuah cermin saja, tetapi versi tua dan muda. Aku benar-benar merasa senang kalian benar-benar mirip, Karena itulah aku tertawa. Maafkan aku Samchon aku bukan bermaksud mengejekmu, atau mengejek Oppa," aku menuturkan semua perasaanku dan Paman, tetapi Yun Ja Oppa ternyata malah tertawa. "Kami memang sangat mirip, tetapi bukan cuma aku yang mirip di sini, anehnya kamu pun mirip dengan Aboeji," kata Yun Ja Oppa sambil menatap ke arahku dengan senyumannya. "Mungkin karena aku dan Samchon masih ada hubungan darah, Aboeji dan Samchon bukankah bersaudara. Jadi wajar saja jika aku sedikit mirip Samchon," Aku menjawab pertanyaan dari Yun Ja Oppa dengan senyum manis. "Benar sekali, memang kita masih ada hubungan saudara. Karena itulah kita ada kemiripan, benar kan Aboeji?" ucap Yun Ja Oppa sambil menatap Paman Soo. Pria itu tidak berkata apapun ketika kami membahas soal kemiripan. Samchon hanya tersenyum menatap ke arahku lalu menatap ke arah Oppa. "Coba Ji So, duduknya di sini! Aku ingin melihat kamu dan Aboeji bersanding," pinta Yun Ja Oppa kepadaku, aku pun tersenyum dan langsung duduk di samping Paman. "Daebak! Kalian benar-benar mirip. Iya mirip tetapi yang satu versi perempuan yang satu versi laki-laki. Aku tidak menyangka ada seseorang yang mirip Ayah selain aku, jangan-jangan Ji Soo adalah anaknya Ayah juga," sahut Yun Ja Oppa sambil tersenyum menatap kearahku selalu menatap ke arah Paman Soo. "Jangan bercanda seperti itu, apa Mana mungkin itu terjadi, aku punya Ayah aku pun punya ibu. Aboeji dan Eomoeni kita berbeda." Aku terkekeh menertawakan ucapan dari Yun Ja Oppa. Mana mungkin aku adalah putri dari Paman Soo, sedangkan aku sendiri punya seorang Ayah yang sangat aku cintai. "Tapi kalau hanya Paman dan keponakan, apa mungkin bisa semirip ini?" Pemuda tampan itu berkata dengan pelan sambil menggaruk kepalanya. Sepertinya dia merasa kebingungan melihat wajahku dan Paman begitu mirip. Aku merasa ini wajar saja, karena Paman adalah Paman kandungku. Kakak dari Ayahku. Jadi wajar kalau aku mirip dengan Paman karena Ayah dan Paman juga mirip. "Tidak usah mempermasalahkan hal itu, kita semua mempunyai darah yang sama, darah dari Haraboeji kalian," kata Paman Soo sambil meneguk minuman yang ada di hadapannya. Paman terlihat santai, tetapi itu terlalu santai menurutku. Sudahlah untuk apa aku pikirkan semua itu. Aku memang sangat mirip Paman, tidak apa-apa itu mungkin Anugerah karena beliau begitu tampan, akhirnya aku memiliki kemiripan dari keluarga besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN