Waktu sudah menunjuk angka sepuluh pagi. Matahari mulai meninggi, membentangkan sinarnya di atas cakrawala, menghangatkan permukaan bumi yang sejak tadi masih dingin oleh embusan angin pagi. Dara duduk diam di dalam mobil, menatap jendela yang mulai berembun oleh napasnya sendiri. Hatinya bergemuruh, bercampur antara lega dan cemas. "Terima kasih, sudah mengantar saya pulang, Mas Fahri," ucapnya, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan. Fahri menoleh padanya, matanya menelisik ekspresi Dara yang masih menyimpan kebimbangan. "Jangan kabur lagi, ya. Kasihan Daffa. Mencarimu sampai putus asa begitu." Dara mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil dengan hati-hati. Angin berembus melewati helaian rambutnya saat ia menghela napas panjang, seolah mencoba melepaskan kegelisahan yang menum

