Penyesalan Melawati

1512 Kata

Dafa menggeleng pelan, helai rambutnya bergoyang samar, mengikuti irama angin yang menyelinap dari celah jendela. Sorot matanya menyimpan kedalaman lautan rahasia, ombak perasaannya bergulung-gulung, seolah mencari tempat berlabuh. "Nasib manusia beda-beda, Ma," suaranya lirih, namun terbungkus ketegasan yang sulit digoyahkan. "Lagi pula, sudah tidak suci atau masih suci bukan patokan kebahagiaan rumah tangga seseorang." Di balik suaranya yang tenang, ada kepedihan yang menggerogoti hatinya. Luka yang tak terlihat, namun terasa begitu nyata. Kenangan-kenangan pahit tentang Dara, tentang ketidakberdayaannya menyelamatkan gadis itu dari jurang kejam takdir, berkelebat dalam benaknya. "Dara juga tidak mau nasibnya seperti itu. Tidak ada yang bisa menyalahkan dia. Bukan ingin dia jadi korba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN